JAKARTA, HETANEWS.com - Penasihat hukum terdakwa Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria mencecar saksi yang juga pemilik usaha CCTV Tjong Djiu Fung alias Afung terkait keterlibatannya dalam kasus KM 50.

Afung mengaku kenal dengan AKBP Ari Cahya Nugraha alias Acay sejak 2011 silam dan kerap diminta untuk mengganti CCTV oleh Acay.

Diketahui, dalam dakwaan Acay disebut sebagai salah satu tim CCTV KM 50. Kala itu Ferdy Sambo menjabat sebagai Kadiv Propam Polri.

Mulanya, penasihat hukum menanyakan terkait perkenalan Afung dengan Acay. Afung mengaku lebih dulu mengenal Acay ketimbang terdakwa Irfan Widyanto.

"Duluan mana kenal Pak Ari Cahya dengan Irfan?" tanya penasihat hukum

"Pak Ari Cahya," jawab Afung.

Kemudian penasihat hukum bertanya kepada Afung mengenai hubungan kerja antar keduanya.

"Pernah bapak dipakai jasanya oleh Pak Ari Cahya?," tanya penasihat hukum

"Ada karena saya sudah melakukan perbaikan pemasangan di kantornya dan dia juga sempat konsultasi masalah CCTV ke saya," jawab Afung.

Tak puas, penasihat hukum lantas menanyakan ihwal CCTV KM 50 kepada Afung. Namun, Afung mengaku tidak mengetahui terkait hal itu.

"Apakah bapak pernah dipakai jasanya untuk mengganti CCTV di KM 50?" tanya penasihat hukum

"Tidak. Saya tidak mengetahui itu," tegas Afung.

Sebelumnya, Hendra Kurniawan dan Agus Nurpatria didakwa telah melakukan obstruction of justice atau perintangan proses hukum dalam penanganan kasus pembunuhan berencana Brigadir J.

Tindak pidana dilakukan keduanya bersama-sama dengan Ferdy Sambo, AKBP Arif Rachman Arifin, Kompol Chuck Putranto, Kompol Baiquni Wibowo, dan AKP Irfan Widyanto.

Dalam dakwaannya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengatakan Hendra telah memerintahkan bawahannya untuk melakukan penyisiran terhadap CCTV vital di sekitar Rumah Dinas Sambo yang merupakan TKP pembunuhan berencana Brigadir J.

Hendra juga meminta agar bawahannya mempercayai skenario Sambo meskipun bukti CCTV di kasus pembunuhan Brigadir J menunjukkan sebaliknya.

Sementara itu, Agus menjadi koordinator lapangan yang bertugas menyisir CCTV vital di sekitar lokasi pembunuhan Brigadir J.

Kemudian, dia juga meminta saksi Irfan Widyanto untuk mengambil dan mengganti tiga DVR CCTV di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan.

Atas perbuatannya tersebut, Hendra dan Agus didakwa melanggar Pasal 49 juncto Pasal 33 subsider Pasal 48 ayat (1) juncto Pasal 32 ayat (1) UU ITE Nomor 19 Tahun 2016 dan/atau Pasal 233 KUHP subsider Pasal 221 ayat (1) ke 2 juncto Pasal 55 KUHP.

Sumber: cnnindonesia.com