HETANEWS.com - Inflasi bisa bertambah hingga 1,5-2 persen akibat naiknya harga BBM yang ditetapkan Presiden Jokowi pada 2 September 2022 lalu. Kenaikan inflasi yang bisa membuat bertambahnya jumlah orang miskin, dinilai ekonom bisa diatasi dengan Bantuan Langsung Tunai (BLT).

Hal itu diungkapkan Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (FEB UI), Teguh Dartanto. Dia mengatakan untuk mengantisipasi inflasi tinggi dapat dilakukan dengan memberikan kompensasi kepada masyarakat yang paling terdampak oleh kenaikan harga BBM.

"Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) biasanya dapat meningkatkan inflasi 1,5–2 persen," kata Teguh Dartanto di kampus UI Depok, Jawa Barat, seperti dilansir Antara, Senin (19/9).

Ia mengatakan inflasi pasti akan menaikkan kemiskinan, namun jika berbagai program dapat digalakkan dengan tepat, maka dampak kemiskinan dapat diminimalisasi.

Secara teoritis, lanjutnya, masyarakat dengan daya beli turun harus diangkat kembali agar kesejahteraan meningkat. Caranya adalah dengan membantu mereka agar memiliki daya beli yang sama seperti sebelumnya.

Polisi melakukan pengamanan saat berlangsungnya pemasangan informasi harga terbaru bahan bakar minyak (BBM) di salah satu SPBU kawasan Kota Banda Aceh, Aceh, Sabtu (3/9/2022). Foto: Ampelsa/ANTARA FOTO

"Misalnya, ketika kita memiliki uang Rp 10.000 kita akan memperoleh 10 untuk barang dengan harga Rp 100. Jika harga barang naik menjadi Rp 200, kita hanya memperoleh 5 barang dari uang tersebut," katanya.

Oleh karena itu, lanjut dia, agar tetap memperoleh 10 barang, kita harus mendapat tambahan uang. Di sinilah peran bantuan keuangan dari pemerintah. Konsep ini dikenal dengan compensating variation.

Compensating variation adalah jumlah uang tambahan yang diperlukan untuk memulihkan tingkat utilitas asli individu, jika harga barang yang dikonsumsi naik atau tidak lagi tersedia. Ini mengasumsikan bahwa harga dan ketersediaan semua barang lainnya tidak berubah.

Keberhasilan atau ketepatan compensating variation bergantung pada beberapa hal yaitu data penerima yang akurat (database), besaran kompensasi yang tepat, dan pemberian bantuan yang tepat waktu.

Teguh memprediksi kenaikan harga akan terasa 3–4 bulan ke depan terhitung sejak kenaikan harga BBM. Sehingga kompensasi bagi warga miskin, harus diberikan dengan cepat minimal selama tiga bulan dengan besaran Rp 100–Rp 150 ribu. Selain itu, pemerintah juga harus memberi perlindungan kepada UMKM yang terdampak.

Sumber: kumparan.com