HETANEWS.com - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat penurunan harga sejumlah komoditas pangan mengkompensasi lonjakan inflasi bulan lalu yang didorong oleh kenaikan harga BBM.

Kenaikan harga BBM yang dimulai 3 September menjadi pendorong utama inflasi bulan lalu. Hal ini tercermin dari inflasi kelompok pengeluaran transportasi yang melonjak ke 8,88% secara bulanan dan memberi andil 1,08%.

Di sisi lain, komoditas makanan, minuman dan tembakau yang menyumbang cukup besar dalam basket perhitungan indeks harga konsumen (IHk) justru terbalik minus. Kelompok ini mencatat deflasi 0,3% secara bulanan, dan memberi andil deflasi 0,08%.

"Jadi inflasi di September ini lebih karena kenaikan harga BBM, dan juga di sektor transportasi, sementara mampu diredam karena untuk kelompok makanan dan minuman dan tembakau ini mengalami deflasi di September," kata Kepala BPS Margo Yuwono dalam konferensi pers secara daring, Senin (3/10).

Enam komoditas pangan terpantau mencatatkan penurunan harga pada bulan lalu dan memberi andil pada deflasi paling besar terhadap IHK. Antara lain, penurunan harga bawang merah memberi andil deflasi 0,06%, disusul cabai merah 0,05%, minyak goreng 0,03%, tomat 0,02%, cabai rawit 0,02% serta ikan segar 0,01%. Jika merujuk pada data Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok Kementerian Perdagangan (SP2KP), harga sejumlah komoditas tersebut memang terkoreksi cukup dalam sepanjang bulan lalu.

Harga cabai merah untuk semua jenis turun, cabai merah besar turun 22,4% serta cabai merah keriting 17,7%. Begitu juga Bawang merah turun 4,8%, minyak goreng untuk semua jenis, penurunannya antara 1,4%-4,7%. Sebaliknya, harga cabai rawit merah justru naik 6,5%.

"Di September, beberapa produk hortikultura di beberapa sentra produksi terjadi panen raya, sehingga suplainya cukup dan terjadi deflasi untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau," kata Margo.

Meski demikian, inflasi secara tahunan untuk beberapa komoditas pangan tersebut masih bertahan tinggi.

Cabai merah misalnya, secara tahunan, inflasinya mencapai 148,6%, cabai rawit 75,4%, minyak goreng 14,4%, serta bawang merah 20,31%, Penurunan harga sejumlah komoditas pangan tersebut secara bulanan meredam lonjakan inflasi yang berasal dari kelompok pengeluaran transportasi.

Inflasi kelompok ini mencapai 8,88% secara bulanan dengan andil 1,08% terhadap inflasi bulanan September. Kenaikan harga BBM menjadi penyulut lonjakan inflasi kelompok transportasi. Kenaikan harga bensin memberikan andil inflasi 0,89% serta Solar 0,03%.

Bukan hanya itu, kenaikan harga bahan bakar juga mendorong harga angkutan umum naik. Angkutan dalam kota menyumbangn inflasi 0,09%, angkutan antar kota 0,03% serta ojek online dan taksi online masing-masing 0,02% dan 0,01%.

Sumber: katadata.co.id