HETANEWS.com - Seorang mantan teroris membuat film yang menceritakan kisah seorang petani kakao yang dipaksa menjadi kurir untuk kelompok militan di Sulawesi Tengah agar tetap bisa bekerja di kebunnya tanpa takut diserang.

Film berdurasi 20 menit yang didanai sendiri, menampilkan aktor-aktor amatir, akan dirilis terbatas pada bulan depan, bagian dari serangkaian film karya mantan anggota kelompok teroris Jemaah Islamiyah Arifudin Lako yang bertujuan untuk melawan penyebaran radikalisme di Poso.

Film yang berjudul “Kurir” bercerita tentang Iwan Gombo, seorang petani kakao yang terpaksa bersedia menjadi kurir untuk kelompok militan bersenjata Mujahidin Indonesia Timur (MIT) yang bergerilya di wilayah Poso dan sekitarnya. Jika menolak, ia tidak akan bisa bertani lagi bahkan kemungkinan dibunuh oleh kelompok yang telah berbaiat kepada ISIS itu.

“Film ini berdasarkan kisah nyata yang selama ini tidak terungkap di Poso,” kata Arifudin kepada BenarNews saat memulai wawancara di Poso akhir Juni lalu.

“Lewat film ini saya mengajak warga Poso khususnya dan warga Indonesia umumnya, untuk tidak mudah percaya dengan ajakan-ajakan kelompok tertentu yang mengarah ke radikalisme apa lagi yang mengatasnamakan agama,” ujarnya.

Kameramen Ferdiansyah Umar memegang kamera memperlihatkan adegan gambar terakhir dalam pembuatan film Kurir kepada aktor pendukung utama Perdiansyah alias Upik Pagar (kiri), aktor utama Iwan Gombo (kedua dari kanan), dan Sutradara film Arifudin Lako (kanan) seusai shooting di markas Rumah Katu di Mepanga, Poso, Sulawesi Tengah, 22 Juni 2022. [Keisyah Aprilia/BenarNews]

MIT, yang menurut polisi sekarang jumlahnya tinggal dua orang setelah anggota lain ditangkap atau dibunuh pasukan kemananan, sering menyambangi sawah dan kebun milik lelaki 29 tahun yang hidup berdua dengan ibunya di wilayah hutan pegunungan Poso itu.

Sebagai kurir, Iwan mendapat tugas memasok logistik berupa makanan dan minuman, mengisi daya ponsel, mengisi daya powerbank, serta mencari informasi keberadaan aparat TNI-Polri di perkampungan.

Arifudin, 43, sendiri adalah mantan narapidana terorisme dari kelompok Jemaah Islamiyah Poso yang pernah dipenjara setelah bersama beberapa temannya membunuh Ferry Silalahi, seorang jaksa di Kejaksaan Tinggi Sulteng di Palu, pada 26 Mei 2004.

Pada 13 Juli 2010, Pengadilan Negeri Palu menghukum Arifudin delapan tahun enam bulan penjara, namun dia hanya menjalani hukuman selama enam tahun dan empat bulan di lembaga pemasyarakatan Palu. Ketika bebas, pada akhir 2016, Arifudin bertekad untuk bertobat.

Kini bersama Komunitas Rumah Katu yang dinakhodai pemuda setempat dengan beragam latar belakang sosial, agama dan suku, dan didampingi seorang aktivis sekaligus peneliti terorisme pada Celebes Institute, Adriani Badrah, Arifudin mengajak warga mengampanyekan perdamaian guna menangkal penyebaran paham radikalisme di Poso.

Untuk mencapai tujuan tersebut ia menggunakan film sebagai medianya dan dia bekerja bersama beberapa mantan narapidana terorisme.

Proses pengambilan gambar terakhir film Kurir di Rumah Katu di Mepanga, Poso, Sulawesi Tengah, 22 Juni 2022. [Keisyah Aprilia/BenarNews]

Sebelum membuat film “Kurir” ini, Arifudin dan Komunitas Rumah Katu sudah memproduksi empat film: Senjata Rakitan, 2/3 Malam, Jalan Pulang dan Salamnya Salim.

“Semua film yang kami produksi saling berkaitan. Semuanya tentang terorisme yang bertujuan agar tidak ada lagi orang, khususnya anak Poso, menjadi bagian dalam kelompok teror,” ungkap Arifudin.

Dalam film kurir, Arifudin yang berperan sebagai sutradara dan Adriani Badrah sebagai produser yang mengumpulkan sembilan pemain dari pelbagai latar belakang.

