HETANEWS.com - Tepat pukul 03.00 dini hari, Pangeran Alwaleed bin Talal terbangun karena suara telepon. Dari seberang sambungan telepon, pegawai kerajaan Arab Saudi menuntut kerabat dekat putra mahkota Kerajaan Arab Saudi itu segera meluncur ke Istana. Sang pegawai mengklaim Raja Salman telah menantinya.

Undangan serupa juga dikirimkan kepada Pangeran Miteb bin Abdullah. Via telepon, putra mendiang Raja Abdullah bin Abdulaziz itu diminta bergegas mempersiapkan diri. Sang raja disebut ingin bertemu dengan Komandan Garda Nasional itu.

Namun, undangan-undangan itu palsu. Alwaleed dan Miteb tak bertemu Raja Salman hari itu. Keduanya berakhir di kamar Ritz-Carlton, Riyadh. Di hotel mewah itu, petugas keamanan dan pejabat tinggi kerajaan Arab Saudi menanti kedua pangeran. Tudingan terlibat kasus korupsi dilayangkan kepada mereka.

Itu 4 November 2017. Selain Alwaleed dan Miteb, ada lebih dari 200 orang bernasib serupa. Tak hanya keluarga raja, sejumlah pejabat negara dan ratusan pengusaha juga diculik dan dibui di hotel itu.

"Pada malam pertama, semua orang ditutup matanya dan hampir semuanya jadi target apa yang disebut intelijen Mesir sebagai malam penyiksaan. Ada orang-orang yang diikat di dinding dalam posisi yang tak nyaman. Itu berlangsung hingga berjam-jam," kata seorang sumber kepada Guardian dalam "Night of the Beating': Details Emerge of Riyadh Ritz-Carlton Purge".

Penyiksaan itu dilakukan supaya para tersangka melunak. Pada hari berikutnya, para penyidik dihadirkan. Saksi-saksi pun bermunculan dengan beragam testimoni yang menyudutkan para tersangka.

Dokumen-dokumen rahasia, termasuk di antaranya terkait hubungan gelap yang melibatkan salah satu tahanan, dikeluarkan sebagai senjata untuk mengintimidasi.

Selain dipaksa mengakui kejahatannya, para tersangka juga diminta untuk menyerahkan sebagian hartanya. "Pada satu titik, mereka diberikan akses email dan telepon dan diminta untuk menghubungi manajer perbankan neraka di Jenewa dan dipaksa mentransfer uang dalam jumlah besar," kata sumber Guardian.

Penangkapan besar-besaran itu diperintahkan oleh putra mahkota Arab Saudi, Mohammad bin Salman (MbS). Beberapa bulan sebelumnya, Pangeran Salman sempat mengumbar ancaman bakal menggulung para koruptor duit negara. Ia mengklaim jutaan dollar duit kerajaan digarong tiap tahunnya oleh keluarga kerajaan dan pengusaha.

Tak semua tahanan selamat dari kamp penyiksaan dadakan itu. Sebagian tersangka hilang dan pulang tinggal nama. Salah satunya ialah Jenderal Ali al-Qahtani, loyalis Pangeran Turki Bin Abdullah. Al-Qahtani meninggal saat diinterogasi dan dipaksa mengungkap informasi mengenai Pangeran Turki.

"Saya diberitahu oleh para pegawai yang bekerja untuk Pangeran Turki, jenazahnya tak normal. Ada tanda-tanda dia dipukuli, ada luka bakar, dan lehernya patah," kata seorang kerabat kerajaan seperti dikutip dari New York Times.

Seperti Miteb, Pangeran Turki ialah salah satu putra mendiang Raja Abdullah dan punya peluang membidik takhta raja. Pangeran Turki menjabat sebagai Gubernur Riyadh saat kampanye antikorupsi itu digelar. Hingga kini, ia masih ditahan karena dituding menggelapkan duit negara.

Gerakan bersih-bersih yang diinisasi Pangeran Salman itu berlangsung hingga sekitar 15 bulan. Pada Januari 2019, Kerajaan Arab Saudi mengumumkan berhasil mengembalikan duit negara yang dikorupsi hingga US$106 miliar dalam berbagai bentuk, baik itu tunai maupun aset bangunan.

Kebanyakan analis beranggapan penangkapan besar-besaran terhadap para "koruptor" itu bagian dari upaya mengonsolidasi kekuasaan dan meredam oposisi. Namun, Pangeran Salman membantah kampanye antikorupsi itu bermotif politik.

"Sekarang semua orang paham bahwa bahkan jika kamu hanya mencuri seratus dollar, kamu harus membayarnya," kata Pangeran Salman yang juga dikenal dengan sebutan MbS itu dalam sebuah wawancara dengan The Atlantic, belum lama ini.

