HETANEWS.com - Hieroglif Mesir terpecahkan 200 tahun yang lalu, setelah tulisan pada Batu Rosetta akhirnya berhasil ditafsirkan. Namun jauh sebelum itu, para cendekiawan Arab telah melakukan penemuan mereka sendiri terkait tulisan kuno Mesir tersebut.

Jean-François Champollion telah berjuang selama bertahun-tahun memahami hieroglif pada Batu Rosetta, ketika pada suatu sore di bulan September 1822, dia yakin bahwa dia akhirnya berhasil memecahkannya.

Dalam kegembiraannya yang meluap, pria Prancis berusia 31 tahun itu mengumpulkan catatannya, bergegas mencari saudaranya, dan tiba-tiba pingsan.

Penemuan Batu Rosetta di Delta Nil di Rosetta, Rashid modern, sekitar 23 tahun sebelumnya telah membangkitkan minat para cedikiawan di seluruh dunia.

Salah satu letnan Napoleon, seorang insinyur militer bernama Pierre-François-Xavier Bouchard, saat itu sedang memimpin pembongkaran dan rekonstruksi benteng kota pada Juli 1799 ketika benda hitam itu terlihat di bawah puing-puing.

Bouchard segera menyadari bahwa itu adalah sesuatu yang penting, dan membersihkannya sebelum membawanya ke Institut d'Égypte di Kairo untuk pemeriksaan lebih lanjut. Yang mengejutkan, lempengan berat itu menampilkan tiga prasasti, yang masing-masing tampak sangat berbeda.

Satu ditulis dalam bahasa Yunani klasik; satu lagi dalam hieroglif Mesir; dan yang ketiga dalam apa yang dianggap Syriac, tetapi kemudian diidentifikasi sebagai Demotik (aksara Mesir yang digunakan untuk korespondensi sehari-hari).

Seperti dugaan Bouchard, dengan asumsi semua inskripsi memuat hal yang sama, pengetahuan bahasa Yunani dapat digunakan untuk memecahkan kode dua teks lainnya, yang saat itu tidak dapat diuraikan secara keseluruhan.

Prospek itu sangat menarik. Oleh karena itu, batu itu dikirim ke Society of Antiquaries di London di mana salinannya dibuat dan disebarluaskan ke kota-kota dan universitas di seluruh dunia.

Teks Hieroglif, Demotik, dan Yunani Kuno diukir pada Batu Rosetta. BRITISH MUSEUM

Yang asli dipasang di British Museum sebagai warisan Raja George III pada tahun 1802. Lalu berbagai pihak berlomba-lomba untuk menerjemahkan bahasa Yunani dan menggunakannya untuk mengungkap rahasia dari dua bahasa lainnya.

Teks yang terbaca menegaskan bahwa ketiga prasasti itu memang identik isinya dan terkait dengan keputusan yang disahkan oleh dewan imam di Memphis tentang kultus Ptolemy V pada abad ke-2 SM.

Namun, seperti yang ditunjukkan oleh kerangka waktu antara penggalian batu pada tahun 1799 dan momen pencerahan Champollion pada tahun 1822, tantangan pemecahan kode terbukti lebih sulit daripada yang diantisipasi.

Terlebih lagi, bertentangan dengan keyakinannya, Champollion hanya memecahkan sebagian dari teka-teki itu ketika dia melompat dari kursinya dan mengaku telah "Mengerti!"

Apakah Champollion benar-benar pelopor?

Pada bulan Oktober, sebuah pameran akan dibuka di British Museum di London, Inggris, untuk menandai 200 tahun terobosan Champollion dalam menguraikan hieroglif di batu Rosetta.

Seperti yang dijelaskan pada katalog pameran itu, cendekiawan kelahiran Figeac tersebut "merupakan orang yang pertama memahami logika struktural bahasa Mesir kuno dalam berbagai bentuknya".

Imbasnya, dia mendapat reputasi abadi sebagai orang yang memenangkan perlombaan intelektual.

Tapi apakah Champollion benar-benar pelopor seperti yang diyakini banyak orang?

Hampir satu milenium sebelum Batu Rosetta ditemukan, para cendikiawan Arab sudah mulai bergulat dengan hieroglif yang mereka temukan pada monumen-monumen Mesir dan lukisan-lukisan pada makam.

Metode penulisan dengan gambar itu pertama kali dikembangkan sekitar 3250 SM dan dikenal di Mesir sebagai "kata-kata ilahi", yang dalam bahasa Yunani disebut sebagai "hieroglif" atau "ukiran suci".

