HETANEWS.com-Resesi disebut-sebut akan kembali mewarnai ekonomi dunia pada tahun depan. Perekonomian global dihadapkan pada ancaman inflasi dan stagflasi yang dapat menurunkan daya beli hingga meningkatkan angka pengangguran. Situasi ini disebut bisa membuat ekonomi tahun depan akan lebih gelap.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan risiko ini disebabkan oleh kenaikan biaya dana (cost of fund) dan gagal bayar (default) di banyak negara yang sudah dalam posisi exposure utangnya cukup besar. Hal ini juga menjadi pembahasan pada pertemuan G20 mengenai global financial net di Washington DC beberapa waktu lalu.

"Seberapa banyak negara yang akan masuk ke dalam krisis default yang kemudian muncul ke dalam bentuk krisis ekonomi?" ujar Sri Mulyani dalam seminar nasional di Gedung DPR RI, Rabu (19/10).

Menurut dia, kondisi tersebut kian rumit. Apalagi kondisi ekonomi global menjadi luar biasa kompleks di mana inflasi dan resesi yang tinggi telah mengakibatkan stagflasi. Sementara itu, ruang kebijakan fiskal dan moneter di banyak negara sudah hampir habis karena dipakai dalam krisis keuangan 2008 hingga 2009 dan dipakai lagi untuk mengatasi pandemi.

"Ini adalah konteks yang sedang dan akan terus kita kelola hari ini dan tahun 2023. Bahkan kemarin pembahasan persoalan kompleks ini akan berlanjut ke 2024," ungkapnya.