JAKARTA, HETANEWS.com - Ketua DPR Puan Maharani menyampaikan pidato ilmiah usai menerima anugerah Doktor Honoris Causa (Dr Hc) dari Pukyong National University (PKNU). Puan bicara soal upaya mewujudkan Indonesia Emas 2045.

"Sejak merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945, bangsa Indonesia terus mengalami kemajuan di hampir semua aspek kehidupan. Namun demikian, masih terdapat sejumlah permasalahan dan tantangan yang masih dihadapi bangsa Indonesia untuk mewujudkan Indonesia Emas pada tahun 2045," kata Puan di PKNU, Busan, Senin (7/11/2022).

Puan menjabarkan masalah dan tantangan tersebut antara lain: Pertama, pertumbuhan ekonomi yang melambat; kedua, disparitas pembangunan antar wilayah; ketiga, pemanfaatan 'Bonus Demografi' yang belum optimal; keempat, kapasitas inovasi, daya saing, dan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia yang masih perlu ditingkatkan. Puan mengatakan untuk mengatasi segenap permasalahan dan tantangan pembangunan tersebut, demi menghindari jebakan negara berpendapatan menengah (middle-income trap), dan mewujudkan Indonesia Emas paling lambat pada tahun 2045, maka ada beberapa agenda strategis yang perlu diperkuat.

"Beberapa agenda strategis ke depan yang perlu diperkuat dan dipertajam untuk mempercepat kemajuan Indonesia, yaitu: pembangunan kualitas dan karakter nasional manusia Indonesia; pembangunan kedaulatan pangan nasional; penguatan industri nasional; pemerataan pembangunan infrastruktur; serta reformasi birokrasi yang nyata," tutur Puan.

Prioritas pada agenda Pembangunan Manusia Indonesia, dia melanjutkan, diarahkan pada upaya meningkatnya kualitas Sumber Daya Manusia yang meliputi akhlak, knowledge, skills, expertise, dan etos kerja, serta kapasitas IPTEK dan inovasi bangsa melalui perbaikan kinerja sektor kesehatan, pendidikan, penelitian dan pengembangan. Hal ini, masih kata Puan, sangat penting, karena pemulihan ekonomi dan transformasi struktural ekonomi hanya akan berhasil jika didukung oleh Sumber Daya Manusia yang berkualitas serta kapasitas IPTEK dan inovasi yang mumpuni.

"Penguatan dan pengembangan industri manufaktur (hilirisasi) tidak hanya mencakup industri yang padat teknologi dan modal, tetapi, juga jenis-jenis industri manufaktur yang dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, seperti pertanian, kehutanan, perkebunan, tanaman pangan, hortikultur, peternakan, perikanan, farmasi, dan energi baru dan terbarukan," ujar politisi PDIP ini.

"Proses penguatan pembangunan ekonomi dan transformasi struktural ekonomi sebagaimana saya deskripsikan di atas akan berhasil, apabila didukung iklim investasi dan kemudahan berbisnis (ease of doing business) yang kondusif. Hal ini perlu ditopang oleh kinerja reformasi birokrasi yang optimal," sambung Puan.