HETANEWS.com - Kiyoha Kiritaka terkesiap mendengar ucapan yang keluar dari mulut “ibunya”. Kiritaka, yang saat itu masih remaja, hendak dijual keperawanannya sebagai bukti dia sudah pantas menjadi seorang geisha.

Walau kejadiannya sudah bertahun-tahun yang lalu, ia belum bisa melupakan pelecehan demi pelecehan yang menimpanya selama delapan bulan sejak diangkat sebagai maiko—sebutan bagi calon geisha.

Seorang geisha dituntut menguasai tarian dan alat musik tradisional Jepang untuk menyenangkan hati para pelanggan. Sejak mendaftarkan diri di usia 15, Kiritaka pantang menyerah mengasah bakat seninya agar dapat diakui sebagai penghibur profesional.

Namun, selama menjalani pelatihan yang panjang, tak pernah sekali pun ia diajari membela diri saat ada pelanggan yang bersikap kurang ajar padanya.

“Pelanggan merasa mereka bisa bertingkah seenaknya. Mereka memandangku rendah, seolah-olah saya bukan manusia,” ungkap Kiritaka saat diwawancarai VICE World News.

Dia hanya bisa diam dan menanggung perbuatan tidak senonoh dari pelanggan sendirian. Kesabarannya hilang setelah sang ibu—perempuan yang bertugas mengasuh calon geisha—mengusulkan harga yang cocok buat pelanggan yang tertarik menidurinya.

“Saya benar-benar tak percaya masih ada yang mempraktikkan ini di abad ke-21,” tuturnya, mengenang pengalaman buruknya pada Februari 2016.

Kiritaka membeberkan kisahnya di Twitter pada Juni lalu, dan pengakuannya sontak menggegerkan seantero negeri. Masyarakat Jepang mengira tradisi seksis ini sudah lama tiada, terutama sejak negara mengesahkan Undang-Undang Anti-Prostitusi pada 1956.

Twitnya menjadi perbincangan hangat netizen di Negeri Sakura, dan telah menarik perhatian berbagai kalangan dari pejabat negara hingga pegiat hak perempuan.

Namun, Distrik Pondo-cho, yang merupakan tempat latihan Kiritaka, memilih bungkam atas tuduhan yang dilayangkan terhadapnya. Para pelaku industri geisha juga tidak banyak berkomentar, sehingga membuat orang bertanya-tanya bagaimana bisa rahasianya tersimpan begitu lama.

Beberapa bahkan skeptis dengan cerita Kiritaka, dan beranggapan dia hanya kurang beruntung mendapat tempat latihan yang salah. Di saat orang meragukan pengakuan Kiritaka, mantan geisha Fumika Tamura yakin dia tidak berbohong karena dirinya pernah mengalami hal serupa.

Menurutnya, kisah Kiritaka menjadi bukti betapa lihainya dunia geisha menyembunyikan sisi gelap industri demi mempertahankan simbol budaya Jepang.

Fumika Tamura (kanan) becakap-cakap dengan pelanggan. Foto: arsip pribadi Fumika Tamura

Sekitar 30 tahun yang lalu, Tamura mengungkapkan segala pelecehan yang menimpanya selama bekerja sebagai perempuan penghibur. Dia juga mengaku pernah hampir dijual ke pelanggan.

“Kalau melihat reaksi di internet, beberapa orang curiga dia hanya mengarang cerita, karena apa yang ia alami terlalu mengerikan. Padahal sejujurnya, kejadian ini bukan hal yang aneh,” ujarnya.

Tamura mendaftarkan diri sebagai maiko saat berusia 18, dengan harapan bisa membantu ibunya memenuhi kebutuhan keluarga. Dia juga tergiur oleh keuntungan yang bisa didapat setelah menjadi geisha, seperti bertemu orang-orang penting dan mempelajari kesenian Jepang.

Saat itu, Tamura belum menyadari realitas kehidupan seorang penghibur tak seindah yang terlihat di permukaan. Dia harus tinggal bersama maiko dan geisha lainnya yang dianggap sebagai “saudara”.

Tamura tidak boleh menangis atau mengeluh selama latihan karena itu akan membuatnya terlihat lemah. Dia juga mesti menuruti semua omongan “kakak-kakaknya” kalau tidak mau kena omelan.

Terlalu lama memendam emosi, serta latihan yang melelahkan, pada akhirnya memengaruhi kesehatan fisik Tamura. Dia tidak menstruasi untuk waktu yang lama.

