SIMALUNGUN, HETANEWS.com - Konversi atau alih fungsi lahan tanaman teh ke tanaman kelapa sawit berdampak negatif terhadap beberapa aspek yaitu kesempatan kerja (karena jumlah karyawan berkurang ketika pada jenis tanaman kelapa sawit), yang secara tragis adalah terhadap lingkungan, karena lokasi Perkebunantersebut pada DAS Hulu Asahan Toba. Hal tersebut disampaikan Robert Tua Siregar Ph.D Specialist Development Planning area.

Robert Tua Siregar mengatakan program konversi tanaman teh ke sawit di wilayah HGU Perkebunan Teh Sidamanik saat ini menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat Simalungun. Bahkan penolakan dan aksi-aksi dari masyarakat sudah disuarakan kepada pihak Pemkab Simalungun maupun kepada pihak PTPN IV.

"Perkebunan teh besar yang sekarang dimilik oleh Unit Usaha PT. Perkebunan Nusantara IV. Di kawasan wilayah Sidamanik ada beberapa daerah yang ditanami teh seperti Bah Butong, Bah Birong Ulu dan Toba Sari," ujarnya kepada media ini Kamis, (30/6/2022).

Lanjutnya, bercerita kalau masing- masing dari perkebunan ini menghasilkan kualitas yang sangat baik. Teh dari perkebunan Sidamanik memiliki kualitas yang baik dan jumlah yang lebih banyak begitu juga di Bahbutong dan Tobasari. Sebagian besar wilayah Sidamanik merupakan daerah dataran tinggi.

Masih kata Robert, Wilayah Sidamanik berikilim tropis memiliki suhu udara yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas (sedang) berkisar 24°C samapai dengan 26ºC dengan ketinggian berkisar 780 m diatas permukaan laut.

"Dengan kondisi ini sangat cocok untuk usaha perkebunan, seperti tanaman teh, kopi, dan kakao. Salah satu perkebunan yang berkembang sampai saat ini adalah perkebunan teh Sidamanaik. Keadaan iklim dan tanah yang subur menjadikan wilayah Sidamanik sebagai lahan perkebunan teh yang banyak di kenal masyarakat luas," jelasnya.

Kondisi ini tentunya pembuka perkebunan ini sudah melakukan kajian mendalam untuk jenis tanaman dan kesesuaian lahan pada DAS Hulu. Namun tidak stabilnya harga produksi teh mengakibatkan PTPN sejak Tahun 1992 melakukan program konversi tanaman teh menjadi kelapa sawit di sebagian daerah tanaman teh, kata Robert.

Masih kata, Kepala LPPM /Ketua Prodi Magister Ilmu Manajemen STIE Sultan Agung menjelaskan beberapa Perkebunan Di PTPN VII adalah Bah Birong Ulu, Bah Butong dan Marjandi keseluruhan lokasi tersebut berada pada DAS HULU Asahan Toba, sedangkan di Perkebunan Sidamanik dengan tuntutan dan analisis lingkungan tidak berhasil dilakukan Konversi sejak tahun 1996, hanya melakukan rehabilitasi terhadap tanaman teh di Sidamanik.

Dilihat dari Analisis Dampak Konversi atau alih fungsi lahan tanaman teh ke tanaman kelapa sawit berdampak negatif terhadap beberapa aspek yaitu kesempatan kerja (karena jumlah karyawan berkurang ketika pada jenis tanaman kelapa sawit), yang secara tragis adalah terhadap lingkungan, karena lokasi Perkebunantersebut pada DAS Hulu Asahan Toba.

"Kasus yang saat ini sudah jadi pembicaraan adalah di di PT Perkebunan Nusantara IV Marjandi. Konversi atau alih fungsi lahan tanaman teh ke tanaman kelapa sawit berdampak negatif terhadap tingkat pendapatan tenaga kerja karena terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara rata-rata pendapatan tenaga kerja sebelum dan sesudah konversi lahan tanaman teh ke tanaman kelapa sawit," jelasnya.

Masih kata Robert kalau Konversi atau alih fungsi lahan tanaman teh ke tanaman kelapa sawit beresiko kepada lingkungan.

"Jadi Kita tidak mau lagi terulang Perkebunan Marjandi Kedua di Sidamanik, tentu resiko lingkungan yang harus di pertahankan oleh semua pihak (Sumber artikel Tiodora Siringoringo Ramli)," ujarnya.

Lanjut, Ketua Forum DAS Asahan Toba Analisis konversi pada HGU dengan tanaman asal Tanaman Teh, tentu harus dijadikan pedoman oleh semua pihak KHUSUSNYA PIHAK PTPN IV untuk tidak melakukan konversi khususnya di DAS Hulu, jangan hanya karena alasan ekonomi kondisi lingkungan luluh lantak.

"Konversi merupakan perubahan dari satu sistem pengetahuan ke sistem yang lain. Konversi lahan atau alih fungsi lahan merupakan kegiatan perubahan penggunaan tanah dari suatu kegiatan yang menjadi kegiatan lainnya," jelasnya kepada media ini.

Faktor-faktor yang mempengaruhi alih fungsi lahan atau konversi lahan adalah faktor ekonomi, demografi, pendidikan, IPTEK, sosial dan politik, kelembagaan, instrumen hukum dan penegakannya, kata Robert.

"Untuk itu Mari kita jaga kondisi lingkungan kita untuk generasi kedepan, belajarlah dari Perkebunan Marjandi saat ini yang harus membayar mahal kondisi lingkungan di sekitarnya, tentu harus melakukan pemulihan lingkungan," ajaknya.

Robert Tua Siregar juga bercerita kepada media ini awal penanaman teh pertama kali di Sumatera Timur dilakukan di sebidang tanah percobaan di salah satu ondernaming Rimbun Hulu Deli pada tahun 1898, akan tetapi percobaan ini tidak memberikan harapan dan hasil yang baik, karena biaya pembukaan hutan jauh lebih mahal dibandingkan dengan hasil yang diharapkannya.

Kemudian penanaman dialihkan di perkebunan Tebing Tinggi didapat hasilnya cukup baik. Di wilayah Pematang Siantar penanaman teh lebih menunjukkan hasil ynag jauh lebih baik hal ini di karenakan kecocockan tanahnya. Pada tahun 1910, mulai dibangun perkebunan teh di daerah Simalungun, Sumatera Utara.

Perkebunan teh ini di buka pertama kali oleh Handles Vereningin Amsterdam (HVA) pada tahun 1924 di Sidamanik dan pada tahun 1926 didirikan pabrik pengolahan teh oleh perusahaan yang sama, dan sampai saat ini masih beroperasi. Sejak berdirinya sampai sekarang pengolahan kebun ini telah beberapa kali pindah tangan.