JAKARTA, HETANEWS.com - Menteri Keuangan Sri Mulyani menyebutkan tidak mudah menyusun APBN 2023 di tengah situasi perekonomian dunia yang bergejolak.

Ia menuturkan banyak perubahan yang terjadi di tengah jalan akibat situasi yang tak menentu dan datang tiba-tiba. APBN 2023 yang awalnya disusun hanya mempertimbangkan covid-19, kemudian dihadapkan dengan perang Rusia-Ukraina.

Ketegangan antar dua negara tersebut menyebabkan berbagai krisis seperti pangan, energi dan keuangan yang menyebabkan harga minyak, pangan naik tajam. Bahkan beberapa negara mengalami krisis utang akibat kondisi ini.

"Pak Febrio dan kawan-kawan membuat KEM PPKF pada Februari tahun ini untuk APBN 2023. Februari itu perang Rusia-Ukraina belum terjadi, omicron masih tinggi, harga minyak masih di bawah sekitar US$60. Harga CPO masih US$700-US$800, ekonomi masih menderu-deru," ujarnya dalam Bincang APBN 2023, Jumat (28/10).

"Tapi begitu KEM PPKF dibahas kabinet dan dibawa ke DPR, perang pecah, harga komoditas ekstrem naik dan itu menimbulkan disrupsi supply yang menyebabkan proyeksi harga komoditas jadi sulit," imbuhnya.

Kondisi tersebut membuat inflasi melonjak tajam dan memecahkan rekor tertinggi di banyak negara. Hal ini dikarenakan harga melonjak tajam, terutama minyak.

Inflasi yang melonjak menyebabkan bank sentral harus menempuh kebijakan menaikkan suku bunga. Contohnya, Bank Indonesia menaikkan suku bunga tiga bulan berturut-turut. Agustus 25 bps, lalu September 50 bps dan Oktober 50 bps.

"Kalau harga naik terlalu ekstrem, inflasi juga naik, maka moneter masuk dengan suku bunga. Kalau harganya ekstrem, suku bunga naiknya ekstrem. Jadi ini situasi sulit yang harus kita lihat terus dalam menyusun APBN 2023. APBN 2023 harus ditetapkan meski dengan asumsi yang bahkan menghadapi very dynamic," pungkasnya.

Sumber: cnnindonesia.com