JAKARTA, HETANEWS.com - Wacana legalisasi ganja untuk penggunaan medis kembali mencuat di Tanah Air. Sejumlah pihak, mulai dari anggota DPR hingga Wakil Presiden RI, KH Ma'ruf Amin, merespons wacana legalisasi ganja medis dan mendorong adanya kajian tentang ganja medis untuk pengobatan.

Menanggapi wacana ini, Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah sedang mengkaji untuk membuka akses penelitian terkait penggunaan ganja medis.

"Ganja sebentar lagi akan keluar regulasinya untuk research, bahwa dimanfaatkan untuk research," beber Budi saat berbincang dengan wartawan di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan.

Dalam kesempatan tersebut, Budi juga mengaitkan antara fungsi ganja dan morfin. Seperti yang diketahui, morfin masuk dalam golongan opium atau narkotik namun bisa digunakan untuk keperluan medis.

Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), dr Inggrid Tania, mengingatkan untuk mengkaji regulasi legalitas ganja medis secara ketat. Menurutnya ada dua risiko masalah yang berpeluang muncul, yaitu penyelundupan tanaman ganja dan penyalahgunaan ganja untuk tujuan rekreasi.

"Itu memang regulasinya harus seketat mungkin, jangan sampai ada peluang ganja digunakan untuk rekreasional. Agak sulit memang, karena perlu didahului oleh riset. Jadi kan harus ditanam dulu, apalagi jika produk yang memang ingin dihasilkan asli dari Indonesia. Sehingga misal dihasilkan produk ganja medis asli indonesia, jadi kan harus dimulai dari penanaman," jelas dr Inggrid pada detikcom, Rabu (29/6).

dr Inggrid meminta pemerintah untuk menutup peluang penyalahgunaan ganja dengan terus mengawasi jalannya regulasi di lapangan.

dr Inggrid Tania menjelaskan ganja medis digunakan dengan memanfaatkan kandungan cannabidiol (CBD) dan mereduksi atau menghilangkan delta-9 tetrahydrocannabinol (THC) dalam ganja yang bisa menyebabkan seseorang mabuk dan kecanduan.

"Yang dipakai untuk medis itu kandungan CBD-nya, dengan meminimalisir atau menghilangkan kandungan THC. Karena THC itu zat dalam ganja yang bisa bikin kecanduan, adiksi, atau 'fly' jadi tentu ini dihilangkan atau diminimalkan," ujarnya.

"Jadi ganja medis kita menyebutnya 'hem' ya, jadi biji diambil lalu diekstraksi CBD-nya tadi untuk riset dan penggunaan medis," sambungnya.

Menurut dr Inggrid, proses penelitian ganja medis sebelum digunakan untuk layanan kesehatan harus melewati beberapa tahapan. Tahapan ini difokuskan agar kandung CBD dalam ganja bisa dimanfaatkan untuk pengobatan.

"Nanti kan ditanam dulu, dipanen, pengeringan, ekstraksi, baru isolasi dari senyawa CBD," jelasnya.

sumber: detik.com