JAKARTA, HETANEWS.com - Amerika Serikat mengklaim berhasil membunuh pemimpin Al Qaeda Ayman al-Zawahiri. Ia adalah pengganti Osama bin Laden yang masuk dalam daftar teroris paling berbahaya di dunia.

Dilansir dari situs FBI, Amerika Serikat memberi hadiah US$ 25 juta atau senilai Rp 371 miliar untuk siapapun yang berhasil menangkapnya. Lalu, siapa Ayman al-Zawahiri yang menjadi target utama AS?

Ayman al-Zawahiri adalah dokter bedah asal Mesir. Ayahnya adalah Mohammed Rabie al-Zawahiri dan ibunya, Umayma Azzam. Ia lahir dari lingkungan dokter dan cendikia. Ayah Zawahiri adalah seorang profesor farmakologi dan kakek dari pihak ibu adalah presiden Universitas Kairo.

Selain dokter bedah, Al-Zawahiri adalah seorang profesor di Universitas Kairo. Nama lengkapnya yaitu Ayman Mohammed Rabie al-Zawahiri, kelahiran Mesir, 19 Juni 1951.

Istri dan ketiga anaknya telah terbunuh saat serangan udara di Afganistan pada tahun 2001. Pada Mei 2011, Ayman menjadi pemimpin Al-Qaeda yang baru setelah Osama bin Laden meninggal.

Pertemuan Zayman al-Zawahiri dengan Osama bin Laden terjadi pada 1986 di Jeddah. Saat itu dia sedang menunaikan ibadah haji dan membuka praktik pengobatan di sana.

Pandangannya yang radikal terhadap Islam menjadikannya orang kepercayaan Osama. Pada 1993, Ayman al-Zawahiri diangkat menjadi pimpinan Jihad, salah satu gerakan milisi Mesir terbesar.

Enam tahun kemudian dia dijatuhi hukuman mati oleh Mesir karena dianggap ikut serta dalam plot membunuh presiden Mesir Anwar Sadat. Dalam manifesto yang diterbitkan tahun 1998, al-Zawihiri menulis soal kebenciannya terhadap AS.

“Membunuh orang Amerika dan sekutu mereka, sipil dan militer, adalah kewajiban individu bagi setiap Muslim yang dapat melakukannya di setiap negara yang memungkinkan untuk melakukannya,” tulis Zawahiri.

Tiga tahun kemudian, dia akan mengakui bahwa membantu merencanakan serangan 11 September 2001 di World Trade Center dan Pentagon.

Meskipun tidak memiliki karisma pribadi bin Laden, Zawahiri menjadi kekuatan intelektual di balik banyak ambisi terbesar al-Qaeda, termasuk upayanya yang tampaknya tidak berhasil untuk memperoleh senjata nuklir dan biologi.

Dan setelah kelompok itu mundur secara paksa dari pangkalannya di Afghanistan pada awal 2002, sebagian besar Zawahiri yang memimpin kebangkitan al-Qaeda di wilayah suku tanpa hukum di seberang perbatasan di Pakistan, menurut pengamat lama kelompok teroris itu.

Di tahun-tahun terakhirnya, Ayman al-Zawahiri memimpin Al-Qaeda saat sebagian besar tokoh pendiri kelompok itu tewas atau bersembunyi. Al Qaeda juga kehilangan kharisma karena peran kepemimpinan organisasi itu mendapat tantangan agresif dari kelompok lain yaitu Negara Islam atau ISIS.

“Zawahiri adalah ideolog al-Qaeda, seorang yang berpikiran daripada bertindak,” ujar Bruce Riedel, mantan ahli kontraterorisme CIA dan penasihat empat presiden AS.

Sumber: tempo.co