HETANEWS.com - Festival Ekonomi Syariah (FESyar) Sumatera tahun 2022 di Banda Aceh secara resmi dibuka, Deputi Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, Kamis (4/8/2022) malam bertempat di Mesjid Raya Baiturrahman.

Event FESyar tersebut dalam rangkaian menuju puncak kegiatan ISEF (Indonesia Sharia Economic Festival) di bulan Oktober mendatang.

FESyar ke 6 di Sumatera tersebut mengambil tema “Sinergi Ekonomi dan Keuangan Syariah Untuk Memperkuat Pemulihan Ekonomi Sumatera yang Inklusif”.

Dengan tema tersebut, ia berharap dapat menunjukkan semangat dan komitmen bersinergi di pusat maupun daerah dalam mendukung upaya pemulihan ekonomi.

Lebih khusus, faktor sejarah dan budaya Aceh yang kemudian dikenal sebagai serambi Mekah tentunya akan memberi daya dorong yang positif bagi tumbuh kembang ekonomi dan keuangan syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
 

"Kami melihat bahwa di Provinsi Aceh adat dan hukum merupakan suatu kesatuan yg tak bisa dipisahkan, maka implementasi ekonomi dan keuangan syariah insyaAllah akan senantiasa mewarnai aktivitas masyarakat di Bumi Serambi Mekkah," ungkapnya.

Dikatakannya, beberapa tahun terakhir industri halal di dunia terus mengalami perkembangan yang menjanjikan.

Meskipun dunia sempat dilanda pandemi dan sebagian besar masyarakat mengurangi aktivitasnya di publik, namun permintaan terhadap produk-produk halal masih menunjukkan pertumbuhan positif.

Seperti dirilis oleh Dinar Standard jika sektor Halal Food Indonesia pada tahun 2022 ini terus  mengalami kenaikan peringkat secara global. Dari peringkat ke 4 menjadi peringkat ke 2. 

Meski demikian, laju pemulihan ekonomi global masih dihadapkan pada tantangan yang cukup berat dari sisi eksternal sehingga berdampak kepada proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang diprakirakan lebih rendah akhir tahun ini. 

Pada pertemuan di bulan Juli lalu, Presidensi G20 Indonesia kemudian mengelompokkan tantangan global tersebut kedalam 5 isu utama.

Pertama, bagaimana mengatasi isu kesehatan dan ketahanan pangan. Kedua, bagaimana mengintegrasikan berbagai kebijakan makroekonomi menjadi bauran kebijakan yang efektif. 

Ketiga, bagaimana menerapkan bauran kebijakan tersebut untuk menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan serta memperkuat pemulihan.

Keempat, bagaimana CBDC dirancang sehingga dapat memfasilitasi konektivitas pembayaran lintas negara namun tetap menjaga stabilitas moneter dan sistem keuangan. Kelima bagaimana sinergi dan dukungan keuangan berkelanjutan menuju net zero carbon emissions.

Guna merespons tantangan-tantangan tersebut, tidak dapat hanya bertumpu pada satu bentuk kebijakan, sehingga diperlukan dukungan serta peran aktif dari pengembangan kegiatan usaha syariah di daerah, terutama dalam hal memastikan terjaganya ketahanan pangan di masyarakat.

Secara statistik, pada Tw I 2022, sektor aktivitas usaha syariah mencatat pertumbuhan sebesar 4,73% (yoy) lebih tinggi dibandingkan Tw sebelumnya yang sebesar 4,45%.

Hal ini merupakan modal yang baik untuk terus meningkatkan daya ungkit industri halal di daerah dalam turut mendorong stabilitas dan laju pemulihan, seraya upaya untuk melakukan transformasi ekonomi tetap ditempuh melalui strategi korporasi, kapasitas dan pembiayaan bagi usaha mikro syariah.

Bank Indonesia sendiri akan terus memperkuat sinergi dan koordinasi dengan Pemerintah (Pusat dan Daerah) untuk mengelola tekanan inflasi dari sisi suplai dan mendorong produksi serta mendukung ketahanan pangan, maupun sinergi kebijakan bersama otoritas terkait dalam mendorong kredit/pembiayaan kepada pelaku usaha sektor prioritas untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Selain itu, kebijakan ekonomi dan keuangan syariah di dalam negeri memerlukan strategi pengembangan yang semakin inovatif dan kreatif untuk dapat meningkatkan daya saing global. Implementasi ke-3 pilar blueprint Eksyar (pemberdayaan ekonomi syariah, pendalaman pasar keuangan syariah, dan penguatan riset, asesmen dan edukasi) dalam hal ini mesti diselaraskan dengan isu-isu utama yang tengah dihadapi, diantaranya adalah ketahanan pangan dan pemanfaatan digitalisasi pada perekonomian.
 

Pada Pilar Pertama, Pilar Pemberdayaan Ekonomi Syariah akan menitikberatkan pada pengembangan sektoral usaha syariah.

Program ini dilaksanakan pada 5 sektor unggulan yaitu sektor industri makanan halal, halal fesyen, sektor pariwisata halal, sektor pertanian dan sektor renewable energy.

Pilar Kedua, Pilar Pendalaman Pasar Keuangan Syariah. Dengan merefleksikan upaya peningkatan pembiayaan syariah untuk mendukung pengembangan usaha syariah. 

Pilar ini ditujukan untuk mengoptimalkan Islamic social finance dalam mendukung pembangunan ekonomi.
 

Sementara itu, untuk memperkuat visi pengelolaan keuangan sosial syariah secara digital. Pada tanggal 26 Juli 2022 telah diluncurkan WIZSTREN yaitu lembaga pengelola ZISWAF dibawah HEBITREN yang didukung pula dengan platform digital aplikasi ‘wizstren.id’. 

Kemudian Pilar Ketiga, Pilar Penguatan Riset, Asesmen dan Edukasi termasuk sosialisasi dan komunikasi.

Menjadi landasan tersedianya sumber daya insani yang handal, professional, dan berdaya saing. Berbagai bentuk program edukasi dan sosialisasi dilakukan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat baik melalui jalur formal maupun non formal Bank Indonesia bersama stakeholder telah melakukan pula berbagai sosialisasi, kampanye, seminar, workshop, dan talkshow terkait Eksyar di berbagai wilayah termasuk di Sumatera dalam rangkaian road to FESyar.