SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Majelis hakim Pengadilan Negeri Simalungun diketuai Nurnaningsih, beranggotakan Yudhi Dharma dan Widiastuti menjatuhkan vonis lebih berat kepada pelaku Predator seksual. Terdakwa Ruaman Siregar (54) divonis 18 tahun penjara, disidang Rabu (10/8/2022).

Predator seksual biasa digunakan sebagai julukan bagi orang yang kerap memangsa dan berburu 'korban' untuk melayani hasrat seksualnya. Umumnya, mereka yang disebut predator seksual mengincar anak-anak.

Vonis hakim tersebut lebih berat daripada tuntutan jaksa Fransiska Sitorus, yang sebelumnya menuntut pidana penjara selama 13 tahun.

Selain pidana penjara, terdakwa yang bertempat tinggal Huta III Sipolpol Nagori Tonduhan juga dibebankan membayar denda Rp 80 juta subsider 6 bulan kurungan. Ia terbukti melakukan perbuatan cabul terhadap 2 korban kakak beradik yang masih berusia 7 dan 11 tahun.

Hakim menyatakan terdakwa bersalah melanggar pasal 81 ayat (2) dan 3 UU No.17/2016 tentang perubahan kedua atas UU RI No.23/2022 tentang Perlindungan Anak.

Berdasarkan fakta persidangan menurut hakim, perbuatan cabul itu dilakukan di rumah terdakwa RS (54) yang dipanggil Amangboru oleh kedua korban di Hatonduhan Simalungun. RS merupakan Abang ipar ayahnya korban.

Perbuatan itu dilakukan saat orangtua korban pergi kerja ke ladang.Kedua korban yang sedang bermain di halaman rumah pelaku usai pulang sekolah pada Senin, 7 Pebruari 2022 ditarik masuk ke kamar. Awalnya si kakak ditarik ke dalam kamar, usai melampiaskan nafsunya, korban diberi uang 5000 dan diancam untuk tidak memberitahukan siapa pun.

Korban sempat menangis lalu pergi jajan usai menerima uang 5000. Tak sampai disitu, RS pun kembali menarik adiknya dan diperlakukan hal yang sama. Ketika korban menangis kesakitan, mulutnya dibekap pelaku dan mengancam jangan memberitahukan siapapun jika tidak ingin dimarahi.

Terdakwa RS dalam persidangan didampingi pengacara prodeo Josia Manik menangis mendengar vonis tersebut. Meski sebelumnya terdakwa sudah memohon kepada hakim agar hukuman diringankan, dengan alasan menyesal.

"Atas putusan tersebut, terdakwa boleh menyatakan terima ataupun mengajukan upaya hukum banding," kata hakim sambil mengetuk palu menutup persidangan.