HETANEWS.com - Gelombang panas ekstrem menghantam China, menjadi yang terparah dalam sejarah mereka. Disebut gelombang panas monster, peristiwa ini menyebabkan kekeringan terburuk yang pernah tercatat.

Gelombang panas ini membuat danau kering, pemadaman listrik, kebakaran hutan, dan masalah pertanian yang mengancam.

Gelombang panas di China juga berpotensi menjadi yang terpanjang di dunia. Pada 15 Agustus, gelombang panas di China telah berlangsung 64 hari. Ini adalah rekor terpanjang sejak 1961.

Pada 18 Agustus 2022, suhu di kotamadya Chongqing mencapai 45 derajat Celcius. Ini menjadi yang tertinggi yang pernah tercatat di luar wilayah Xinjiang.

Pekan lalu, sepertiga dari 600 stasiun cuaca di sepanjang Sungai Yangtze mencatat suhu tinggi, tepatnya pada Jumat 19 Agustus 2022 dengan suhu mencapai 40 derajat Celcius. Selain suhu yang panas, China juga mengalami kelangkaan hujan yang sangat parah. Curah hujan dilaporkan turun hingga 45 persen dari jumlah rata-rata.

Volume air di Sungai Yangtze dan danau utama di lembahnya, Dongting dan Poyang, turun ke level paling rendah. Padahal sungai Yangtze menjadi hajat hidup orang banyak, menyediakan air bagi ratusan juta orang China.

Kekurangan air ini menimbulkan segudang permasalahan. Pekan depan, misalnya, seharusnya menjadi panen musim gugur beras, biji-bijian, dan tanaman lainnya di lembah Yangtze. Tapi gelombang panas telah menempatkan hasil pertanian ini di bawah ancaman, di mana jika hasil panen rendah akan berdampak besar pada harga pangan di seluruh dunia.

Beberapa wilayah telah melakukan modifikasi cuaca dengan cara penyemaian awan. Selain masalah gagal panen, China dihadapkan dengan masalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Beberapa provinsi seperti Sichuan di China barat daya mengandalkan listrik dari PLTA. Tapi akibat kekeringan, volume air di waduk setempat berada di titik terendah membuat sejumlah PLTA berhenti beroperasi untuk sementara waktu.

Bagaimanapun, gelombang panas ini kemungkinan besar akan dialami wilayah lain di luar China, yang tentunya akan berdampak pada sektor pertanian, ekonomi, kesehatan dan masih banyak lagi.

Sumber: kumparan.com