DEPOK, HETANEWS.com - Menjawab pertanyaan tersebut, Mr. Chan Chun Sing mengatakan bahwa penyelesaian terbaik untuk sistem pendidikan saat ini, terutama di Indonesia, adalah melalui riset. Pemahaman terkait pendidikan di suatu daerah dapat mendukung evaluasi apakah sistem pendidikan yang diterapkan sudah baik dari segi kualitas. Evaluasi ini penting karena dunia pekerjaan pada era sekarang sangat variatif dan berbeda dengan kondisi pada generasi sebelumnya.

“Langkah terbaik yang dapat dilakukan sebagai mahasiswa maupun pekerja adalah dengan belajar sebanyak mungkin dan tidak terpaku pada satu subject atau satu keahlian saja. Kita harus terus berkembang dan berpikir ke depan dalam pemecahan masalah yang mungkin akan dihadapi di masa depan,” ujar Chan Chun Sing.

“Saya dulu adalah siswa dari Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia. Di Indonesia, siswa SMA dibagi dalam dua peminatan, yaitu kelas Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dan Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Menurut Bapak, apakah sistem pendidikan seperti ini sudah baik?” tanya Zahwa, mahasiswa Program Sarjana, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) kepada Menteri Pendidikan Republik Singapura, Chan Chun Sing, saat berkunjung ke FISIP UI, Rabu (19/10) lalu.

Pada kesempatan itu, ia membagi pengalamannya saat pertama berkunjung ke Indonesia 13 tahun lalu. Saat itu, ia merupakan salah seorang peserta pertukaran mahasiswa. Ia berpendapat bahwa Indonesia adalah negara yang besar jika dibandingkan dengan Singapura. Keduanya memiliki kedekatan sebagai negara tetangga dan telah menjalin banyak kerja sama. Ia berharap Indonesia dan Singapura dapat berkembang bersama dan generasi berikutnya memiliki peluang lebih besar untuk kehidupan yang lebih baik.

Menteri Pendidikan Republik Singapura itu kemudian memberikan perspektifnya seputar pengajaran. Di dunia pendidikan, pengajar biasanya mencari tahu kemampuan siswa berdasarkan jenjang usia mereka. Jika dilihat dari perspektif pengajaran, range kemampuan siswa kemungkinan akan sama. Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, hal ini tidak dapat dijadikan acuan. Beragamnya mata pelajaran membuat seseorang harus memiliki strategi yang berbeda dalam melakukan pengajaran atau belajar.

“Guru saya selalu memasangkan siswa yang pintar matematika dengan siswa yang kurang mahir matematika karena sebagai siswa yang lebih paham matematika adalah tanggung jawab mereka untuk mengajarkannya kepada orang lain. Hal ini yang sekiranya dapat dicontoh dalam proses belajar ataupun mengajar. Dari acara bincang bersama ini, kita dapat berbagi perspektif karena saya percaya UI adalah salah satu universitas prestisius yang diisi oleh anak-anak muda terbaik Indonesia,” kata Chan Chun Sing.Dekan FISIP UI, Prof. Dr. Semiarto Aji Purwanto, mengatakan, kedatangan Menteri Pendidikan Republik Singapura ke FISIP UI merupakan suatu kehormatan. Acara bincang bersama yang diadakan di Auditorium Mochtar Riady SPRC, FISIP UI ini diharapkan dapat menggugah pemikiran mahasiswa untuk maju dan tanggap terhadap upaya pemecahan isu sosial yang ada di masyarakat.

“Kami memiliki 53 mahasiswa perwakilan sarjana dan pascasarjana yang berasal dari 7 departemen yang hadir dalam acara ini. Kami siap untuk memulai riset baru sebagai tindak lanjut dari isu-isu sosial dan pendidikan yang kita diskusikan hari ini,” ujar Prof. Aji.

Dalam kunjungan ini, Menteri Chan Chun Sing didampingi Duta Besar Republik Singapura untuk Indonesia, H. E. Kwok Fook Seng; Deputy Secretary for Higher Education and Skills, Melissa Khoo, dan para delegasi. Dialog ini juga dihadiri oleh Wakil Dekan Bidang Pendidikan, Riset, dan Hubungan Mahasiswa, Nurul Isnaeni, Ph.D.; Wakil Dekan Bidang Sumber Daya, Keuangan, dan Administrasi Umum, Dr. Jajang Gunawijaya; Sekretaris Fakultas, Dwi Ardhanariswari Sundrijo, Ph.D.; serta jajaran dan staf akademik FISIP UI.

Acara ditutup dengan pidato apresiasi dari salah seorang mahasiswa FISIP UI, Hendri Joveto, yang menyampaikan harapannya agar Indonesia dan Singapura dapat membangun pendidikan yang merata dan terjangkau. Membangun pendidikan yang adil dan manusiawi adalah kunci pengembangan lebih lanjut dari kedua negara. Untuk memajukan pendidikan dunia, mahasiswa siap terlibat di dalamnya.