MEDAN, HETANEWS.com - Hingga saat ini, peran beras dalam kehidupan warga Sumatra Utara belum mampu digantikan oleh komoditas lainnya. Bahkan, tingkat kebutuhan justru kian meningkat seiring pertambahan jumlah penduduk.

Menurut Pelaksana Tugas Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Pemprov Sumatra Utara Lusyantini, yang bisa dilakukan pemerintah daerah saat ini adalah mengampanyekan pengurangan konsumsi. Hal itu bertujuan agar ketergantungan masyarakat terhadap beras bisa berkurang.

"Untuk saat ini, penduduk Sumatra Utara belum dapat menggantikan beras sebagai bahan utama makanan dengan jenis bahan pokok lainnya. Namun mengurangi konsumsi terhadap beras terus disosialisasikan sebagai bentuk pengurangan ketergantungan," kata Lusy kepada Bisnis, Rabu (22/6/2022).

Saat ini, tingkat konsumsi beras warga Sumatra Utara tercatat 116 kilogram per kapita per tahun. Kondisi itu, menurut Lusy, mengalami penurunan dibanding tiga tahun sebelumnya. Yaitu sebanyak 119 kilogram per kapita per tahun.

Menurut Lusy, ketergantungan terhadap beras di Sumatra Utara masih tergolong tinggi. Namun, beberapa produk pangan olahan dapat dijadikan alternatif pengganti. Antara lain jagung, ubi kayu dan ubi jalar.

"Karena produk tersebut mengandung karbohidrat sebagai sumber energi," ujarnya.

Lusy mengatakan, kebutuhan beras di setiap daerah tergantung pada jumlah penduduknya. Namun secara umum, konsumsi beras setiap tahun mencapai 116 kilogram per kapita per tahun.

Pasokan beras di Sumatra Utara sejauh ini juga masih tergolong aman alias cukup. Ketersediaan beras melalui produksi padi di sejumlah daerah, kata Lusy, tergolong tinggi. Sehingga kebutuhan mampu dipenuhi setiap harinya.

Lebih lanjut, Lusy menjelaskan berbagai strategi yang ditempuh Pemprov Sumatra Utara untuk melakukan diversifikasi pangan. Antara lain dengan melakukan pembinaan masyarakat melalui kelompok wanita tani untuk mengolah bahan pangan lokal selain beras.

Pemprov Sumatra Utara juga melakukan sosialisasi secara masif melalui media cetak dan elektronik tentang manfaat berbagai macam aneka pangan lokal dan penganekaragaman konsumsi pangan.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong rumah tangga agar memanfaatkan area pekarangan rumah untuk pengembangan pangan lokal.

Berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatra Utara, luas panen padi Sumatra Utara tercatat 385,40 ribu hektare pada 2021 dengan produksi 2 juta ton Gabah Kering Giling (GKG).

Jika dikonversikan menjadi beras, maka produksi pada 2021 mencapai 1,15 juta ton. Luas panen padi Sumatra Utara pada tahun 2021 lalu tercatat mengalami penurunan seluas 3,19 ribu hektare atau 0,82 persen dibanding 2020, yaitu 388,59 ribu hektare.

Sejalan dengan data tersebut, produksi padi pada 2021 juga tercatat turun sebanyak 36,36 ribu ton GKG atau 1,78 persen dibanding 2020, yaitu 2,04 juta ton GKG.

Masih berdasar catatan BPS, produksi beras pada 2021 untuk konsumsi pangan penduduk mencapai 1,15 juta ton. Jumlah itu tercatat turun sebanyak 20,86 ribu ton atau 1,78 persen dibanding produksi beras 2020, yaitu sebanyak 1,17 juta ton.

"Secara budaya dan kebiasaan masyarakat, belum bisa lepas dari beras. Untuk kebutuhan gizi berupa karbohidrat, jagung, kentang dan roti bisa menjadi alternatif. Namun masyarakat belum siap," ujar Kepala BPS Sumatra Utara Nurul Hasanudin kepada Bisnis.

Menurut Pemimpin Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatra Utara Arif Mandu, pihaknya menyalurkan rata-rata 1.500 - 2.000 ton beras per bulan di Sumatra Utara.

Senada dengan Lusy dan Nurul, Arif juga tak menyangkal peran sentral beras yang belum mampu digantikan oleh komoditas pangan apapun di Sumatra Utara.

"Untuk Sumatra Utara masih bergantung pada beras. Tapi sebagai makanan pendamping ada ubi kayu, ubi jalar dan keladi. Beda dengan orang Maluku dan Papua, makanan pokoknya sagu dan umbi-umbian. Beras atau nasi sebagai pelengkap," katanya kepada Bisnis.

Sumber: bisnis.com