MEDAN, HETANEWS.com - Penertiban barak narkoba di Desa Namorube Julu, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang, dan Jalan Sei Petani, Kelurahan Tanah Seribu, Kecamatan Binjai Selatan, Kota Binjai menguak adanya permainan mafia dan bandar sabu, soal penguasaan lahan diduga eks HGU PTPN II.

Lahan diduga eks HGU PTPN II yang ada di dua lokasi itu selama ini dikelola dan dikuasai mafia serta bandar sabu. Tak tanggung-tanggung, lahan diduga eks HGU PTPN II yang dikuasai mafia dan bandar sabu luasnya mencapai 10 hektare.

Terkait hal ini, Tribun-medan.com masih berupaya mengonfirmasi pejabat PTPN II dan Pemkab Deliserdang, serta Pemko Binjai. Selama beroperasi, barak narkoba ini tak pernah ditertibkan pemerintah daerah.

Pemerintah daerah dan pihak terkait terkesan 'mandul' dan tumpul dalam menghadapi para mafia dan bandar sabu ini. Sudah bertahun-tahun berdiri, baru kali ini barak narkoba tersebut ditertibkan.

Aparat pemerintah dan pihak berwenang membiarkan begitu saja para mafia dan bandar sabu menguasai lahan tidur tersebut untuk usaha bisnis haramnya.

Kabag Ops Polrestabes Medan, AKBP Arman Muis mengatakan pihaknya akan mengejar pengelola lahan, yang selama ini menjadikannya sebagai barak narkoba.

"Untuk masalah kepemilikan, siapa yang mendirikan ini, ini masih didalami oleh Reskrim bersama Intel. Sementara itu masih dalam proses penyelidikan," kata Arman kepada Tribun-medan.com, Jumat (26/8/2022).

Ia menegaskan, pihaknya akan mengejar para pelaku yang terlibat dalam pengoperasian barak narkoba terbesar di Sumut itu.

"Kita cari, kita kejar pelaku-pelakunya. Sampai hari ini Sat Reksrim bersama Sat Narkoba dan Intel sedang melakukan pendalaman baik dari kepemilikan siapa yang punya," sebutnya.

Arman menuturkan, saat ini ada sejumlah titik yang dilakukan penertiban di lokasi tersebut.

"Ada enam lokasi, semua hari ini (ditertibkan)," ungkapnya.

Warga bungkam

Tribun-medan.com sempat mewawancarai sejumlah warga di dua lokasi terpisah, yang ditertibkan petugas. Sayangnya, tak satupun warga yang berani buka suara.

Mereka diduga takut, dan adapula yang sengaja menutup-nutupi nama pengelola barak narkoba ini. Ada bisik-bisik di tengah masyarakat, bahwa pengelola barak narkoba ini bagian dari kelompok OKP tertentu.

Kelompok OKP ini disebut-sebut bekerjasama dengan sejumlah oknum, sehingga aman menjalankan bisnis haramnya. Tiap kali akan digerebek, lokasi pasti sudah kosong. Tak pelak, kecurigaan pun muncul.

Ada rumor yang menyebutkan, bahwa para bandar sabu ini turut memelihara sejumlah oknum yang bertugas di Kota Medan. Sehingga, tiap kali Polrestabes Medan akan melakukan penindakan, lokasi sudah bersih.

Curi listrik PLN

Sejumlah barak narkoba yang ada di Desa Namorube Julu, Kecamatan Kutalimbaru, Kabupaten Deliserdang ternyata curi listrik PLN. Selain curi listrik PLN, barak narkoba yang dikelola bandar sabu ini disinyalir menggunakan lahan eks HGU PTPN II.

Sayangnya, setelah sekian lama beroperasi, baru sekarang barak narkoba itu ditindak petugas.

"PLN hari ini menurunkan timnya memutuskan arus listrik," kata Kabag Ops Polrestabes Medan, AKBP Arman Muis, Jumat (26/8/2022).

Arman menuturkan, diputusnya listrik di lokasi karena gubuk-gubuk tersebut selama beroperasi curi listrik PLN.

"Terjadi pelanggaran pencurian arus listrik," sebutnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan, pihak PLN berencana melaporkan masalah ini ke polisi.

"Sementara nanti PLN akan membuat laporan dan pastinya akan membuat pengaduan ke pihak kepolisian," ucapnya.

Amatan Tribun-medan.com, di lokasi tampak sejumlah petugas PLN sedang melakukan pemutusan arus listrik menggunakan alat. Namun, tidak seorang pun petugas PLN yang berkenaan untuk diwawancarai oleh wartawan.

Sumber: tribunnews.com