HETANEWS.com - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendeklarasikan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dan Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid sebagai pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden pada Pemilu 2024.

Pengumuman PSI ini berbarengan dengan penetapan Anies Baswedan sebagai capres yang diusung Partai Nasdem. Uniknya, proses deklarasi capres dan cawapres pada Senin (3/10/2022) tersebut, tidak diketahui oleh Ganjar Pranowo maupun Yenny Wahid.

Keduanya juga merasa tidak dihubungi oleh PSI terkait proses pencalonan tersebut. Di sisi lain, PDIP –partai di mana Ganjar bernaung—juga merasa kesal dengan manuver dan tindakan PSI.

Mereka merasa dilangkahi karena kader mereka dideklarasikan secara sepihak tanpa ada komunikasi dengan internal DPP PDIP maupun Megawati Soekarnoputri sekalu ketua umum.

“Ngomonglah sama ketua umum, gitu loh bos,” kata Ketua DPP Bidang Pemenangan Pemilu PDIP, Bambang Wuryanto alias Bambang Pacul.

Senada dengan Bambang Pacul, Sekretaris Jenderal DPP PDIP, Hasto Kristiyanto menyebut, PSI telah bermanuver. Hasto juga mengingatkan kepada PSI agar menaati etika dalam berpolitik sehingga bukan hanya sekadar mengejar efek ekor jas demi menjadikan Ganjar sebagai capres.

“Meski sama-sama mendukung Pak Jokowi sejak 2014, namun dalam praktiknya PSI sering melakukan manuver yang merugikan PDIP,” kata Hasto pada Kamis (6/10/2022).

Hasto menambahkan, “Karena itu jangan rendahkan para calon-calon pemimpin dengan hanya sekadar mengejar efek elektoral.”

Menurut Hasto, Ganjar juga telah menyerahkan sepenuhnya keputusan capres maupun cawapres kepada Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri. Sehingga menurut Hasto, PSI harus menunggu dan menghormati keputusan PDIP.

“Dengan jawaban dari Pak Ganjar itu, seharusnya tata krama dalam berdemokrasi itu dihormati. Karena Pak Ganjar sudah memberikan jawaban yang tegas bahwa beliau adalah kader PDIP,” kata dia.

Respons PSI soal Keberatan PDIP

Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie menegaskan, nama Ganjar muncul dari hasil aspirasi masyarakat yang mereka serap. Grace mengklaim tidak ada maksud dari mereka yang ingin melanggar tata krama dalam berpolitik seperti yang dituduhkan oleh Bambang Pacul maupun Hasto.

“Karena yang kami sampaikan adalah aspirasi masyarakat. Kami tahu bahwa proses di internal partai, Mas Ganjar masih belum selesai dan kami tidak mau ikut campur. Itu bukan ranah kami. Tapi kami wajib menyampaikan aspirasi masyarakat yang sudah kami tampung melalui publik," kata Grace saat dihubungi Tirto.

Grace juga merasa bahwa PSI tidak perlu melakukan silaturahmi ke PDIP perihal penobatan Ganjar sebagai bakal capres. Dirinya khawatir bila harus bertemu ke PDIP akan mempersulit posisi Ganjar sebagai kader PDIP.

“Memang hal itu tidak perlu dilakukan. Karena itu akan mempersulit posisi Mas Ganjar. Oleh karena itu kami tidak komunikasikan secara khusus dengan beliau," ujarnya.

Ia menyebut bahwa mereka telah berusaha menangkap suara publik sejak Februari 2022. Dari upaya mereka, Ganjar selalu mendominasi dan duduk di posisi pertama sebagai capres pilihan.

“Rembuk rakyat sudah dimulai sejak Februari. Hasil selalu stabil. Kalau kami mau egois, seharusnya mencalonkan dari internal sendiri," jelasnya.

Walaupun PSI belum ada di parlemen, dan secara persentase suara tidak mampu mengusung capres, tapi mereka tetap berusaha mengusung pasangan Ganjar-Yenny untuk Pilpres 2024. Bagi PSI, kata dia, usaha terlebih dulu, soal hasil urusan akhir.

“Partai, kan, sejatinya perpanjangan tangan dan penyalur aspirasi rakyat. Sudah sewajarnya keputusan sepenting penentuan capres, harus ditanyakan kepada yang punya mandat, yaitu masyarakat itu sendiri,” kata dia.

PSI di Antara Upaya Mengejar Efek Ekor Jas dan Etika Politik

PSI yang gagal di Pemilu 2019 karena suaranya tidak menembus ambang batas parlemen harus menyusun strategi baru. Setelah memanfaatkan efek ekor jas dari Jokowi pada pemilu sebelumnya, kini nama Ganjar mereka gunakan.

Bahkan menurut Peneliti Pusat Riset Politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Wasisto Raharjo Jati PSI cukup agresif dalam deklarasi nama Ganjar sebagai capres. Seakan tak ingin kalah dengan Nasdem yang juga menetapkan Anies sebagai capres di hari yang sama.

“Saya pikir langkah PSI mendeklarasikan Ganjar Pranowo adalah respons terhadap nominasi Anies oleh Nasdem. Tentunya pergerakan ini juga dimaksudkan agar PSI juga mendapatkan limpahan suara dari pendukung Ganjar Pranowo agar bisa eksis dan kompetitif di Pemilu 2024," kata Wasisto kepada Tirto.

Wasisto menyebut apa yang dilakukan PSI adalah hal yang kurang patut dan meninggalkan fatsun etika politik. Mengingat Ganjar adalah kader PDIP.

Dia mengingatkan, bila PSI terlalu menggebu mengejar Ganjar dapat berakibat fatal. Salah satunya hubungan Ganjar dengan PDIP bisa retak dan berpotensi membuatnya gagal mendapat restu di 2024.

“Nominasi sepihak PSI itu berpotensi menjadi alasan pembenaran beberapa kader PDIP untuk makin kuat mendorong Puan Maharani sebagai capres definitif,” kata Wasisto.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno menyebut wajar bila PDIP geram atas tindakan PSI. Karena selain melanggar etika politik, manuver PSI berpotensi menggeser para pemilih PDIP yang saat ini sebagian besar berada dalam barisan pendukung Ganjar.

“Sepertinya PSI berharap efek ekor jas dengan usung Ganjar. Pemilih Ganjar diharapkan bisa hijrah pilih PSI dengan harapan PSI bisa lolos ke parlemen. Ini bukan perkara mudah karena pemilih Ganjar banyak terafiliasi ke PDIP," jelasnya.

Sumber: tirto.id