JAKARTA, HETANEWS.com - Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 50 basis poin (bps), dari sebelumnya 3,75 persen menjadi 4,25 persen.

Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan keputusan kenaikan tersebut karena untuk menurunkan laju inflasi imbas kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi maupun komoditas pangan.

"Keputusan kenaikan suku bunga tersebut sebagai langkah preemptive dan forward looking untuk memitigasi risiko peningkatan inflasi inti dan ekspektasi inflasi akibat kenaikan harga BBM dan inflasi volatile food, serta memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah agar sejalan dengan nilai fundamental nya dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global," ujar Perry, Jakarta, Kamis (22/9).

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), mengatakan masyarakat terkena beban ganda karena harus mengeluarkan biaya hidup yang jauh lebih mahal akibat kenaikan suku bunga yang dilakukan oleh Bank Indonesia.

Dia menjelaskan, dari sisi suku bunga acuan yang naik meningkatkan kenaikan suku bunga pinjaman yang makin mendesak masyarakat untuk membayar cicilan jauh lebih mahal, baik untuk kredit yang sifatnya konsumtif seperti kredit untuk KPR.

"Masyarakat tertimpa beban ganda jadi masyarakat itu harus mengeluarkan biaya hidup yang jauh lebih mahal pasca kenaikan BBM dan harga pangan karena tertekan hal nya inflasi. Semetara dari sisi pendapatan belum bisa pulih seperti pra pandemi masih banyak yang terdampak dari pandemi itu misalnya masih belum dipekerjakan penuh waktu ada juga yang gajinya masih belum penuh atau dipangkas gitu ya, dan bonusnya belum cair," ujar Bhima kepada Merdeka.com, Jumat (23/9).

Kesulitan Ambil KPR

Dia menyebut kenaikan ini juga akan mengancam banyak sekali anak muda yang akan kesulitan untuk bisa mengambil cicilan rumah melalui skema KPR.

"Kalau misalnya mampu membeli rumah ya tentu yang pastinya akan sangat jauh dari tempat kantor tempat kerja mungkin bisa 2 jam perjalanan karena harga rumahnya naik pendapatan tidak bisa mengimbangi harga rumah plus bunga floting ratenya juga semakin mahal," jelas dia.

Tak hanya itu, dari sisi kredit kendaraan bermotor ini paling terkena imbasnya dari kenaikan harga BBM. Dia mengungkapkan pada tahun 2014 terjadi kenaikan harga BBM yang menurunkan penjualan sepeda motor hingga 14 persen lebih.

"Saat ini sudah BBM-nya naik bunga untuk leasing sepeda motornya juga akan mengalami kenaikan sehingga menurunkan minat masyarakat untuk mengambil kredit kendaraan bermotor pada tahun ini dan tahun-tahun mendatang nah ini kan akan memukul juga produsen otomotif juga akan terpukul gitu," sambungnya.