SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Setelah dilaporkan ke Jaksa atas raibnya 29 pohon Mahoni dijalan lintas Siantar-Asahan atau tepatnya di depan kompleks Meranti Land, akhirnya pihak Kejaksaan mulai melakukan pemeriksaan.

Laporan pengaduan tersebut segera ditindaklanjuti dengan pubaket/ puldata juga memanggil sejumlah pihak terkait.

Hal itu dikatakan Kasi Pidsus Kejari Simalungun M Kenan Lubis kepada hetanews.com, Jumat (4/11/2022) di kantornya.

"Setelah menerima laporan tersebut, kami akan segera melakukan pemanggilan terhadap sejumlah pihak terkait," jelasnya.

Sebagaimana diberitakan sebelumny oleh berbagai media cetak dan online, jika sebanyak 29 batang pohon mahoni ditebang OTK. Diduga dilakukan oknum yang tidak bertanggungjawab atau patut diduga agar kompleks Meranti Land bisa terbuka.

Sehingga perumahan elit tersebut dapat terlihat lebih bagus tanpa penghalang pohon mahoni yang berada tepat di kompleks tersebut.

Anehnya, sejumlah pohon yang ditebang tepat di depan kawasan perumahan elit tersebut. Sedangkan pohon lainnya masih kukuh berdiri yang diperkirakan sudah berusia 30 tahun lebih.

Kenan juga menjelaskan, jika sebelumnya sudah ada pertemuan dengan pihak terkait sebagai pemilik atau pihak yang paling berwenang atas pohon mahoni tersebut. Antara lain, Lingkungan Hidup Provsu, Pemkab c/q Dinas PU, Camat, Kepolisian dan Kejaksaan.

Agar raibnya pohon tersebut segera diusut tuntas. Bahkan Kenan juga menjelaskan, jika sebelumnya ada permohonan ijin penebangan oleh oknum wartawan. Tapi ijin tersebut belum disetujui oleh pihak terkait.

"Untuk itu, berdasarkan laporan yang sudah kami terima maka akan segera kita periksa sejumlah oknum terkait dalam penebangan tersebut," kata Kenan.

Pohon mahoni yang ditanam Dinas PU tersebut bermanfaat sebagai taman hijau atau jalur hijau. Sebagai jalur hijau dan merupakan paru paru kota untuk mencegah pencemaran dan mengurangi polusi udara. Pohon tersebut juga menjadi pelindung bagi masyarakat dari pencemaran udara.

Penebangan tersebut mengakibatkan rusaknya lingkungan sebagaimana diatur dalam pasal 98 ayat (1) UU No 32/2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.

Penebangan diduga terjadi pada Minggu, 18 September 2022 lalu. Sebagaimana pengakuan beberapa warga, penebangan dilakukan malam hari dan diangkut menggunakan mobil truk juga pickup Mitsubishi.