Meskipun tidak lagi digunakan pada abad ke-5 M, para cendikiawan abad pertengahan ini percaya bahwa tulisan tersebut masih dapat diuraikan, dan rahasia prasasti terungkap.

Pada abad ke-9, seorang alkemis Irak bernama Abu Bakr Ahmad Ibn Wahshiyya mengalihkan perhatiannya untuk menerjemahkan hieroglif dengan harapan menemukan kembali pengetahuan ilmiah yang hilang.

Keyakinan ini, kata Dr Okasha El Daly, peneliti honor senior di Institut Arkeologi di University College London dan kepala akuisisi di Qatar University Press, "tidak terlalu mengada-ada, karena beberapa dinding kuil memiliki teks ilmiah yang berkaitan dengan proses alkimia".

Ibn Al-Nadim, putra seorang penjual buku asal Baghdad di abad ke-10, menulis bawah ia melihat buku catatan Ibn Wahshiyya penuh dengan simbol-simbol.

Ibnu Wahshiyya tidak hanya mampu memahami beberapa hieroglif, tetapi, seperti yang ditunjukkan oleh Al-Nadim, ia tampaknya bekerja dengan konsep – yang kemudian digunakan oleh Champollion – bahwa inskripsi yang dikenal dapat digunakan untuk menguraikan yang belum diketahui.

Terjemahan alfabet hieroglif Mesir Kuno oleh Ibn Wahshiyya pada 985 AD. ALAMY

Metode ini hampir secara bersamaan diambil oleh saingan utama Champollion, Thomas Young.

Digambarkan oleh penulis biografi modernnya sebagai "The Last Man Who Knew Everything", polymath asal Inggris tersebut berkonsentrasi pada aksara Demotik pada batu, dengan menyadari bahwa ini dapat memberikan kunci untuk memahami hieroglif.

Dalam sebuah buku tahun 1814, Young mengungkapkan beberapa karyanya terkait tiga jenis inskripsi pada Batu Rosetta.

Keberhasilannya dalam menguraikan Demotik terbukti sangat bermanfaat bagi Champollion, yang kemudian mengalahkannya dalam kontes untuk memecahkan kode hieroglif yang sesuai.

Akumulasi pengetahuan

Seperti yang dikatakan Dr El Daly kepada BBC Culture, "Kemajuan ilmiah adalah sebuah proses akumulasi. Champollion tidak bekerja dari nol. Dia mulai mempelajari kontribusi sebelumnya. Dia juga tahu bahasa Arab."

Sangat mungkin, memang, bahwa ahli bahasa mengakses manuskrip yang berisi beberapa karya penulis Arab yang telah berusaha menguraikan hieroglif pada milenium berikutnya.

Seorang cendekiawan Barat sebelumnya, Athanasius Kircher dari Jerman, telah melakukan hal ini dan menelisik tulisan-tulisan Arab, biasanya dalam terjemahan, saat melakukan penelitian untuk bukunya sendiri tentang penguraian hieroglif Mesir.

Lebih dari 40 sumber berbahasa Arab disebutkan dalam Oedipus Aegyptiacus karya Kircher pada pertengahan abad ke-17. Pengetahuannya tentang karya Ibnu Wahsyiyah tidak diragukan lagi.

Sayangnya, Champollion gagal mengutip sumbernya dengan cara yang sama, yang berarti bahwa kontribusi para cendekiawan sebelumnya terhadap kesuksesannya sulit untuk dinilai secara mendalam.

Hunayn ibn Ishaq menerjemahkan banyak teks Yunani klasik, termasuk risalah medis dan ilmiah, ke dalam bahasa Arab dan Syriac. ALAMY

Bukan hal yang aneh jika transmisi pengetahuan diselimuti dengan cara seperti ini saat melewati berbagai tangan para ahli Taurat dan cendekiawan di Timur.

Dr Violet Moller, penulis The Map of Knowledge, menjelaskan bahwa cendekiawan Arab yang berperan penting dalam membawa ide-ide dari zaman kuno ke Renaissance (abad pencerahan) terlalu sering diabaikan atau bahkan dihapus dari sejarah.

“Tidak mungkin untuk mengetahui apa motif individu di balik ini."

"Ketika buku-buku kedokteran dari penulis Yunani, Galen, misalnya, diterjemahkan dari bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, direvisi dan diubah secara signifikan oleh seorang pria bernama Hunayn Ibn Ishaq, beberapa cendekiawan Latin menyajikan karya itu sebagai karya Yunani murni.”