Tamura menemanin pelanggan laki-laki saat menghadiri festival bunga sakura. Foto: arsip pribadi Fumika Tamura

“Saya minta kontrol ke dokter, tapi ibu malah mengusir saya. Katanya semua orang juga mengalami itu,” kenangnya. Selama hampir enam tahun berkarier sebagai geisha, Tamura cuma mens 1-2 kali dalam setahun.

Tamura diminta menjadi iklan model wisata setelah dua tahun lebih sebagai Maiko. arsip pribadi Fumika Tamura

Geisha sudah ada sejak zaman Edo pada 1603-1868. Para perempuan yang telah menyelesaikan pelatihan selama enam tahun dianggap sudah siap tampil sebagai geisha dan melayani tamu di kedai teh.

Mereka menghibur pelanggan dengan tarian, nyanyian dan permainan shamisen (alat musik petik asal Jepang yang memiliki tiga senar). Geisha juga dikenal sebagai sosok yang pandai berbicara.

Tidak sembarang orang dapat menikmati pertunjukan geisha. Mayoritas tamu yang dilayani berasal dari kalangan atas, seperti pengusaha kaya raya dan CEO. Geisha bukan pekerja seks, tapi terkadang tamu diperbolehkan meniduri atau mengajak mereka mandi bareng.

Selama abad ke-18, banyak anak perempuan dari keluarga miskin yang dijual untuk menjadi geisha. Mereka dilatih dan dipekerjakan oleh “ibu” untuk melunasi utang keluarganya. Geisha mendapat bayaran sebagai ganti jasa menemani pelanggan.

Ada semacam upacara kedewasaan bagi para maiko yang sudah siap diangkat sebagai geisha. Dalam praktik yang biasa disebut “mizuage”, keperawanan maiko akan dilelang. Pelanggan yang menawar harga tinggi berhak menidurinya, tapi uangnya tidak diserahkan ke maiko.

“Para perempuan itu tidak bisa menolak, jadi ini ibaratnya seperti perbudakan seks,” terang Mariko Okada, profesor Universitas Oberlin yang mendalami budaya geisha.

Tahun 1956 seharusnya menjadi akhir dari praktik mizuage, mengingat Undang-Undang Anti-Prostitusi yang baru disahkan dapat menghukum para pengguna jasa pekerja seks komersial. Tapi nyatanya, praktik ini diam-diam masih dilanggengkan.

“Saya tak menyangka para perempuan yang bekerja di sana harus siap melayani nafsu pelanggan,” kata Okada, merujuk pada rumah geisha yang menjadi tempat kerja Kiritaka.

“Ini tidak bisa dimaafkan. Saya melihat perlunya layanan yang dapat mendukung orang-orang seperti Kiritaka di distrik geisha.”

Kiritaka, yang kini berusia 23, merasa tidak punya siapa-siapa selama menjadi maiko. Menurutnya, sang “ibu” tidak pernah membantunya ketika ada pelanggan mabuk yang menggerayangi tubuhnya.

Dia malah dimarahi jika mengeluh. Penampilan fisik Kiritaka pun sering dihina—katanya dia mirip jangkrik dan perlu operasi plastik biar cantik. Meninggalkan industri ini bukan perkara mudah, terutama untuk para perempuan yang masih menjadi maiko.

Mereka harus membalas kebaikan “ibunya” yang telah memenuhi semua kebutuhan mereka selama berlatih sebagai geisha. Di awal masa latihannya, Kiritaka sering mendengar cerita calon geisha yang diam-diam melarikan diri. Dia sendiri pernah mencoba kabur, tapi digagalkan oleh sang “ibu”.

Kiritaka baru bisa berhenti secara resmi setelah berminggu-minggu meminta maaf dan menulis surat kepada semua orang yang telah mengasuhnya selama ini.

“Saya mungkin sudah bunuh diri kalau terus bertahan di sana,” tuturnya.

Kiritaka tak yakin pengakuannya akan membawa perubahan pada tradisi yang telah dipraktikkan berabad-abad lamanya. Namun, dia berharap ini dapat menjadi peringatan bagi para perempuan yang tergiur dengan profesi geisha.

“Peraturannya dibuat seambigu mungkin supaya pria tua bisa menggoda gadis remaja—saya takkan pernah bisa memaafkan tindakan ini,” simpulnya.

Sumber: vice.com