SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Pria berinisial S (46) sebut saja Bolis, beralamat di Sei Rambe Bosar Maligas Kabupaten Simalungun, memang bejat karena menyetubuhi 2 putri kembarnya sebut saja Dina dan Dini (nama samaran) yang sudah dewasa dan berusia 20 tahun.

Ia didakwa melakukan pemerkosaan terhadap 2 putri kandungnya itu dalam tempo yang berbeda pada 14 Mei dan 27 Mei. Di lokasi perkebunan sawit di belakang rumah dan di dalam kamar rumah terdakwa Bolis.

Cara memperkosa Dina, dengan alasan memanggil korban ke belakang rumah untuk membantunya memungut brondolan sawit. Lalu korban dipaksa dan dipukul kepalanya hingga berhasil melampiaskan nafsunya.

Sedangkan korban Dini dipanggil ke kamar saat membersihkan rumah. Lalu didorong ke tempat tidur dan dipukul kepalanya, hingga ayah bejat itu berhasil melampiaskan nafsu bejatnya.

Perbuatannya kepada Dini di dalam kamar dipergoki saksi Eli Triana (istri terdakwa Bolis).

Mengetahui hal itu, saksi sebagai ibu kandung korban langsung melaporkan terdakwa Bolis. Hasil visum dokter dari RS Bhayangkara, selaput dara/hymen luka robek.

Sebelum persidangan, kedua saksi Dina dan Dini terlihat trauma dan malu akibat perbuatan ayah bejat yang seyogianya melindungi anak anaknya.

Sedangkan Eli Triana mengaku menikah dengan terdakwa dan dikarunia 4 orang anak, si kembar Dina dan Dini merupakan anak pertama dan kedua.

Saat memergoki perbuatan terdakwa, siang itu saksi pergi melayat. Ntah mengapa ada perasaan tak enak dan kembali ke rumah lalu melihat Bolis sedang menyetubuhi putrinya.

"Kalau Dina gak ku lihat, si Dini yang ku lihat. Perasaanku kok gak enak waktu aku pergi melayat. Lalu aku pulang lagi dan diam diam masuk ke rumah. Ku lihat orang ini," kata saksi yang mengaku sangat malu dengan apa yang terjadi dengan keluarganya itu.

Untuk menghindari gunjingan orang, kedua anak kembarnya itu dititip di rumah orangtuanya di daerah lain namun masih di Kabupaten Simalungun.

Jaksa Dedy Chandra Sihombing menjerat terdakwa Bolis melanggar pasal 6 huruf c Jo pasal 15 UU RI No 12/2022 tentang tindak pidana kekerasan seksual. Atau melanggar pasal 46 UU RI No 23/2004 tentang penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)