“Tidak disebutkan cendekiawan Arab yang menjadi penyalur ilmu,” katanya.

Menurut Moller, “Ada kepercayaan yang lebih luas bahwa orang Yunani memiliki jenis pengetahuan yang lebih tinggi. Ada juga unsur sentimen anti-Islam, hasil antagonisme antara orang Arab dan Kristen pada masa itu."

"Tetapi ada juga seorang cendikiawan Arab dari Afrika Utara yang menerjemahkan teks ke dalam bahasa Latin di Italia dan dia melakukan hal yang sama [dalam mengaburkan kontribusi non-Barat]."

"Mungkin sebagian pragmatis: teks-teks yang didasarkan pada pengetahuan Yunani akan lebih menarik bagi para cendekiawan Eropa."

Ada kemungkinan, meskipun kecil, bahwa di kemudian hari, Champollion menyertakan nama-nama sumber pengetahuan yang ia dapatkan.

Seperti yang dicatat oleh Dr Daly, dia meninggal hanya 10 tahun setelah terobosannya menguraikan bahasa kuno itu, dan mungkin tergoda untuk mengunjungi kembali publikasinya.

Jika dia benar melakukan itu, selain Ibn Wahshiyah, bibliografinya mungkin akan memuat nama Athanasius Kircher. Orang Jerman tersebut telah membuka jalan penting bagi para cedikiawan Barat lainnya untuk menelusuri pengetahuan Arab sebelumnya.

Kircher juga menjelaskan bahwa menguasai bahasa Koptik adalah kunci untuk menguasai hieroglif. Koptik adalah aksara Mesir akhir yang menggabungkan 24 huruf Yunani dengan tujuh huruf Demotik Mesir dan sering digunakan dalam konteks akademis.

Seorang cendikiawan Mesir dari abad ke-13 bernama al-Idrisi termasuk di antara mereka yang telah menarik benang merah antara skrip ini dan hieroglif.

Beberapa manuskrip Arab dari periode yang sama dengan karya al-Idrisi memang menampilkan panduan tata bahasa Koptik dan beberapa di antaranya diperkenalkan ke Barat.

Kircher menyelidiki hubungan antara dua skrip itu lebih lanjut dengan memetakan simbol hieroglif tertentu pada huruf Koptik. Dalam prosesnya, dia mengkonfirmasi hipotesis para cendekiawan Arab sebelumnya bahwa beberapa hieroglif memiliki makna fonetis.

Champollion, mengikuti jalan yang sama, awalnya mengecilkan elemen fonetik dari naskah. Pikiran pertamanya adalah bahwa hieroglif mewakili suara terutama ketika mereka digunakan untuk menulis nama-nama non-Mesir.

Kemudian, setelah pingsan, dia menyadari bahwa fonetik sebenarnya merupakan komponen utama dari naskah dan dapat digunakan untuk menunjukkan nama-nama Mesir juga.

Dia menunjukkan bahwa satu suara fonetik bisa diwakili oleh lebih dari satu hieroglif. Ini bukan hanya naskah, dia menyadari, tapi bahasa lisan.Tidak dapat disangkal bahwa Champollion memberikan kontribusi besar bagi sejarah pengetahuan dalam penemuan-penemuan ini.

“Tanpa Champollion,” kata Dr El Daly, “pengetahuan kami harus menunggu beberapa dekade lagi.”

Penguraian hieroglifnya di Batu Rosetta memfasilitasi penerjemahan ratusan teks lain yang sebelumnya tidak dapat dipahami selama berabad-abad, dan oleh karena itu membuka jalan baru yang tak terhitung jumlahnya untuk pengetahuan dan perdebatan.

Pada tingkat manusia juga, Champollion jelas pantas mendapatkan pujian yang dia terima atas ketekunan dan kekuatan intelektualnya.

Tetapi saat kita merayakan pencapaian besar Champollion selama 200 tahun, tidakkah kita juga memikirkan para cendekiawan lain yang, meskipun dalam banyak kasus tidak diketahui hari ini, melalui penemuan mereka sendiri yang membantunya dalam perjalanannya?

Dapat dikatakan bahwa orang-orang seperti Ibn Wahshiyah, Athanasius Kircher dan Thomas Young bekerja tanpa kenal lelah untuk membongkar misteri skrip kuno yang paling misterius.

Sekarang adalah waktu untuk menempatkan mereka kembali ke dalam teka-teki yang mereka mulai dengan begitu bersemangat selama berabad-abad yang lalu.

Sumber: bbcindonesia.com