HETANEWS.com - Salami slicing atau publikasi salami merupakan kegiatan membagi penelitian menjadi beberapa publikasi penelitian. Salami slicing biasanya digunakan untuk menambah jumlah publikasi penelitian sehingga berdampak pada percepatan sitasi.

Guna menambah pengetahuan dan wawasan tentang etika salami slicing, serta menggali lebih dalam tentang peran berbagai pemangku kepentingan dalam lingkup salami slicing, Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) menyelenggarakan Webinar Internasional ke-3 dengan tema: “Salami Slicing in Publication to Support Research's Ethics”. Webinar tersebut mengundang tiga narasumber, yaitu Professor in Department of Library Science & Information, Faculty of Arts and Social Sciences, Universiti Malaya, Malaysia, Prof. Dr. Abrizah Binti Abdullah; Assistant Professor in Department Library and Information Science, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) UI, Rahmi, Ph.D; dan Senior Clinical and Research Specialist, Elsevier Health, Spain, Ximena Alvira, MD, Ph.D.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan UI, Prof. Dr. rer. nat. Abdul Haris, M.Sc. memberikan dukungan pada webinar internasional yang diselenggarakan dengan sembilan topik berbeda. “Banyaknya penelitian akan meningkatkan peringkat universitas, baik dalam skala lokal maupun global. Penelitian juga berkontribusi untuk mencapai tujuan SDGs di poin empat, yaitu pendidikan berkualitas. Dengan menambah pengetahuan dan wawasan tentang etika salami slicing, serta menggali lebih dalam tentang peran berbagai pemangku kepentingan dalam lingkup salami slicing, diharapkan melalui webinar ini dapat memberikan pengetahuan yang bermanfaat terkait etika penelitian dan menghasilkan kolaborasi dalam publikasi penelitian,” ujar Prof. Haris.

Menurut Kepala UPT Perpustakaan UI, Mariyah, M.Hum., mengatakan “Perguruan tinggi memiliki peran besar dalam melakukan penelitian, baik yang diterbitkan dalam repositori internal maupun diterbitkan dalam bentuk lain, seperti buku dan jurnal. Kami berharap pustakawan dapat aktif dan kolaboratif dalam penelitian. Target dari kegiatan ini adalah implementasi dari publikasi salami berdasarkan etik dalam lingkup penelitian,” kata Mariyah.

Dalam kesempatan tersebut, Professor in Department of Library Science & Information, Faculty of Arts and Social Sciences, Universiti Malaya, Prof. Dr. Abrizah Binti Abdullah memaparkan materi berjudul "Fostering Responsible Research: Say "No" to Salami Slicing" terkait pemahaman etika publikasi dalam satu kategori pelanggaran publikasi dalam bentuk salami slicing seperti plagiarisme dengan menjelaskan bentuk dan pencegahannya. “Terkadang pelanggaran etika bisa disengaja atau bisa muncul hanya karena ketidaktahuan. Penulis tidak boleh mengiris satu artikel menjadi beberapa artikel yang sangat mirip, untuk mendapatkan daftar publikasi yang lebih panjang. Perilaku yang tidak dapat diterima jika hipotesis, populasi, dan metodenya sama dan/atau jika setidaknya satu metode penelitiannya sama. Itu dianggap sebagai praktik publikasi yang buruk. Peneliti memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa publikasi mereka jujur, jelas, akurat, lengkap dan berimbang, dan harus menghindari pelaporan yang menyesatkan, selektif, atau ambigu,” ujar Prof. Dr. Abrizah.

Narasumber berikutnya dari FIB Universitas Indonesia, Rahmi, Ph.D., menambahkan, "Salami slicing atau publikasi salami biasanya mengacu pada pengiriman manuskrip yang berbeda dan diambil dari data yang dikumpulkan dari studi penelitian tunggal atau periode pengumpulan data tunggal. Membagi penelitian menjadi makalah yang lebih kecil dianggap sebagai praktik yang buruk karena pembaca mungkin tidak memahami pentingnya pekerjaan jika hasilnya dipublikasikan di beberapa makalah; pembaca yang mengakses hanya satu makalah dapat salah menafsirkan temuan; dan itu membuang-buang waktu," ujar Rahmi dalam pemaparan materinya yang berjudul "Salami slicing, and the issue of transparency".

Terkait penerbitan, Senior Clinical and Research Specialist, Elsevier Health, Spain, Ximena Alvira, MD, PhD., dalam materinya yang berjudul "Rushing to publish. The other pandemic" menyebutkan, "Mempromosikan budaya penelitian tidak selalu membutuhkan upaya dan sumber daya yang besar dan beberapa perubahan dapat diterapkan seperti memfasilitasi diskusi terbuka; menyediakan dan mempromosikan konseling karir, pembinaan serta dukungan; dan lain-lain. Cara utama untuk menghindari kesalahan penelitian adalah dengan melatih praktik penelitian yang baik.”