HETANEWS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan kemungkinan penyesuaian kembali harga BBM subsidi Pertalite, menyusul semakin melandainya harga minyak dunia saat ini.

Adapun sebelumnya, PT Pertamina (Persero) baru saja menurunkan harga Pertamax dari Rp 14.500 per liter menjadi Rp 13.900 per liter. Apakah penurunan harga ini akan disusul oleh BBM Pertalite?

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM, Tutuka Ariadji, menjelaskan harga Pertalite tidak bisa serta merta mengikuti mekanisme pasar dan menyesuaikan harga minyak dunia.

"Pertalite kan JBKP (Jenis BBM Khusus Penugasan), artinya jadi menurunkan subsidi kalau (harga) diturunkan," jelasnya saat ditemui di Hotel Borobudur Jakarta, Selasa (4/10).

Tutuka melanjutkan, Pertamax termasuk ke dalam Jenis BBM Umum (JBU) yang harganya ditentukan oleh badan usaha sendiri, dalam hal ini berarti Pertamina. Sama halnya dengan produk BBM milik badan usaha swasta.

"JBU itu kan urusan perusahaan itu sendiri, atau swasta itu sendiri, berarti dia mau menurunkan karena berhubungan langsung dengan harga minyak dunia," tuturnya.

Sementara itu, dia memastikan jika Pertalite maupun Solar sebagai objek subsidi pemerintah tidak akan terdampak pada fluktuasi harga minyak mentah dunia. Pasalnya, harga Pertalite saat ini yang dibanderol Rp 10.000 per liter juga masih jauh di bawah harga keekonomian.

"Pertalite itu kan harganya memang sudah ada subsidi, kompensasi, artinya harga tetap di bawah harga keekonomian, masih jauh dari harga keekonomiannya," tegasnya.

Meski demikian, Tutuka masih membuka kemungkinan adanya penyesuaian harga Pertalite jika harga minyak mentah memang sangat anjlok. Namun, dia tidak menyebutkan secara detail patokan harga yang rendah tersebut.

"Kecuali kalau harga minyak turun banget bisa aja," pungkasnya.

Adapun per Senin (3/10), harga minyak mentah berjangka Brent kontrak Desember menetap di harga USD 88,86 per barel. Sementara Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS dibanderol dengan harga USD 83,63 per barel.

Saat ini harga minyak dunia sudah jauh di bawah patokan harga minyak Indonesia (Indonesia Crude Price/ICP) yang ditetapkan dalam asumsi makro APBN 2022 yakni USD 100 per barel.

Asumsi ICP tersebut merupakan hasil revisi karena lonjakan harga minyak dunia tahun ini, dari sebelumnya dipatok seharga USD 63 per barel. Sebelumnya, sinyal penurunan harga Pertalite sempat diungkapkan Menteri ESDM Arifin Tasrif.

Dia menyatakan naik turunnya harga minyak mentah dunia bisa berpengaruh pada harga Pertalite. Adapun harga minyak mentah akhir-akhir ini telah merosot di bawah USD 90 per barel. Menurut Arifin, hal ini berpeluang menurunkan harga BBM dalam negeri. Salah satunya Pertalite.

"Nanti kita lihat. Kalau harga minyak membaik, ya, Insya Allah (harga turun)," kata Arifin kepada awak media di Jakarta, Jumat (9/9

Sumber: kumparan.com