HETANEWS.com - Dalam sebuah studi baru, para peneliti yang dipimpin oleh University of Iowa mengumumkan penemuan dua spesies baru buaya purba yang berkeliaran di Afrika timur antara 18 juta dan 15 juta tahun yang lalu sebelum menghilang secara misterius.

Spesies yang disebut buaya kerdil raksasa itu memiliki keterkaitan dengan buaya kerdil modern yang saat ini ditemukan di Afrika tengah dan barat. Tapi tentu saja buaya kerdil raksasa purba itu jauh lebih besar daripada kerabat modern mereka.

Buaya kerdil raksasa purba memiliki panjang mencapai 3,6 meter dan kemungkinan besar merupakan salah satu ancaman paling ganas bagi hewan apa pun yang mereka temui.

"Ini adalah predator terbesar yang dihadapi nenek moyang kita," kata Christopher Brochu, profesor di Departemen Ilmu Bumi dan Lingkungan di Iowa dan penulis studi tersebut.

"Mereka adalah pemangsa oportunistik, sama seperti buaya saat ini. Akan sangat berbahaya bagi manusia purba jika pergi ke sungai untuk minum," jelasnya.

Seperti dikutip dari Phys, Jumat (17/6/2022) dua spesies baru buaya purba itu disebut Kinyang mabokoensis dan Kinyang tchernovi.  Mereka memiliki moncong pendek dan dalam serta gigi besar berbentuk kerucut.

Lubang hidung mereka agak terbuka ke atas dan ke depan, tidak lurus ke atas seperti pada buaya modern. Hewan tersebut menghabiskan sebagian besar waktu mereka di hutan, bukan di air, menunggu untuk menyergap mangsa.

"Mereka punya seringai lebar yang akan mengigit Anda begitu ada kesempatan," ungkap Brochu.

Buaya purba, Kinyang, tinggal di Lembah Celah Afrika Timur pada periode Miosen awal hingga pertengahan, yakni masa ketika wilayah itu sebagian besar diselimuti oleh hutan.

Ilustrasi buaya, salah satu hewan purba yang tidak mengalami banyak perubahan fisik. (SHUTTERSTOCK / Janos Rautonen)

Namun dengan berakhirnya periode yang disebut Optimum Iklim Miosen sekitar 15 juta tahun yang lalu, kedua spesies buaya purba tersebut tampaknya punah.

Mengapa buaya purba menghilang?

Brochu berpikir perubahan iklim menyebabkan berkurangnya curah hujan di wilayah tersebut. Penurunan curah hujan menyebabkan mundurnya hutan secara bertahap, yang menghasilkan padang rumput dan hutan sabana campuran.

Perubahan lanskap mempengaruhi Kinyang, yang menurut para peneliti mungkin lebih menyukai daerah berhutan untuk berburu dan bersarang.

"Hilangnya habitat mungkin telah mendorong perubahan besar pada buaya yang ditemukan di daerah tersebut," jelas Brochu.

Perubahan lingkungan itu juga yang kemudian dikaitkan dengan munculnya primata perkaki dua yang lebih besar dan memunculkan manusia modern.

Brochu mengakui apa yang menyebabkan Kinyang mati membutuhkan pengujian lebih lanjut, karena para peneliti tidak dapat menentukan dengan tepat kapan hewan tersebut punah.

Selain itu ada celah dalam catatan fosil antara Kinyang dan garis keturunan buaya lainnya yang muncul sekitar 7 juta tahun yang lalu, termasuk termasuk kerabat buaya Nil yang saat ini ditemukan di Kenya.

Dalam studi yang dipublikasikan di The Anatomical Record ini, Brochu memeriksa spesimen buaya purba selama beberapa kunjungan sejak 2007 ke Museum Nasional Kenya, di Nairobi, Afrika, untuk penelitiannya.

Sumber: kompas.com