JAKARTA, HETANEWS.com - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menemukan intimidasi terhadap masyarakat Papua dalam Kasus Paniai.

Intimidasi ini dijelaskan oleh Kepala Divisi Pemantauan Impunitas KontraS, Tioria Pretty Stephanie masih menjadi permasalahan yang tidak ditangani di luar persidangan. Intimidasi ini, ujar Pretty, menyasar mahasiswa Papua di Makassar. Sedangkan pelakunya ialah aparat keamanan.

Pretty menceritakan satu kejadian pada 20 September 2022 kemarin, sehari sebelum Pengadilan Painai digelar. Tampak lima orang dengan pakaian biasa dan satu orang berpakaian polisi mendatangi rumah kontrakan mahasiswa Papua.

"Malah intimidasi di mana sehari sebelum sidang Pengadilan HAM Paniai ini digelar, Selasa, 20 September 2022 pukul 13.30 WITA," jelas Pretty kepada awak media, di kawasan Jakarta Pusat, Kamis (03/11/2022).

"Lima orang dengan pakaian biasa dan satu orang dengan seragam polisi diduga pihak Intel Polresta Makassar meneror dan mengintimidasi dengan mendatangi rumah kontrakan mahasiswa Papua, khusunya mahasiswa asal Paniai," tambahnya.

Keenam orang ini menanyakan apakah para mahasiswa bakal melakukan aksi terkait Pengadilan Painai. Pun mereka juga mereka berjaga di depan pintu masuk rumah kontrakan mahasiswa.

KontraS mempertanyakan tindakan yang dilakukan oleh pihak keamanan kepada para mahasiswa Papua ini. Mereka pun merasa janggal atas tindakan tersebut.

"Kami melihat ada kejanggalan. Intimidasi terhadap mahasis Papua di Makassar, kita pertanyakan kenapa harus terjadi," tegas Pretty.

Saat ini, Kamis (03/10/2022) sidang Paniai masuk dalam agenda pemeriksaan terdakwa di Pengadilan Negeri Makassar. Untuk diketahui, tragedi Paniai terjadi pada 7-8 Desember 2014.

Sebanyak empat orang warga tewas ditembak dan 21 lainnya terluka ketika warga melakukan aksi protes terkait pengeroyokan aparat TNI terhadap kelompok pemuda sehari sebelumnya. Beberapa pekan setelahnya, Presiden Joko Widodo berjanji akan menyelesaikan kasus tersebut.

Selang beberapa tahun setelahnya, tepatnya pada Februari 2020, Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menetapkan perisitiwa Paniai sebagai kasus pelanggaran HAM berat.

Dalam peristiwa itu, Komnas HAM mencatat empat orang tewas terkena peluru panas dan luka tusuk. Sementara itu, 21 orang lainnya terluka karena penganiayaan.

Sumber: tribunnews.com