Hotel Ritz Carlton di Riyadh, Arab Saudi. /Foto Reuters

Dari penasihat hingga jadi putra mahkota

Operasi pemenjaraan koruptor di Ritz Carlton digelar hanya beberapa bulan sejak Pangeran Salman diangkat jadi putra mahkota. Menggantikan sepupunya, Muhammad bin Nayef, Pangeran Salman resmi didapuk jadi penerus raja pada 21 Juni 2017.

Perubahan garis suksesi takhta Arab Saudi itu disertai kudeta tak berdarah. Sejumlah media global melaporkan Nayef disekap di Istana dan dipaksa melepas jabatan putra mahkota kepada adiknya. Penyekapan didalangi Pangeran Salman dan disetujui sang raja.

Namun, laporan tersebut dibantah pihak kerajaan. Pejabat tinggi Arab Saudi mengatakan perubahan garis suksesi disetujui keluarga kerajaan. Nayef disebut jadi pangeran yang pertama yang menyatakan kesetiaan kepada Pangeran Salman.

Nayef tak langsung "dihabisi". Saat operasi antikorupsi digelar, Nayef tak ikut digulung. Ia baru jadi pesakitan belakangan. Bersama adik Raja Salman, Ahmed bin Abdulaziz, Nayef ditangkap pada 2020. Tudingannya yang dilayangkan ialah merencanakan pengkhianatan terhadap rezim yang berkuasa.

"Dengan penangkapan-penangkapan ini, MbS mengonsolidasikan cengkeramannya terhadap kekuasaan. Berakhir sudah dengan pembersihan ini. Tak ada lagi rival yang bisa mencegah suksesi," kata seorang pejabat Arab Saudi seperti dikutip dari Reuters.

Saat diangkat jadi putra mahkota, Pangeran Salman baru berusia 31 tahun. Dua tahun sebelumnya, pangeran yang hobi memelihara cambang itu menarik perhatian dunia saat ditunjuk jadi Menteri Pertahanan Arab Saudi. Masih berusia 29 tahun, Pangeran Salman jadi Menteri Pertahanan termuda sepanjang sejarah.

Dalam Crown Prince Mohammed bin Salman: Time of Buldozzer yang terbit pada 2020, Susanne Koelbl mengatakan penunjukkan Pangeran Salman dalam berbagai pos penting mengindikasikan favoritisme Raja Saudi. Sejak awal, sang raja memang ingin Pangeran Salman meneruskan takhta.

"Sang raja tetap ada di balik kemudi, tapi telah menyerahkan urusan pemerintahan sehari-hari kepada putranya. Sang pangeran muda telah mencapai puncak kekuasaannya, mewakili negeri itu seolah sudah jadi penguasa resmi," tulis Koelbl.

Kedekatan Raja Salman dan putranya itu terekam sejak MbS masih kecil. Saat masih jadi Gubernur Riyadh, Salman sudah sering mengajak putranya bertemu orang-orang penting. MbS bahkan tercatat sudah ikut "ngantor" bersama sang ayah sejak usia 12 tahun.

"Pada usia 19 tahun, Pangeran Salman praktis menemani ke mana pun ayahnya pergi. Dia menulis catatan-catatan layaknya asisten personal sang ayah dan membisikan gagasan-gagasan ke telinga sang ayah," kata Koelbl.

Dalam MBS: The Rise to Power of Mohammed bin Salman yang terbit pada 2020, Ben Hubbard menulis MbS dikenal sebagai anak yang temperamental. Dia seringkali nakal dan murka ketika dimarahi oleh kakak-kakaknya atau keluarga lainnya.

Suatu ketika saat remaja, MbS pernah menyamar jadi polisi dan pergi ke sebuah mal di Riyadh untuk "gagah-gagahan". Namun, tak ada yang berani menghentikannya karena tahu MbS putra gubernur.

"Sebagai seorang pangeran, MbS tumbuh dengan limpahan warisan dan privilise, bersosialisasi di istana, ikut konvoi, dikelilingi para pengasuh, tutor, dan pengawal," tulis Hubbard.

Tak banyak informasi terkait masa muda Pangeran Salman. Namun, sang pangeran muda dikenal ambisius. Salah satu rekan Salman saat kuliah menyebut sang pangeran pernah mengungkap terinspirasi Kaisar Macedonia Alexander Agung.

Jurnalis sekaligus penulis buku Kim Ghatta menyebut MbS hanya ketiban untung saat ayahnya jadi raja. Sebelum diangkat jadi menteri pada 2015, sang pangeran relatif tak punya prestasi yang bisa dibanggakan.

