SIANTAR, HETANEWS.com - Terdakwa Budi Priady (20) warga jalan Kiyai Kelurahan Bantan divonis 4 tahun denda Rp.800 juta. Jika denda tidak dibayar diganti dengan pidana penjara selama 1 bulan, potong tahanan sementara yang telah dijalani.

Majelis hakim diketuai Irwansyah P Sitorus menyatakan terdakwa bersalah melanggar pasal 112 (1) UU RI No 35/2009 tentang tanpa hak atau melawan hukum menguasai narkotika golongan 1 bukan tanaman.

"Telah terbukti bersalah melanggar pasal 112 (1) UU RI No 35/2009 tentang tanpa hak atau melawan hukum menguasai narkotika," kata hakim disidang PN Simalungun, Senin (1/8/2022).

Semula terdakwa dituntut selama 5 tahun 6 bulan. Denda Rp 1.415 Milyar, jika denda tak dibayar diganti pidana penjara selama 6 bulan oleh JPU Ester Lauren Harianja.

Sebelumnya, Budi sempat direhabilitasi oleh Polres Siantar sejak penangkapan pada Rabu, 23 Maret 2022. Setelah hampir 3 bulan direhabilitasi, ia ditahan JPU dan dititipkan di Lapas Siantar.

JPU tidak sepakat dengan status rehabilitasi yang dilakukan penyidik kepolisian. Dan terdakwa ditahan sejak perkaranya diserahkan ke jaksa pasca P-21.

Terdakwa terbukti memiliki 3 paket sabu seberat 0,68 gram. Sesuai fakta persidangan, narkotika jenis sabu tersebut diakui terdakwa milik temannya Singgih (DPO) yang berhasil melarikan diri saat dilakukan penggerebekan disalah satu rumah di jalan Senam Kelurahan Banjar pada Rabu, 23 Maret 2022, sekira pukul 21.00 wib.

Malam itu, saksi personil Polres Siantar From P Siahaan, David Nathanael, Diego Sitompul mendapat informasi dan menuju rumah dimaksud. Saksi melihat ada 3 orang berada dalam rumah, namun 2 orang berhasil kabur dan hanya berhasil mengamankan terdakwa Budi.

Dari atas karpet disita 3 paket sabu, yang diakui terdakwa milik Singgih. Ia hanya sempat menemani Singgih membeli sabu dari seseorang yang tidak dikenal di jalan Dahlia seharga Rp.150 ribu.

Terdakwa tidak mengetahui saat transaksi jual beli, karena ia disuruh Singgih menunggu di pinggir jalan.

Dalam persidangan itu terdakwa Budi didampingi pengacara Tommy Saragih dari Posbakum PN Siantar yang dihunjuk oleh hakim. Ia menyatakan menerima putusan tersebut.

Sedangkan jaksa masih menyatakan pikir-pikir.

"Pikir-pikir yang mulia," kata jaksa dalam persidangan siang itu di ruang Kartika PN Siantar yang digelar secara virtual.