JAKARTA, HETANEWS.com-

Pada perdagangan Selasa, 11 Oktober 2022 Rupiah ditutup melemah 39 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 50 poin di level Rp 15.357. Sedangkan, pada penutupan perdagangan sebelumnya Rupiah berada di posisi 15.318.

Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan, Rupiah berpotensi melemah pada perdagangan Rabu, 12 Oktober 2022.

Mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 15.350 hingga Rp 15.400,” kata Ibrahim dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (12/10/2022).

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia memberi peringatan risiko resesi global akan meningkat. Di mana inflasi tetap menjadi masalah berkelanjutan setelah operasi khusus Rusia ke Ukraina.

“Perlambatan pertumbuhan di negara-negara maju dan Depresiasi mata uang di banyak negara berkembang, serta kekhawatiran inflasi yang sedang berlangsun,” jelas Ibrahim.

Kondisi tersebut memaksa Federal Reserve (The Fed) untuk terus menaikkan suku bunga serta menambah tekanan utang pada negara-negara berkembang.

Di Amerika Serikat, ekonomi terbesar di dunia, pasar tenaga kerja masih sangat kuat tetapi kehilangan momentum karena dampak dari biaya pinjaman yang lebih tinggi.

Roda perekonomian di wilayah Eropa melambat karena harga gas alam melonjak. Sementara itu, perlambatan ekonomi China juga terjadi karena kebijakan zero covid policy dan volatilitas di sektor perumahan.

IMF menghitung sekitar sepertiga dari ekonomi dunia akan mengalami kontraksi setidaknya dua kuartal berturut-turut tahun ini dan tahun depan.

Perlambatan pertumbuhan di negara-negara maju, kenaikan suku bunga, risiko iklim dan berlanjutnya harga pangan dan energi yang tinggi sangat memukul negara-negara berkembang, termasuk Indonesia yang bisa saja akan terkena imbasnya.

Walaupun saat ini Produk Domestik Bruto (PDB) 2022 masih relatif bagus namun bisa saja PDB di tahun 2023 akan melambat.

Oleh karena itu, IMF dan Bank Dunia sebagai stakeholder harus mengadvokasi bank-bank sentral melanjutkan upaya untuk menahan inflasi, meskipun berdampak negatif pada pertumbuhan.

Langkah-langkah fiskal harus ditargetkan dengan baik untuk memastikan mereka tidak menambahkan lebih banyak bahan bakar ke api inflasi.

Dolar AS naik pada Selasa dengan investor khawatir tentang kenaikan suku bunga dan eskalasi dalam perang Ukraina, sementara imbal hasil Treasury melonjak karena keruntuhan yang mengerikan di pasar obligasi Inggris memantul di sekitar pasar obligasi global.

Imbal hasil Treasury melonjak ketika perdagangan dilanjutkan setelah liburan AS Senin, dengan imbal hasil 30-tahun naik 11 basis poin ke level tertinggi hampir sembilan tahun di 3,956 persen.

Obligasi secara global telah tergeser oleh kekalahan emas, di tengah kekhawatiran dana pensiun dipaksa menjadi api penjualan dan janji Inggris lebih detail pajak dan tindakan darurat tambahan dari Bank of England telah berbuat banyak untuk membendung penjualan.

Latar belakang, sementara itu, adalah suku bunga yang semakin tinggi dan kegelisahan menjelang rilis data inflasi AS Kamis yang dapat mengatur panggung untuk kenaikan besar lainnya dari Federal Reserve pada November.

Harga berjangka menunjukkan pedagang diposisikan untuk sekitar 90 persen peluang kenaikan Fed 75 basis poin bulan depan dan untuk suku bunga dana Fed mencapai 4,5 persen pada Februari dan tetap di sana sebagian besar tahun 2023.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian melemah. Pada sesi perdagangan di pasar spot, Selasa (11/10/2022), kurs rupiah dibuka pada level Rp 15.331 per dolar AS, terDepresiasi dibanding posisi penutupan sebelumnya, Rp 15.318 per dolar AS.

Namun, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, nilai tukar rupiah saat ini masih lebih baik dibanding mata uang negara lainnya.

"Rupiah terdepresiasi 6,5 persen. Namun banyak negara lebih rendah dari kita," ujar dia dalam acara Investor Daily Summit 2022 di Jakarta Convention Center, Selasa (11/10/2022).

Adapun menurut catatan Bank Indonesia (BI) per 30 September 2022, nilai tukar rupiah terdepresiasi 6,40 persen secara tahunan (year to date) dibanding level akhir 2021.

Kendati begitu, Airlangga melanjutkan, Indonesia sejauh ini telah menunjukan punya tingkat resiliensi lebih tinggi dari negara lain. Salah satunya terkait angka inflasi tahunan per Agustus 2022 yang mencapai 5,95 persen.

"Dari segi inflasi harus kita lihat, faktor utama di sektor energi dan saat kita sesuaikan harga BBM efeknya 4 bulan. Dari pengalaman di beberapa tahun lalu inflasi akan naik 4 bulan, tapi akan melandai kembali kemudian," bebernya.

Airlangga lantas menyimpulkan, Indonesia terhitung masih lebih tahan banting dari krisis ekonomi yang kini terjadi di tingkat global dibanding banyak negara lain.

"Beberapa lembaga S&P dan lain-lain melihat ekonomi Indonesia relatif stabil di tengah banyak negara ratingnya turun. Ini sekali lagi menunjukkan fundamental ekonomi kuat dan dari keuangan, utang, fiskal dan moneter cukup prudent," tegasnya.