"Dia tak pernah menjalankan perusahaan yang sukses. Dia tak pernah punya pengalaman militer. Dia tak pernah belajar di universitas luar negeri. Dia tak pernah menguasai, atau bahkan setidaknya paham, satu pun bahasa asing," kata Ghatta.

Raja Salman punya belasan anak. MbS adalah putra pertama dari istri ketiga Raja Salman. Ia bukan yang tertua dan jauh dari "antrean" jabatan putra mahkota. MbS mendadak punya peluang jadi penerus takhta setelah dua putra mahkota Arab Saudi meninggal pada 2012.

Ilustrasi perempuan Arab Saudi. /Foto Reuters

Reformasi dan skandal

Meskipun kontroversial, MbS populer di publik Saudi, khususnya di kalangan milenial. Salah satu penyebabnya ialah gagasan reformasi yang ia usung. Bertajuk Vision 2030, gagasan itu kali pertama ia perkenalkan dalam sebuah konferensi pers di Hotel Ritz Carlton pada 2016.

Dalam Vision 2030, MbS berniat mendiversifikasi perekonomian Arab Saudi supaya tak bergantung pada minyak lagi. Ia merencanakan sejumlah proyek berbasis teknologi untuk menjadikan negeri itu sebagai ladang investasi global.

Pangeran Salman juga memperkenalkan sejumlah reformasi sosial di negeri asal paham Wahabi itu. Di antara lainnya, perempuan di Arab Saudi kini diperbolehkan menyetir, menonton di bioskop, dan jadi tentara. Konser musik dan acara komedi juga kini rutin jadi santapan publik.

"Kita hanya mencoba kembali kepada apa yang kita ikuti dahulu--Islam moderat yang terbuka bagi dunia dan seluruh agama," kata Pangeran Salman dalam sebuah wawancara.

MbS keji terhadap para kritikus rezim. Pada 2018, ia menjebloskan aktivis perempuan Loujain al-Hathloul ke penjara. Al-Hathloul dikenal sebagai aktivis yang giat memperjuangkan hak perempuan untuk mengemudi dan keluar rumah tanpa pendamping pria.

Ironisnya, Al-Hathloul ditangkap tak lama setelah MbS mencabut dua larangan itu. Pada Februari 2021, Al-Hathloul dibebaskan. Namun, sang aktivis kini dilarang bepergian ke luar negeri dan berbicara di ruang publik.

Pembangkang "terkenal" lainnya yang dibui MbS ialah Salman al-Awda. Al-Awda ialah ulama yang punya banyak pengikut di Arab Saudi dan pernah jadi penyiar televisi. Kejahatannya hanya karena sekadar mengkritik MbS di Twitter.

"Dalam delapan bulan pertama pemerintahannya sebagai putra mahkota, 133 orang dieksekusi, baik itu dipenggal atau dilempari batu hingga mati... Tak terhitung berapa banyak aktivis yang hilang," tulis Susanne Koelbl.

Infografik Alinea.id/MT Fadillah

Meski hobi bikin skandal di dalam negeri, MbS relatif punya citra yang baik di dunia internasional. Citra sang pangeran baru tercoreng saat diduga terlibat dalam pembunuhan jurnalis Washington Post Jamal Khashoggi di Instanbul, Turki, pada awal Oktober 2018.

Sekira sebulan berselang, CIA mengumumkan Pangeran Salman menginstruksikan pembunuhan tersebut. Sejak saat itu, MbS jarang keluar Istana untuk pelesiran ke luar negeri. Ia juga hampir tak pernah muncul lagi di ruang publik.

Pangeran Salman membantah terlibat dalam pembunuhan tersebut. Sang pangeran menyebut Khashoggi tak terlalu penting untuk dihabisi. Ia bahkan mengklaim tak pernah membaca satu pun artikel yang ditulis Khashoggi.

"Insiden Khashoggi merupakan hal terburuk yang pernah terjadi pada saya karena itu bisa merusak semua rencana saya untuk mereformasi Arab Saudi," kata MbS.

Tak lama setelah pembunuhan, sebuah pengadilan dagelan digelar Arab Saudi. Tujuh tersangka pembunuh Khashoggi dihadirkan. Dua divonis mati dan sisanya dihukum bui. Namun, nama para tersangka tak pernah diumumkan oleh otoritas Saudi.

"Saya akan memilih target yang lebih penting dan memilih pembunuh yang lebih kompeten. Seandainya saya punya daftar target, Khashoggi bahkan tidak akan ada di jajaran 1.000 orang teratas dalam target itu," ujar MbS.

Di luar beragam jeratan skandal, jalan Pangeran Salman untuk naik takhta kini telah mulus. Dalam sebuah wawancara, sang pangeran sesumbar bakal memenuhi "takdirnya" jadi raja. "Hanya kematian yang bisa menghentikannya," kata dia.

Sumber: alinea.id