HETANEWS.com-Kematian seorang perempuan warga sipil Iran Mahsa Amini (22) memantik kemarahan dan kecaman masyarakat di berbagai kota negara tersebut. Sekelompok perempuan membakar hijab dan memotong rambut mereka untuk melakukan aksi protes atas kematian perempuan keturunan Iran-Kurdi ini yang ditahan ‘polisi moral atau ‘Guidance Patrol’ karena dianggap melanggar aturan berhijab di negara itu.

“Perempuan Iran menunjukkan kemarahan mereka dengan memotong rambut dan membakar hijab mereka untuk memprotes pembunuhan #Mahsa_Amini oleh ‘polisi hijab’, ” kata jurnalis dan aktivis Iran, Masih Alinejad di akun Twitter pribadinya.

“Dari usia 7 tahun, jika kami tidak menutupi rambut kami, kami tidak akan bisa pergi ke sekolah atau mendapatkan pekerjaan. Kami muak dengan rezim apartheid gender ini,” tambahnya.

Dikutip dari BBC, demonstrasi besar-besaran ini telah berlangsung selama lima malam berturut-turut. Di Provinsi Gilan, Kota Rasht, aksi bentrok demonstran dengan polisi tak terelakkan. Pada Senin (12/9) seorang perempuan mengirim foto-foto ke BBC Persia untuk memperlihatkan wajah dan tubuhnya yang memar akibat dipukuli oleh polisi dengan tongkat dan selang.

“(Polisi) terus menembak gas air mata. Mata kami terbakar.” katanya. “Kami lari, (tetapi) mereka menyudutkan saya dan memukuli saya. Mereka memanggil saya pelacur dan mengatakan saya datang ke jalan untuk menjual diri,” sambungnya.

Sementara itu di Kota Isfahan, seorang demonstran mengatakan, “Saat kami melambaikan hijab kami di langit-langit, saya merasa sangat emosional dikelilingi dan dilindungi oleh laki-laki lain. Senang rasanya melihat kebersamaan ini. Saya harap dunia mendukung kami.”

Al Jazeera melansir, sejumlah mahasiswa di Kota Teheran turun ke jalan pada Senin (19/9) untuk menuntut penyelidikan atas kematian Mahsa Amini dan membongkar tindakan ‘polisi moral’ yang menahannya hingga meninggal.

Dikutip dari kumparanNEWS, ‘polisi moral’ menahan Mahsa Amini pada Selasa (13/9) saat sedang berkunjung ke Kota Teheran bersama keluarganya. Amini ditangkap karena dianggap tidak mengenakan hijab sesuai peraturan yang berlaku. Usai beberapa jam menjalani ‘bimbingan’ di kantor polisi setempat, ia dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan koma. Menurut keterangan polisi, Amini menderita stroke dan serangan jantung. Ia dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (16/9).

Kematian Mahsa Amini terjadi di tengah kontroversi yang berkembang di Iran atas perilaku ‘polisi moral’. Sedikitnya tujuh orang kini dilaporkan tewas sejak aksi protes terhadap undang-undang hijab dan ‘polisi moral’ memuncak setelah kematian Mahsa Amini.