SIANTAR, HETANEWS.com - Ivani Kooswara, jadi saksi dalam persidangan Kamis (23/6/2022) di Pengadilan Negeri Pematangsiantar atas tewasnya Stevan Theodore dengan cara yang sangat keji. Saksi merupakan istri korban yang melihat kejadian hanya dari rekaman cctv.

Korban tewas pada Sabtu, 2 Oktober 2021 sekira pukul 7.30 wib. di salah Gang Jalan Sutomo Siantar. Pelakunya adalah Ali, (58) seorang tunawisma yang sudah 3 tahun sering tidur di sekitar gang tersebut.

Saksi menyebutkan saat kejadian ia sedang berada dalam kamar bersama anaknya sehingga baru mengetahui setelah diberitahukan tetangganya. Ivana meyakinkan hakim jika suaminya tidak pernah menendang ataupun menyiram air kepada pelaku.

"Saya yakin suami saya tidak pernah menendang atau menyiram air. Meski tidak melihat tapi feeling saya sangat kuat," katanya menjawab pertanyaan hakim.

Diakuinya, jika merasa terganggu dengan keberadaan Ali disekitar tempat tinggalnya. Apalagi sejak Covid 2 tahun lalu, ia sering batuk dan membuang sampah dalam selokan. Tapi saksi tidak pernah menegur atau memperingatkan pelaku.

"Sudah sekitar 3 tahun dia ada disitu, memang kamu kuatir karena Covid, dia batuk batuk tapi saya tidak pernah berbicara atau menegurnya," kata Ivana disidang siang itu dipimpin hakim Nasfi Firdaus.

Atas kematian suaminya itu, saksi meminta agar pelaku Ali dihukum seberat-beratnya. Demi keadilan buat saya dan 2 anak saya, katanya sambil menitikkan air mata.

Tiga saksi yang turut dihadirkan, adik ipar korban dan 2 tetangganya. Para saksi pada pokoknya menerangkan, tewasnya Stevan Theodore menjadi viral dan sangat mengejutkan warga kota Siantar pada Sabtu, 2 Oktober 2021 sekira pukul 7.30 wib. 

Korban tewas dengan berlumuran darah akibat bagian kepala hancur karena pukulan besi yang dilakukan Ali. Setidaknya ada 13 kali pukulan, 5 kali saat korban berusaha melawan dan 8 kali saat korban sudah jatuh tak bergerak.          

Usai menghabisi korban dengan tongkat besi, Ali pergi meninggalkannya. Ia ditangkap 4 jam setelah kejadian di Jalan Gereja Siantar. Selain menyita sebuah tongkat besi, petugas juga menemukan uang Rp 7 juta milik Ali.

Menanggapi keterangan saksi, Ali mengaku tidak ingat ada memukul korban sampai mati. Tapi dia ingat uang yang ditunjukkan dalam persidangan siang itu. Sebagai tunawisma, ia bekerja memungut sampah dan diberi uang sebagai imbalan.

"Gak ingat ya memukul korban, tapi ingat iya punya uang. Bekerja untuk mendapatkan uang, ya," kata hakim

Dalam persidangan, Ali didampingi pengacara Erwin Purba dari Posbakum dan pengacara Ruth Purba dari LBH Siantar-Simalungun.        

Majelis hakim diketuai Nasfi Firdaus menunda persidangan hingga Kamis (30/6/2022) mendatang. Dengan agenda persidangan masih mendengarkan keterangan saksi.