Satu di antara mereka adalah mantan narapidana terorisme Poso, Supriyadi alias Upik Pagar, yang dalam film ini menjadi aktor pendukung yang memerankan pemimpin kelompok MIT.

“Film ini memang sengaja melibatkan eks napiter [mantan narapidana terorisme], mulai dari saya sendiri sebagai sutradara dan Upik sebagai aktor pendukung utama. Kenapa? Agar ceritanya bisa mengalir karena ada orang yang pernah terlibat aksi terorisme di dalam,” ungkap Arifudin.

Tokoh Iwan diperankan oleh Ali Gombo, mahasiswa semester akhir di Universitas Sintuwu Maroso di Poso.

Sosok Iwan dalam film tersebut menggambarkan salah satu kurir yang mendukung kegiatan teror MIT di Poso yang sejatinya bukan simpatisan kelompok itu, meskipun ada kurir asli yang betul-betul pengikut mereka, kata Arifudin.

Arifudin menambahkan bahwa kurir yang bukan simpatisan MIT ternyata lebih banyak, beberapa di antara mereka beragama Kristen dan Hindu.

“Warga yang bekerja sebagai petani dan pekebun itu dipaksa untuk menjadi kurir MIT. Ini fakta yang kami temukan di lapangan,” katanya.

“Itulah yang terjadi selama ini. Beberapa warga petani atau pekebun yang tewas di Poso dan Parigi Moutong awalnya kurir MIT. Karena mereka melawan, akhirnya dibunuh dengan keji oleh MIT,” ungkapnya.

Aktor pendukung utama lainnya, Supriyadi, bercerita awal diajak Arifudin untuk terlibat dalam film ini tahun lalu.

“Saya tidak mau ada lagi orang Poso atau orang mana pun di Indonesia yang terlibat dalam jaringan terorisme. Karena apa yang selama ini dilakukan jaringan itu salah dalam bentuk hukum maupun agama,” tegasnya saat ditemui di Poso, Juni lalu.

Supriyadi merupakan eks narapidana teroris Poso yang dua kali ditangkap, tahun 2007 dan 2012. Sebelum ditangkap untuk kedua kalinya pada 2012, Supriyadi sempat menjadi salah satu deklarator MIT yang kemudian dipimpin Santoso, kata Arifudin. Setelah dipenjara di Nusa Kambangan, Supriyadi bebas tahun 2015.

Santoso adalah pemimpim utama MIT yang tewas di tangan satgas gabungan Polri-TNI pada pertengahan 2016. Pada masa Santoso, keanggotaan MIT mencapai hingga sekitar 40 orang lebih termasuk warga Uighur dari China.

“Selama bergerilya di hutan pegunungan itu kami menjadikan warga sebagai kurir,” kata Arifudin.

“Tujuannya agar kami bisa terbantu mendapatkan suplai makanan dan minuman karena selama ada operasi pergerakan kami terbatas. Selain itu, adanya kurir juga bisa membantu kami menjauhi aparat yang mengejar.”

Supriyadi mengaku apa yang dilakukannya dalam film itu menggambarkan kenyataan sebenarnya terkait keberadaan MIT di Poso. Termasuk kurir yang membangkang yang harus tewas mengenaskan di tangan kelompok itu.

“Inilah yang terjadi di Poso, sehingga saya mau terlibat dalam film ini, karena fakta. Ini yang terjadi di Poso dan belum banyak orang tahu, bahwa ada kurir yang membantu MIT dan mereka bukan berdasarkan ideologi, melainkan karena keterpaksaan akibat takut dibunuh,” papar Supriyadi.

Dalam kenyataannya banyak petani “kurir” itu akhirnya tewas mengenaskan –dengan kepala dipenggal- yang menjadi ciri khas korban MIT yang ketuanya, Santoso, menjadi pimpinan militan pertama di Indonesia yang berbaiat pada kelompok ekstrim ISIS.

Produser film Kurir Adriani Badrah menjawab pertanyaan jurnalis BenarNews tentang film tersebut saat ditemui di Poso, Sulawesi Tengah, 24 Juni 2022. [Keisyah Aprilia/BenarNews]

Produser “Kurir” Adriani Badrah mengatakan film ini sebagai media komunikasi dan pendidikan kepada masyarakat.

“Film ini adalah salah satu cara menyinergikan kerja-kerja sebagai upaya pencegahan penyebaran paham radikalisme dan kekerasan berbasis agama,” paparnya kepada BenarNews di Poso.

