HETANEWS.com - Mantan Menteri Kesehatan Terawan kembali muncul di Komisi IX DPR RI. Terawan menjelaskan soal Vaksin Nusantara yang tengah dikembangkan.

Terawan hadir sebagai perwakilan Tim Vaksin Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto pada Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi IX DPR RI terkait Pengembangan Vaksin COVID-19 dalam negeri.

Saat ini Vaksin Nusantara masih uji klinis III. Perlu waktu untuk mendapatkan izin dari BPOM.

“Ya kita berdoa mudah mudahan ini bisa segera terealisasi untuk izin edar alat kesehatannya. Karena itu kan terkendala. Maka itu tadi dibicarakan di Panja Komisi IX,” jelas Terawan kepada pers di Gedung DPR, Senin (20/6).

Terawan berharap pihak berwenang dapat segera memberikan izin untuk uji klinis III hingga mencapai tahap produksi.

“Kalau bisa secepatnya. Target saya secepatnya, kan semua tergantung yang memberi izin, tergantung regulator Kementerian Kesehatan. Harapannya neng bisa bulan ini, bisa. Ya nek ndak bisa, bulan depan. Nek bulan depan ndak bisa, tahun depan,”

“Nah nek ndak bisa juga ya habis 2024. pokoknya kami sangat sangat sabar dan tahan pada aturan dan juga regulasi yang mereka buat. nah prinsipnya kalau bisa dipermudah kenapa dipersulit,” pungkasnya.

Soal Terapi Sel Dendritik

Sebenarnya soal vaksin Nusantara sudah ada keputusan bersama dari pemerintah. Yakni ia bersifat imunoterapi berbasis sel dendritik. Menkes, KSAD, dan Kepala BPOM, menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) terkait penelitian sel dendritik pada 19 April 2021.

MoU ini menyepakati penelitian berbasis sel dendritik di RSPAD Gatot Subroto, namun ditegaskan bukan lanjutan dari penelitian fase I vaksin Nusantara. Imunoterapi ini berfungsi untuk meningkatkan ketahanan individu terhadap virus COVID-19.

Riset imunoterapi sel dendritik ini menggandeng AIVITIA, perusahaan bioteknologi asal AS yang lebih dulu mengembangkan terapi sel dendritik untuk pengobatan kanker.

Imunoterapi sel dendritik bersifat personal alias tidak bisa digunakan massal sebagaimana halnya vaksin corona Sinovac dkk yang telah dipakai luas di Indonesia.

Sumber: kumparan.com