JAKARTA, HETANEWS.com - Guna mendukung program pemerintah melakukan konversi LPG 3 kg ke kompor listrik, Kementerian Perindustrian atau Kemenperin meminta PT Hartono Istana Teknologi (Polytron) turut andil. Perusahaan milik Hartono bersaudara itu akan meningkatkan produksi menjadi 1 juta unit pada 2023.

“Tahun 2022, kemampuan nasional bisa 300 ribu unit, dan nanti begitu ada kepastian spesifikasi jenis daripada kompor induksinya, itu beberapa perusahaan yang existing memproduksi kompor listrik akan menambah land investasinya khusus di kompor induksi," ujar Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian Taufiek Bawazier dalam rapat dengan Komisi VII DPR, Rabu, 21, September 2022.

Selain perusahaan milik Hartono bersaudara yang akan produksi kompor listrik untuk konversi LPG 3 kg itu, terdapat perusahaan milik pengusaha Markus Maturo yaitu PT Adyawinsa Electrical and Power. Perusahaan ini diminta memperbanyak produksi hingga 1,2 juta unit.

Kompor listrik produksi dari PT Adyawinsa Electrical and Power telah dibagikan gratis ke ribuan warga di Solo, Jawa Tengah dan Denpasar, Bali. Kompor listrik itu dengan merek Myamin.

Siapa Markus Maturo ini?

Dirangkum dari berbagai sumber, Markus Maturo adalah pendiri Adyawinsa Grup. Total ada empat perusahaan yang dibawahi grup ini, yaitu PT Adyawinsa Electrical and Power, PT Adyawinsa Dinamika Karawang, dan PT Adyawinsa Plastic Industries Karawang, dan PT Adyawinsa Stamping Industries.

Markus diketahui sebagai anak seorang penjual gado-gado. Tetapi latar belakang ekonomi orang tuanya tak menyurutkan semangat Markus menjadi orang sukses. Setamat dari Sekolah Menengah Atas, Markus kuliah di Akademi Teknik Mesin Indonesia atau ATMI di Solo Jawa Tengah.

Orang tuanya mau membiayai pendidikan perguruan tinggi jika dia berkenan berkuliah di sana. Setelah lulus dari ATMI pada 1991, dia sempat bekerja di Solo selama enam bulan. Kemudian Markus bergabung dengan perusahaan milik sang kakak, di PT Enceha Pacific.

Di perusahaan itu Markus jadi tenaga penjual atau salesman. Dari sanalah perjuangan Markus dimulai. Berkat jadi salesman, jalan membangun pabrik miliknya sendiri mulai terbuka. Saat itu Markus mendatangi perusahaan bernama Inoac Indonesia.

Ini adalah salah satu perusahaan yang memproduksi jok dan interior mobil. Markus kemudian ditawari untuk memproduksi komponen stay headrest atau penyangga kepala pada kursi mobil. Dia pun menyanggupi permintaan Inoac Indonesia tersebut.

Hasil produksi komponen stay headrest buatan Markus ternyata memuaskan pihak Inoac Indonesia. Sejak saat itu, permintaan pesanan komponen tersebut terus meningkat, tak hanya dari Inoac Indonesia, tapi juga dari berbagai pihak.

Awalnya Markos menjalankan usahanya di garasi berukuran 120 meter persegi. Setelah permintaan dari konsumen melonjak, Markus lantas memindahkan usahanya ke kawasan industri. Bisnis Markus terus melejit hingga berkembang jadi Adyawinsa Grup.

Sementara itu, mengutip laman resmi adyasolar.com, Markus membangun salah satu perusahaannya yang bergerak di bidang manufactur dan energi, Adyawinsa Electrical & Power pada 2005.

Awalnya bernama PT Adyawinsa Dinamika Jababeka, seiring berkembangnya bisnis, kemudian diganti menjadi Adyawinsa Electrical and Power pada 2010. PT Adyawinsa Electrical And Power (AEP) berdomisili di Cikarang, Jawa barat.

Markus Maturo memfokuskan PT Adyawinsa Electrical And Power di bidang manufactur pembuatan panel surya, lampu penerangan Jalan berbasis led, Smart System, baterai, panel listrik, hingga kompor induksi. Selain itu, perusahaan ini juga menyediakan layanan jasa seperti survei dan desain sistem energi surya, konstruksi, instalasi, serta komisioning.

Sumber: tempo.vo