JERMAN, HETANEWS.com-

Pemerintah Jerman berencana mengirim kapal perang ke wilayah Indo-Pasifik. Rencana ini diumumkan di tengah latihan China di sekitar Taiwan.

Dilaporkan Fox News, Kamis (1/9/2022), rencana itu diungkap Jenderal Eberhard Zorn. Namun, ia mengaku tidak ingin memprovokasi pihak manapun.

"Kami tidak ingin memprovokasi siapapun dengan kehadiran kami, tetapi ingin mengirim sinyak kuat solidaritas dengan sekutu-sekutu kita," ujarnya dalam wawancara bersama Reuters.

Jenderal Zorn berkata pihaknya mendukung kebebasan navigasi dan menjaga norma-norma internasional. Selain itu, Jerman juga berkata akan menaikkan anggaran militer mereka hingga melewat dua persen dari GDP.

Belakangan ini, Jerman justru sedang sibuk dengan perang Rusia di Ukraina. Kanselir Jerman Olaf Scholz berkata stok persenjataan Jerman juga berkurang karena mereka mengirim senjata-senjata ke Ukraina, meski demikian Jerman tetap akan terus mendukung Ukraina selama mungkin.

Jenderal Zorn juga berkata akan mengirim pasukan ke Australia untuk latihan militer tahun depan.

Latihan Intelijen Maritim RI-AS

Sementara, 25 lima perwira militer Indonesia merampungkan International Maritime Intelligence Course (IMIC) atau Pelatihan Intelijen Maritim Internasional bersama Amerika Serikat. Program ini digelar oleh Information Warfare Training Command San Diego (IWTC SD). Pelatihan ini selesai pada 26 Agustus 2022.

Berdasarkan keterangan resmi Kedutaan Besar AS, Kamis (1/9/2022), pelatihan IMIC memperkuat hubungan Amerika Serikat dengan negara-negara mitra dan membantu Amerika Serikat menjaga rute perdagangan bersama tetap terbuka bagi komunitas internasional.

“Pelatihan ini sangat penting bagi para komandan dalam mengambil keputusan. Kami berharap pelatihan ini dapat dilanjutkan dan ditingkatkan ke jenjang berikutnya di tahun depan,” kata Letnan TNI AL Amir Mahmud, salah satu peserta pelatihan tersebut.

Pelatihan seminggu tersebut, yang disampaikan melalui metode Tim Pelatihan Bergerak (Mobile Training Team, atau MTT), mendukung pelatihan intelijen negara mitra utama Indo-Pasifik. Ini adalah pelatihan lengkap IMIC pertama yang dilakukakan Komando San Diego di luar negeri sejak awal pandemi COVID-19.

MTT secara langsung mendukung Inisiatif Keamanan Maritim Indo-Pasifik (Indo-Pacific Maritime Security Initiative) Badan Kerjasama Keamanan Pertahanan (Defense Security Cooperation Agency), meningkatkan keamanan maritim dan kesadaran domain maritim negara-negara asing di sepanjang Laut China Selatan dan menuju Asia Selatan.

Pelatihan unggulan ini memberikan pelatihan intelijen dasar kepada perwira internasional dengan tingkatan gaji O-1 hingga O-5. Setelah lulus pelatihan, para peserta dapat memberikan dukungan intelijen bagi operasi dan perencanaan angkatan laut, baik di laut maupun darat.

Pihak Kedubes AS menyebut melalui pelatihan satu minggu ini, para perwira militer menyelesaikan pelajaran yang mencakup berbagai disiplin dan proses intelijen, termasuk latihan praktis tentang pengarahan, metode analitis, dan perencanaan intelijen.

Pelatihan ini mempersiapkan peserta untuk melaksanakan berbagai tugas yang bertitik berat pada evaluasi, analisis, dan penyebaran informasi penting untuk menginformasikan para pembuat keputusan melalui intelijen yang dapat ditindaklanjuti.

Pihak AS mengaku sangat menikmati pengalaman bersama para perwira dari Indonesia. Komunikasi pun terjadi dua arah, serta peserta dinilai aktif terlibat pada proses pelatihan.

“Ini adalah pengalaman yang sangat unik. Setelah mengajar beberapa kelas di San Diego, sangat menyenangkan untuk melihat peserta di lingkungan mereka sendiri, bekerja bersama rekan-rekan mereka. Ada cukup banyak interaksi dua arah, dan peserta sangat terlibat,” ujar Letnan Miranda Rogers, salah satu instruktur IMIC MTT.

Mantan Wakil Presiden Ukraina Annette Lu tidak ingin bila negaranya menjadi Ukraina selanjutnya. Wanita yang dulunya aktivis demokrasi ini meminta agar para pemimpin menghindari perang dan tetap netral.

Annette Lu adalah wakil presiden Taiwan pada tahun 2000-2008. Ia dan Presiden Chen Shui-bian mengakhiri kekuasaan Partai Kuomintang selama puluhan tahun.

Berdasarkan laporan Taiwan News, Rabu (31/8), Annette Lu menyebut sudah ada banyak masalah di negaranya, sehingga ia tidak ingin ada konflik lagi.

"Taiwan sedang berada di tepi perang," ujar Annette Lu di acara Peace and Justice Society di Taipei.

"Ada banyak masalah. Bagaimana kita bisa memihak?" ujarnya ketika membahas ketegangan di Selat Taiwan.

Lebih lanjut, Annette Lu menyorot bahwa Taiwan terjebak di pertikaian Amerika Serikat dan China, dan Taiwan harus bisa independen dari hal tersebut.

Annette Lu adalah anggota Partai Progresif Demokrat yang kini berkuasa di Taiwan dan tidak disukai Partai Komunis China. Akan tetapi, Annette Lu meminta bahwa siapa pun yang menjadi pemimpin Taiwan harus menghindari perang.

"Taiwan tidak boleh menjadi Ukraina kedua," tegasnya.

Sungai Rhine di Jerman Dilanda