SIANTAR, HETANEWS.com - Komisi Hukum dan perundang undangan DP MUI Kota Pematangsiantar gelar sosialisasi hukum faraidh (harta warisan), Ahad (14/8/2022 atau 16 Muharram 1444 H). Bertempat di aula gedung MUI Jalan Kartini Siantar dihadiri puluhan peserta.

Ilmu faraid adalah ilmu yang membahas tentang aturan pembagian harta warisan seseorang yang telah meninggal kepada ahli warisnya yang masih hidup sesuai syariat Islam. Tidak hanya harta, tetapi juga hak-hak lainnya yang berhak diperoleh ahli waris.

Dalam ilmu faraid, dijelaskan secara lengkap apa yang dimaksud dengan harta waris, siapa yang berhak menerimanya, hingga rukun dan syarat pembagian harta warisan.

Tujuannya agar warisan yang diperoleh menjadi harta yang halal untuk dimanfaatkan.

Demikian dikatakan ketua panitia pelaksana kegiatan tersebut Herri Okstarizal. Hadir sebagai narasumber Ketua DP MUI Kota Siantar M Ali Lubis dan Ketua Pengadilan Agama Astri Handayani.

"Tujuan mempelajari ilmu Faraidh adalah untuk menghindari pertengkaran dalam keluarga. Karena harta peninggalan seseorang yang telah meninggal dunia (warisan) sering kali menimbulkan bahkan hingga memutus tali persaudaraan. Untuk menghindarinya, Allah telah menurunkan ketentuan yang terangkum dalam ilmu faraid atau ilmu mawaris.

Salah satunya agar warisan yang diperoleh menjadi harta yang halal untuk dimanfaatkan," kata Herri.

Zainal Siahaan saat membuka acara sosialisasi tersebut menjelaskan bahwa ilmu faraid secara khusus juga diuraikan dalam Al Quran Surat An Nisa ayat 11, 12, dan 176. Ayat-ayat tersebut menjelaskan bagian warisan untuk setiap ahli waris, yakni seperdua, seperempat, dua pertiga, sepertiga, seperenam, dan seterusnya sesuai dengan kondisi-kondisi yang mungkin terjadi.

"Barangsiapa yang mengambil harta warisan yang bukan haknya maka neraka ganjarannya," ungkapnya.

M Ali Lubis dalam paparannya menjelaskan bagaimana pembagian harta warisan menurut Islam sesuai hukum faraidh ada 3 macam.

Mewarisi dengan Fardhu saja dan Mewarisi dengan fardhu dan Asbah (keluarga yang memiliki hubungan paling dekat dengan almarhum). Atau mewarisi dengan Asbah saja.

Sementara itu Ketua PA Siantar memaparkan peran PA dalam hukum Faraidh. Dan hal apa saja yang bisa dimohonkan ke Pengadilan tentang waris menurut peraturan Undang Undang.

Zainal mengharapkan seluruh peserta yang ikut dalam sosialisasi tersebut dapat memahami hukum Faraidh tersebut. Sehingga dapat mensosialisasikan lagi kepada masyarakat luas. Untuk mengindari perpecahan dalam pembagian harta warisan.