JAKARTA,HETANEWS.com-Menteri Keuangan Sri Mulyani mengungkapkan kenaikan suku bunga The Fed berpotensi melanjutkan tren arus modal keluar atau capital outflow yang sudah terjadi di negara-negara berkembang. Menurut dia, tren keluarnya arus modal asing di negara berkembang sudah terjadi sejak masa normalisasi kebijakan Amerika Serikat.

The Fed menaikkan suku bunga acuan Rabu (22/9) sebesar 75 basis poin (Bps) atau 0,75 persen. Dengan begitu, suku bunga acuan Bank Sentral AS menjadi 3 persen hingga 3,25 persen.

"Capital outflow sudah terjadi dari mulai normalisasi, atau yang disebut kenaikan suku bunga yang kemudian menimbulkan dampak. Tahun 2022 ini sebetulnya capital outflow dari emerging country sudah sangat terjadi dan bahkan cukup dramatis," kata Sri Mulyani di Kompleks Parlemen, Kamis (23/9).

Kenaikan suku bunga The Fed bisa mempengaruhi harga komoditas. Oleh karena itu, pemerintah akan terus mengantisipasi dampak kenaikan suku bunga acuan The Fed.

“Itu akan mempengaruhi jelas terhadap proyeksi ekonomi dunia, pasti, karena dia ekonomi terbesar. Dan juga bisa mempengaruhi terhadap harga-harga komoditas, itu yang nanti harus kita antisipasi terus,” ungkap Sri Mulyani.

Kendati demikian, bendahara negara tersebut mengungkapkan, kebijakan yang diambil oleh The Fed sesuai dengan prediksi. Pasalnya, angka inflasi di negara Paman Sam tersebut masih tinggi yakni 8,3 persen di bulan Agustus 2022.

Sri Mulyani mengimbau setiap negara, khususnya negara berkembang, harus semakin memperkuat keamanan dan resiliensi mereka di tengah gejolak perekonomian dunia.

"Tentu yang pertama (harus diperkuat) adalah neraca pembayaran mereka. Kalau Indonesia alhamdulillah neraca perdagangan kita masih surplus 28 bulan berturut-turut, cadangan devisa kita relatif tetap stabil, jadi kita tetap harus waspada terhadap kemungkinan gejolak dari capital outflow itu karena kenaikan suku bunga yang sangat hawkish," ujar Sri Mulyani.

Dihubungi terpisah, Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman menyebut, kenaikan suku bunga Amerika Serikat tentu sangat berpengaruh terhadap capital outflow terutama di pasar SBN. Bahkan, keluarnya arus modal tersebut bisa melemahkan nilai tukar rupiah terhadap dolar.

"Karena kalau Fed Fund Rate (FFR) naik, yield UST naik, maka UST dan dolar akan lebih lucrative untuk investor. Terjadilah risk off dan flight to quality di emerging market termasuk indonesia. Hal ini akan mengerek yield SBN kita juga," jelas Faisal kepada kumparan, Jumat (23/9).

Berdasarkan data dari Bank Indonesia, tekanan arus modal asing, terutama dalam bentuk investasi portofolio masih terus terjadi di tengah ketidakpastian yang terjadi di pasar keuangan global. Hingga September 2022, investasi portofolio mencatat nett outflow sebesar USD 0,6 miliar.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengungkapkan posisi cadangan devisa Indonesia tercatat USD 132,2 miliar, setara pembiayaan 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta berada di atas kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

"Tekanan dari sisi arus modal asing terutama dalam bentuk investasi portofolio masih terjadi di tengah ketidakpastian pasar keuangan global,” kata Perry dalam konferensi pers secara virtual, Kamis (22/9).