JAKARTA, HETANEWS.com - Ketua Umum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) bertemu Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Pertemuan keduanya terjadi ketika ibadah salat Jumat di Masjid Nurul Hidayah, Jalan Brawijaya, Jakarta, Jumat (24/6).

AHY terlihat menggunakan batik warna hitam dengan masker hitam. Sementara Ganjar menggunakan kemeja putih dan masker merah putih sambil menenteng sejadah.

Pada pertemuan singkat itu tidak disengaja. AHY bertanya kepada Ganjar hasil Rakernas II PDI Perjuangan.

"Lagi di sini?" tanya AHY kepada Ganjar dalam sebuah video.

"Kemarin lancar ya Rakernas," sambungnya.

"Iya Alhamdulillah Alhamdulillah," jawab Ganjar.

"Ngecamp dulu kita," kata Ganjar menceritakan tidur di Sekolah Partai PDIP selama penyelenggaraan Rakernas II.

Sementara itu, Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengatakan, pertemuan tidak sengaja terjadi saat keduanya akan melakukan ibadah salat Jumat.

"Pas lagi Jumatan bareng saja," kata Herzaky saat dikonfirmasi, Jumat (24/6).

Diketahui, Ganjar memang sedang berada di Jakarta sejak pekan lalu. Ia mengikuti rangkaian acara PDI Perjuangan di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta.

Pekan lalu Ganjar hadir dalam rapat koordinasi kepala daerah PDIP pada Kamis (16/6). Lalu berlanjut Rakernas II 21-23 Juni.

Tidak ada perbincangan khusus antara Ganjar dan AHY di Masjid Nurul Hidayah. Hanya dua orang tokoh yang tidak sengaja bertemu.

"Orang-orang baik bertemu di tempat yang baik," kata Herzaky.

Sebelumnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menegaskan, pihaknya membuka peluang kerjasama dengan partai manapun untuk Pemilu 2024. Kecuali dengan PKS dan Demokrat.

"Kalau dengan PKS tidak," kata Hasto di sela Sekolah Partai PDIP, Kamis (23/6).

Sama seperti dengan PKS, Hasto menegaskan, PDIP sulit untuk bekerjasama dengan Partai Demokrat. “Sebagai Sekjen memang tidak mudah untuk bekerjasama,” tegas dia.

Hasto menyebut, melihat sejarah kedua partai, maka koalisi akan sulit dilakukan. Apalagi, kultur pendukung PDIP sangat berbeda dengan Demokrat, menurutnya pendukung PDIP adala wong cilik dan berbeda dengan pendukung Demokrat.

"Koalisi harus melihat emosional bonding pendukung PDI, pendukung PDIP adalah rakyat wong cilik yang tidak suka berbahagia bentuk kamuflase politik. Rakyat itu apa adanya, rakyat yang bicara dengan bahasa rakyat, sehingga aspek-aspek historis itu tetap dilakukan," tegasnya.

Deputi Balitbang DPP Partai Demokrat Syahrial Nasution menyentil pernyataan Hasto yang mengatakan PDIP sulit berkoalisi dengan Demokrat. Dia menilai, pernyataan PDIP sulit dipahami sebagai sesama partai nasionalis.

"Sulit dipahami sebagai sesama partai nasionalis, PDIP menolak kerja sama dengan @PDemokrat untuk kepentingan bangsa," kata Syahrial Nasution dalam cuitan Twitternya, Jumat (24/6).

Menurutnya, hanya Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto alergi berkoalisi dengan Partai Demokrat. Dia lantas mengungkit kasus Harun Masiku yang kini masih misteri. "Hanya Hasto PDIP yang alergi. Mungkin karena kami sering tanya ke KPK, kapan Harun Masiku ditangkap?" ujar Syahrial.

Lebih lanjut, Syahrial mengatakan, pada masa kepemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) justru elite PDIP seperti Pramono Anung akrab dengan Demokrat. "Waktu Pak @SBYudhoyono, Pramono Anung dan BG akrab dengan Demokrat," kata Syahrial.

sumber: merdeka.com