HETANEWS.com - PT MRT Jakarta menemukan artefak zaman kolonial Batavia dan Sunda Kelapa di lokasi pembangunan MRT Fase 2 Bundaran HI-Kota. Temuan tersebut berupa saluran air kuno Batavia dan bagian struktur jembatan Glodok yang merupakan Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB).

Adapun saluran air sepanjang 400 meter tersebut merupakan bagian dari sistem pasokan air bersih Kota Batavia (Waterleiding) pada abad 17 yang dialirkan melalui kolam air (Water Plat) sampai menuju Benteng atau Kastil Batavia (sekarang Area Museum Fatahilah).

Arkeolog Senior Universitas Indonesia (UI) Junus Satrio Atmodjo mengatakan, area kota selalu dikelilingi benteng pada masa pemerintahan VOC.

"Orang-orang Eropa yang tinggal di dalam benteng sekitar 3 ribuan tetapi dulu lebih banyak budaknya. Satu keluarga punya budak 10 orang. Kalau satu keluarga 6 orang dengan budak minimal 10 orang, jadi kalau dikata 3 ribu, harus ditotal 3 kali lipat, bisa 9-10 ribu. Semua butuh air, nyuci semua, mandi semua, masak semua. Saluran ini digunakan untuk supply air bersih," kata Junus di lokasi pembangunan Stasiun MRT Jakarta, Selasa (20/9/2022) kemarin.

Junus menambahkan, proses pembuatan saluran air ini membutuhkan waktu yang lama. Sebab, bata penyusunannya didatangkan langsung dari Belanda sehingga saluran air ini baru bisa berfungsi pada akhir abad ke-18.

Berdasarkan pernyataan Junus, saluran air ini terdiri dari tiga lapisan. Lapisan pertama terdiri dari bata kuning dari Belanda. Kemudian, menggunakan bata merah dari Batavia dan semen untuk menutupi seluruh lapisan.

Direktur Umum (Dirut) PT MRT Jakarta Mohamad Aprindy mengatakan, temuan objek diduga cagar budaya ini akan dipajang di visitor center gallery Stasiun MRT Kota.

"Makanya di stasiun BEOS (Jakarta Kota) kami buatkan visitor center gallery MRT. Itu ada di tengah stasiun Kota, fungsinya selain masyarakat atau penumpang kereta yang turun di Kota itu bisa tahu informasi seputar tentang MRT juga ada display terkait peninggalan artefak didapat juga ada one stop information," kata Aprindy, Selasa (20/9).

SelaIn saluran air, ditemukan juga bata, pecahan keramik, botol, dan artefak lainnya dalam proses pembangunan MRT Fase 2. Artefak-artefak ini ditunjukkan MRT di Stasiun Glodok, salah satu stasiun yang ada pada CP203.

Banyak pecahan keramik yang ditemukan berasal dari dinasti Qing, China. Namun, ada juga dari Jepang, Jerman, Inggris, Belanda, Vietnam, dan Thailand yang diduga peninggalan abad ke-17 sampai 20. Nantinya, temuan ini akan diserahkan ke Dinas Kebudayaan DKI Jakarta.

Berdasarkan pernyataan Junus, lokasi pembangunan ini diduga merupakan bagian dari Sungai Ciliwung Lama yang berdekatan dengan permukiman penduduk China, Jepang, Arab, Persia, Portugis, dan suku-suku bangsa dari Nusantara. Mereka diduga membuang ‘sampah’ di sungai dan jalan.

"Ada banyak penduduk pendatang yang tinggal di Jakarta, Cina, dan Jepang hanya salah satunya. Masih terdapat orang India, Arab, Persia, Portugis, dan suku-suku bangsa dari Nusantara," kata Junus ketika dikonfirmasi, Rabu (21/9).

Junus menjelaskan, lokasi proyek ini merupakan kawasan padat penduduk sejak abad ke-18. Namun, sekitar 1970an, jalanan diperlebar dengan membongkar bagian depan rumah-rumah dan toko yang berderet dan menempel satu sama lain.

"Sejarah panjang pembuatan jalan dan permukiman di sekitarnya yang sudah ada sejak awal abad ke-18 sudah tentu meninggalkan artefak berupa 'sampah' yang dibuang ke jalan. Sebagian lagi mungkin terjatuh tidak sengaja ketika jalan masih berfungsi sebagai jalan raya dan ketika ditimbun menggunaan material baru berupa pasir pantai yang pernah menjadi hunian manusia. Benda-benda itu umumnya berupa barang rumah tangga atau barang personal seperti potongan pipa tembakau terbuat dari tanah liat putih yang keras," kata Junus.

4 dari 4 halaman

Dosen Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Fahmi Prihantoro mengatakan, temuan ini sangat wajar karena wilayah tersebut merupakan Ibukota pemerintah VOC.

"Banyaknya temuan artefak tsb sangat wajar karena wilayah tsb merupakan bagian inti dari kota batavia sebagai ibukota pemerintah VOC. Pada masa lalu Batavia merupakan kota kastil dengan sistem kanal di dalamnya. Temuan artefak yg diduga merupakan pipa pipa air bersih menunjukan sistem tata kota saat itu," jelas Fahmi.

Menurut Fahmi, penanganan tersebut perlu diperlakukan sama seperti benda cagar budaya sesuai UU No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

"Sebaiknya dilakukan dokumentasi sesuai kaidah pelestarian dan penanganan untuk penyelamatan temuan tersebut. Selanjutnya, di lakukan kajian oleh tim ahli cagar budaya untuk memastikan temuan tersebut apakah merupakan cagar budaya," jelas Fahmi.

Julius juga mengatakan, artefak perlu dibersihkan, didata, dikonservasi, disimpan, dan digunakan untuk bahan penulisan sejarah.

"Semua artefak atau benda temuan akan diperlakukan sama seperti data arkeologi pada umumnya yaitu dibersihkan, didata, dikonservasi, disimpan, dan digunakan sebagai bahan penulisan sejarah. Untuk kepentingan edukasi publik beberapa dari artefak itu diperlihatkan kembali melalui berbagai media antara lain melalui pemberitaan digital, pameran, atau dengan ditempatkan dalam galeri," kata Julius.