HETANEWS.com - China resmi menyetujui penggunaan vaksin Inhalasi Covid pertama di dunia. Vaksin ini dibuat oleh CanSino Biologics (CanSinBIO) di Tianjin.

Vaksin ini diberi nama Convidecia Air, menggunakan platform sama dengan vaksin COVID-19 yang disuntikkan. Vaksin ini bekerja dengan cara memasukkan potongan materi genetik yang dibawa oleh adenovirus tidak berbahaya sehingga tubuh dilatih untuk melawan virus.

Vaksin Convidecia Air bekerja dengan cara dihirup melalui mulut, di mana materi genetik terkandung dalam bentuk kabut halus. Adanya vaksin inhalasi ini bisa menjadi kabar baik buat orang-orang yang takut jarum suntik, terutama anak-anak.

Menurut database Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), vaksin inhalasi Convidecia Air ini menjadi yang pertama disetujui di antara 100 vaksin oral atau hirup yang saat ini dikembangkan di seluruh dunia.

Ilmuwan berharap, pemberian vaksin melalui metode hirup dapat memperkuat sel-sel kekebalan di selaput lendir yang ada di hidung dan mulut sehingga bisa mencegah penyebaran penyakit, bahkan bisa membunuh virus sebelum masuk ke dalam tubuh.

“Satu dosis yang diberikan dapat secara efektif menginduksi perlindungan kekebalan komprehensif sebagai respons terhadap SARS-CoV-2 hanya dalam satu kali hirupan napas,” kata perwakilan CanSinBIO dalam sebuah pernyataan sebagaimana dikutip Live Science.

Petugas menyuntikkan vaksin campak rubella kepada seorang anak dalam Bulan Imuniasi Anak Nasional (BIAN) di Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) III Tanah Abang, Jakarta, Kamis (4/8/2022). Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

CanSinBIO sendiri juga memiliki vaksin Covid dengan metode suntik dan telah disetujui pengunaannya di China dan beberapa negara lain.

Berdasarkan uji klinis tahap III yang diterbitkan di jurnal The Lancet pada 23 Desember 2021, vaksin Covid suntik CanSinBIO 57% efektik mencegah gejala COVID-19 dan 91,7% efektif mencegah gejala parah setelah empat minggu atau lebih dosis pertama diberikan.

Sementara hasil uji klinis vaksin inhalasi CanSinBIO yang diterbitkan di jurnal The Lancet pada 26 Juli 2022, menunjukkan pemberian dua dosis vaksin Covid inhalasi yang diberikan secara terpisah dalam rentang waktu 28 hari, punya efektivitas yang sama dengan satu dosis vaksin metode suntik.

Vaksin hirup ini sebenarnya hampir sama dengan vaksin untuk influenza yang diberikan melalui hidung, salah satunya vaksin FluMist intranasal. Dari sinilah peneliti berpikir untuk menciptakan vaksin covid inhalasi.

Alasannya sederhana, karena vaksin jenis ini menargetkan paru-paru dan saluran udara bagian atas tempat virus seperti influenza dan COVID-19 masuk ke dalam tubuh, maka vaksin yang dihirup kemungkinan bisa jauh lebih efektif dalam menghentikan penyebaran infeksi. Selain itu, dosis yang diperlukan juga jauh lebih rendah untuk melakukan pekerjaan yang sama seperti vaksin suntik.

Sumber: kumparan.com