Film ini juga melibatkan pemuda yang sehari-hari adalah guru, mahasiswa, pegawai pemerintah Kabupaten Poso dan wiraswasta, kata Adriani.

Selain itu, kata dia, film ini lokasi pengambilan gambarnya dipusatkan di Poso dan beberapa titik lokasi di antaranya masuk wilayah Madago Raya, operasi gabungan TNI dan Polri untuk memburu anggota MIT.

“Mengapa kami membuat film? Karena kelompok radikal saat ini sudah melakukan penyebaran paham melalui film. Oleh karena itu, bentuk untuk melawan penyebaran paham itu melalui visualisasi, yah dengan film inilah,” tegasnya.

Adriani mengaku meski tidak dapat dukungan dana dia tetap optimistis menggarap film ini.

“Tujuan kami pesan dalam film ini tersampaikan. Dan kami tidak pikirkan lagi soal bagaimana mendapatkan uang dalam produksi. Alhamdulillah semuanya berjalan dengan baik,” ujarnya.

Kameramen film "Kurir", Ferdiansyah Umar, mengatakan dalam memproduksi film, para kru menggunakan peralatan seadanya.

Bahkan, salah satu kamera, lensa, tripod, dan drone yang digunakan mengambil gambar merupakan barang pinjaman dari kerabat mereka.

“Meski dengan alat seadanya kami memaksimalkan sebaik mungkin hasilnya film ini. Dan yang paling penting, karena ini film pendek, semoga pesan dalam film ini bisa langsung diterima masyarakat,” terang Ferdiansyah.

Sejumlah pemain, kru, sutradara, dan produser film Kurir berfoto bersama seusai mengunjungi salah satu lokasi pengambilan gambar film Kurir di Poso, Sulawesi Tengah, 21 Juni 2022. [Keisyah Aprilia/BenarNews]

Harus dapat dukungan

Pengamat terorisme Sulteng Lukman S. Thahir mengatakan program deradikalisasi di Poso sudah berjalan dengan baik sehingga bisa membuat sejumlah eks napiter berubah menjadi lebih baik dan diterima kembali masyarakat.

“Iin [Arifudin] dan Supriyadi adalah contoh dari sebagian kecil eks napiter yang saat ini sudah kembali ke NKRI dan terus menggalakkan perlawanan kepada kelompok terorisme, oleh karena itu pergerakan positif mereka harus didukung,” kata Lukman kepada BenarNews saat ditemui di Palu, akhir Juni lalu.

Lukman menilai kampanye melawan paham radikalisme melalui film itu adalah langkah nyata dengan tiga aspek pendekatan yaitu agama, budaya, dan sosial.

Wakil Bupati Poso Yasin Mangun menilai apa yang dilakukan Komunitas Rumah Katu bersama Adriani Badrah patut diapresiasi.

“Kita tidak pungkiri memang masih ada saja kelompok-kelompok mengarah ke radikalisme di Poso. Namun dengan masifnya kampanye Iin bersama Adriani melalui filmnya, bisa membawa masyarakat Poso lebih mengerti dan tidak mudah bergabung dengan kelompok radikal,” ungkap Yasin kepada BenarNews.

Pemerintah Poso akan mengandeng Rumah Katu bersama Adriani untuk memutar film ini ke seluruh sekolah dan universitas yang ada di Poso, ujarnya.

“Tentu kami juga akan memfasilitasi semua kebutuhan teman-teman. Sehingga pesan yang ingin disampaikan dalam film bisa benar-benar menyentuh masyarakat khususnya anak-anak muda yang ada di sekolah tingkat SMA hingga perguruan tinggi,” tegas Yasin.

Sejauh ini, lanjutnya, pemerintah terus memberikan perhatian kepada para mantan napiter yang telah kembali bermasyarakat.

Namun, kata Yasin, terkait program deradikalisasi, pemerintah Poso hanya sebatas memonitor, karena yang lebih fokus dengan program tersebut di Poso adalah Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT).

“Untuk eks napiter kami fokus kepada peningkatan kesejahteraan atau jaminan hidup mereka saja, salah satunya dengan membukakan lapangan pekerjaan dan memberikan bantuan, seperti yang kami lakukan kepada keluarga pengikut MIT Basri dan memberikan bantuan, seperti yang kami lakukan kepada keluarga pengikut MIT Basri dan Ali Kalora,” pungkasnya merujuk pada dua mantan pimpinan MIT setelah tewasnya Santoso. Ali Kalora,” pungkasnya merujuk pada dua mantan pimpinan MIT setelah tewasnya Santoso.

Sumber: benarnews.org