THAILAND, HETANEWS.com - Panya Khamrab merenggut puluhan nyawa di pusat penitipan anak di Kota Uthai Sawan, Provinsi Nong Bua Lam Phu, Thailand, pada Kamis (6/10). Masalah terkait utang dan tuduhan narkoba diduga mendorongnya melakukan aksi pembantaian massal tersebut.

Panya pernah bertugas di Kantor Polisi Na Wang di Nong Bua Lam Phu. Kepala Kepolisian Thailand, Damrongsak Kittiprapas, mengatakan bahwa dia diskors dari kepolisian pada Januari. Panya kemudian dipecat akibat pelanggaran narkoba terkait metamfetamin pada Juni.

Panya menjalani pengadilan kasus narkoba sebelum menjemput anaknya dari pusat penitipan. Dia adalah sosok yang dikenal akrab oleh warga setempat. Sehingga, para pegawai tempat penitipan pun mengenalinya sebagai orang tua yang sering mengantar anaknya.

Kepolisian belum mengungkap motif pembantaian tersebut. Tetapi, ibu pelaku meyakini, Panya mungkin merasa tertekan oleh utang selain karena menghadapi pengadilan. Camat Uthai Sawan, Danaichot Bunsom, mengatakan bahwa sang ibu sempat menemuinya.

Ibunya menanyakan apakah Bunsom dapat membantu dalam pengadilan Panya. Tetapi, Bunsom menolak karena dia tidak memiliki wewenang untuk berurusan dengan pengadilan.

"Saya tidak tahu [mengapa dia melakukan ini], tetapi dia berada di bawah banyak tekanan," terang ibu Panya, dikutip dari Reuters, Jumat (7/10).

Otoritas menyebut bahwa Panya mendatangi pusat penitipan anak dalam kadaan 'manik'. Namun, pihaknya belum mengetahui apakah kondisinya disebabkan pengaruh narkoba. Penduduk lokal sendiri sudah lama mengenal Panya sebagai seorang pecandu narkoba.

"Semua orang tahu siapa penembaknya. Dia dulunya adalah seorang polisi. Dia pria yang baik, tetapi kemudian kita semua tahu bahwa dia menggunakan sabu," ujar seorang warga setempat, Kamjad Pra-intr.

"Ini komunitas kecil jadi kami saling mengenal dan kami seperti keluarga, saya kenal tiga atau empat anak yang meninggal di sana," tambah dia.

Negeri Gajah Putih terkenal sebagai pusat perdagangan dan penyalahgunaan narkoba. Kantor PBB Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) mengatakan, pasokan metamfetamin yang melonjak bahkan membuat harga jualnya jatuh hingga tingkat terendah di Thailand.

Sementara itu, penembakan massal jarang terjadi meski tingkat kepemilikan senjata tergolong tinggi di Thailand. Panya sendiri menggenggam senapan, pistol, dan pisau ketika melakukan aksinya. Damrongsak menjelaskan, dia membeli pistol 9mm itu secara legal.

Kejadian tersebut bermula sekitar pukul 12:30 waktu setempat. Anak-anak sedang tidur siang sebelum kedatangan Panya.

Anak laki-laki Panya juga biasa pergi ke pusat penitipan tersebut. Tetapi, dia sudah tidak hadir dalam sebulan terakhir. Ketika keluar dari mobil, seorang guru langsung mengenali Panya.

Dia kemudian segera menembak seseorang yang sedang makan siang di luar gedung pusat penitipan itu. Panya lalu berusaha mendobrak pintu yang terkunci sebelum menyerang anak-anak dengan pisau.

"Ada beberapa staf yang makan siang di luar kamar bayi dan penyerang memarkir mobilnya dan menembak mati empat dari mereka," ujar kepala pusat penitipan anak, Nanthicha Punchum, dikutip dari AFP.

"Penembak mendobrak pintu dengan kakinya dan kemudian masuk ke dalam dan mulai menyayat kepala anak-anak dengan pisau," sambung dia.

Panchum berhasil melarikan diri dengan memanjat dinding untuk mencari bantuan. Ketika melangkah keluar kompleks bangunan, Panchum mendengar suara tembakan. Pada awalnya, penduduk setempat mengira bahwa suara itu berasal dari kembang api.

"Saya mendengar anak-anak menangis sejenak dan kemudian benar-benar hening," terang Panchum, dikutip dari Al Jazeera.

"Kemudian, saya tahu bahwa dia telah pergi. Jadi kami masuk dan kami melihat anak-anak kecil tewas, termasuk para guru," imbuhnya.

Dilansir BBC, pusat penitipan tersebut biasanya menjaga 92 anak. Tetapi, cuaca buruk dan penangguhan bus menyisakan 24 anak saat serangan Panya. Dia turut menembaki empat atau lima staf, termasuk seorang guru yang sedang hamil delapan bulan.

Korban jiwa meliputi 19 anak laki-laki, 3 anak perempuan, dan 2 orang dewasa. Pembantaian tersebut juga mencederai 12 orang. Satu anak selamat karena tidur tersembunyi di bawah selimut.

Panya melarikan diri dengan sebuah truk. Saksi mengatakan, dia mengemudi dengan tidak menentu hingga menabrak seorang wanita. Panya bergegas menuju rumah untuk menembak mati istri dan anaknya. Pria berusia 34 tahun itu lalu bunuh diri.

Pachum mengaku masih tidak percaya dengan yang terjadi. Dia mengenal Panya karena sering melihatnya di sekolah. Pachum menggambarkannya sebagai orang yang pendiam dan sopan.

"Tetapi kali ini, dia berbeda dari sebelumnya seolah-olah dia marah atau stres dengan seseorang," kata Pachum.

Seluruh negara sedang berduka atas pembantaian mengerikan tersebut. Kain putih tampak disematkan melintasi pintu masuk pusat penitipan anak pada Jumat (7/10). Bunga berwarna putih ditinggalkan di tangga, sedangkan keluarga korban menangis di luar gedung.

Salah satu korban jiwa dalam serangan itu adalah seorang guru yang beberapa pekan lagi seharusnya melahirkan, Supaporn Pramongmuk.

Dia menantikan kelahiran anaknya yang akan terjadi sekitar 23 atau 24 Oktober. Namun, Supaporn dan anaknya yang belum lahir justru tewas dalam salah satu pembantaian massal terburuk di Thailand. "Saya tidak bisa menangis, saya tidak bisa berbicara," ungkap ibu Supaporn, Pranee Srisutham.