HETANEWS.com - Sampah di Parapat akhir akhir ini menjadi masalah yang belum terselesaikan, terlebih karena Volume sampah di Kecamatan Girsang Sipanganbolon ini setiap harinya mengalami peningkatan apalagi di hari weekend.

Volume sampah yang banyak lebih dari 30 ton/hari mengakibatkan TPS (Tempat Pembuangan Sampah) di Sipanganbolon penuh sehingga distribusi sampah dari rumah penduduk dan tempat umum terganggu selain itu tumpukan di kantong kantong pembuangan sampah warga tidak terelakkan.

Hal ini disampaikan Camat Girsang Sipanganbolon Josua M Simaibang kepada awak media Senin (29/08/2022), mengatakan tumpukan sampah di Kota Parapat karena Kondisi TPS di Sipanganbolon penuh sehingga membutuhkan alat berat dan trado untuk menormalisasi kondisi sampah yang ada.

"Kami sedang berupaya melobby kebeberapa pihak ketiga untuk memenuhi kebutuhan dan pengadaan alat berat tersebut untuk membantu normalisasi TPS Sipanganbolon," ujar Josua.

Camat juga membeberkan ketiadaan anggaran dari pemerintah untuk menormalisasi TPS yang penuh itu sehingga dia harus mengeluarkan biaya pribadi, Oleh sebab itu diharapkan kesabaran semua masyarakat terkait penumpukan sampah yang sedang terjadi.

Selain merogoh kocek untuk biaya operasional dilapangan, Simaibang juga telah meminta dukungan PT. LDN Sitahoan pengadaan Dozer, dan PT TPL untuk Trado agar turut membantu menormalisasi TPS penuh sejak seminggu terakhir.

Melihat situasi itu, Camat Josua Simaibang membeberkan bahwa harusnya secara periodik ada excavator kecil yang operasikan di TPS sepanjang hari untuk mendorong tumpukan sampah.

"Alat normalisasi itu kita tidak punya dan saat ini masih kecamatan saja yang melakukan normalisasi secara mandiri sesungguhnya kita membutuhkan operation house untuk operator dan alat kecil di lokasi TPS itu kedepannya," urai Camat.

Sedangkan Marulituah Simanjuntak warga Tigaraja dan juga Ketua HPI Simalungun mengatakan sudah seminggu sampah di depan rumahnya bertumpuk dan mengeluarkan aroma tidak sedap, Dia meminta Pemerintah Kecamatan dan Kabupaten lebih serius menangani sampah di Parapat karena daerah wisata.

"Parapat sebagai pintu gerbang wisata Danau Toba sebagai cerminan awal bagi tamu, Sampah sangat sensitif bagi tamu, tapi kalau itu saja tidak bisa beres, bertumpuk dimana mana mengeluarkan aroma busuk bagaimana tamu bisa betah di Parapat dan Danau Toba, kami sebagi warga dan Pelaku wisata meminta keseriusan pemerintah menangani sampah di Parapat," Ujar Maruli.

Maruli meminta Pemerintah Kabupaten ataupun Provinsi memfasilitasi lahan dan operasional untuk TPS di Parapat, karena bukan hanya tanggungjawab Kecamatan tapi Nasional karena Parapat bagian dari Destinasi Pariwisata Super Prioritas Danau Toba.