HETANEWS.com - Pakar kesehatan Prof. Zubairi Djoerban memprediksi Indonesia akan segera memasuki masa endemi Covid-19, meskipun jumlah kasus harian masih tinggi.

Berdasarkan analisa Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) Kementerian Kesehatan, laju kasus Covid-19 dalam dua pekan terakhir mengalami penurunan konsisten dari 2.298 menjadi 1.692 kasus.

"Sebetulnya bukan siap enggak siap, tapi bagaimanapun kehidupan harus berjalan," kata Zubairi Djoerban di Jakarta, Kamis (6/10/2022).

Pernyataan Zubairi itu merujuk pada banyak negara yang saat ini telah melonggarkan berbagai pembatasan dalam menghadapi penularan Covid-19.

Menurut dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi medik itu, setiap negara memiliki kriteria masing-masing terkait kesiapan memasuki masa endemi Covid-19.

Zubairi mencontohkan China dan Hongkong merupakan negara yang ketat dalam menerapkan pembatasan. Dua negara tersebut menargetkan zero transmission atau nol penularan Covid-19.

Sementara Inggris, Amerika Serikat dan Eropa menerapkan kebijakan yang lebih longgar. Adapun Korea Selatan menerapkan pelonggaran, tapi tetap melakukan mitigasi pencegahan penularan.

Zubairi Djoerban, mengatakan untuk memasuki masa endemi, Indonesia perlu menentukan seberapa besar tingkat penularan yang dapat ditolerir.

"Masing-masing negara termasuk Indonesia perlu menentukan sikapnya sendiri. Berapa besar penularan yang bisa kita terima. Apakah penularan sekarang ini bisa diterima, bagaimana mengatasi kondisi sekarang ini tanpa membebani negara, tanpa membebani sistem kesehatan nasional," katanya.

Mantan Ketua Satgas Covid-19 IDI ini mencatat kasus harian Covid-19 di Tanah Air saat ini masih di atas 1.000 kasus. Meski masih cukup tinggi, namun tingkat keterisian rumah sakit, rendah. Kemudian angka kematian juga rendah.

Guru Besar Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FK-UI) Amin Soebandrio menyebut tingginya capaian tes Covid-19 menjadi penentu Indonesia berhasil menghadapi fase transisi dari pandemi menuju endemi.

"Semua harus punya kewaspadaan yang tidak boleh kurang, walaupun nanti sudah turun dari pandemi ke endemi, kita tidak boleh lebih santai dan tidak waspada, tetap harus waspada," kata dia dalam sebuah diskusi daring di Jakarta, Rabu (5/10/2022).

Menurut Amin, masa transisi dari pandemi ke endemi, keadaan jumlah testing di Indonesia justru semakin menurun dibandingkan dengan beberapa bulan lalu, saat banyak kasus dicurigai lebih banyak dari kasus-kasus yang dilaporkan.

Padahal, di masa transisi seharusnya Indonesia bisa memperkuat kemampuan untuk memprediksi temuan atas kasus-kasus baru baik Covid-19 ataupun kejadian yang disebabkan oleh penyakit campuran lainnya yang mengancam semua pihak.

"Jadi surveilans atau upaya mendeteksi secara dini kejadian luar biasa ini harus ditingkatkan. Jangan sampai terjadi ledakan kasus, baru kita mencari. Prediksi, kemampuan untuk mendeteksi sekali lagi tidak hanya untuk Covid-19 dan tapi kita harus siap untuk itu," ujar dia.

Amin menekankan peningkatan pelacakan juga harus diikuti dengan kemampuan masyarakat untuk merespons serta melaporkan temuan kasus baru secepat mungkin.

Apabila merasakan gejala, seperti batuk, pilek, dan demam, masyarakat harus segera memeriksakan diri meski hasil yang didapat nantinya bukan akibat Covid-19.

"Semua harus kita rencanakan di depannya baik bagi pengambil kebijakan maupun masyarakat harus terlibat secara keseluruhan," katanya.

Terkait dengan pemantauan genom, Amin menjelaskan, kemajuan teknologi telah membantu Indonesia untuk mempelajari patogen sampai ke tingkat molekulernya. Setiap data rinci yang sama atau berbeda dapat segera diketahui.

Oleh karenanya, ia menyarankan kepada pemerintah untuk terus memfasilitasi semua laboratorium yang ada di Indonesia untuk terus meneliti. Hal itu dimaksudkan supaya setiap data bisa selalu diperbaharui.

"Kajian genomic itu harus dilakukan kajian yang sangat rutin. Upaya Kementerian Kesehatan dalam meningkatkan lab-lab di Indonesia terkait whole genome sequencing itu harus diapresiasi, tapi tidak hanya sampai berhenti di penyediaan alat," kata dia.

Ia juga menyarankan pemerintah mulai memudahkan akses layanan antigen maupun PCR di semua tempat dalam masyarakat mulai dari sekolah maupun ruang publik.

"Ketika dia tidak bisa menjelaskan penyebab atas penyakitnya, maka setiap orang harus punya kewaspadaan tinggi untuk mencari penyebabnya. Jadi sekarang harus bisa antigen atau PCR dan itu diterapkan di semua lini masyarakat umum, sekolah atau tempat umum," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah memintanya untuk berkonsultasi dengan Dirjen WHO terkait kemungkinan pandemi Covid-19 segera berakhir.

Meskipun belum dinyatakan berakhir, ia mengatakan, pemerintah bisa mengeluarkan kebijakan pelonggaran pengetatan protokol kesehatan.

“Pak Presiden meminta saya untuk berkonsultasi dengan Dirjen WHO. Kalau ada kebijakan-kebijakan lokal mengenai pengurangan pengetatan dari prokes bisa dilakukan,” kata Menkes di Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (3/10/2022).

Namun, ia menyampaikan, keputusan mengenai berakhirnya pandemi Covid-19 tetap berada di tangan WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia. WHO nantinya akan memberikan pengumuman secara resmi jika pandemi memang sudah dicabut.

“Khusus mengenai pandemi karena ini sifatnya dunia, nanti WHO yang akan memberikan timingnya kapan. Itu kan pandemi itu di WHO ada namanya public health emergency of international concern. Itu nanti biasanya kapan dicabutnya dia akan resmikan, di-publish resmi,” jelas Menkes Budi.

Sumber: republika.co.id