SIANTAR, HETANEWS.com - Komisi Nasional Disabiltas (KND) RI, menggelar sarasehan dengan sejumlah perguruan tinggi swasta di Gedung Menza Universitas HKBP Nomensen (UHN), yang tertelak di Jalan Sangnaualuh, Kecamatan Siantar Timur, Kamis (15/6/2022).

Dalam kegiatan itu tampak hadir, WR I, WR III, para Ketua Lembaga, dan para Dekan di lingkungan Universitas HKBP Nommensen Siantar.

Sarasehan yang dilakukan tersebut bertujuan untuk mengetahui pemenuhan hak penyandang disabilitas di lingkungan Kampus. Bahkan KND sendiri memuji keanekaragaman di kampus UHN.

Dante Rigmalia selaku ketua Komnas Disabilitas, menyatakan bahwa kampus merdeka maupun kampus inklusif merupakan kampus yang memastikan bahwa setiap mahasiswa dapat menghadiri, mengikuti, berpartisipasi,dan berprestasi di kampus tanpa diskriminasi.

"Ini (kampus inklusif) merupakan proses memenuhi dan merespons terhadap keanekaragaman dan kebutuhan semua mahasiswa dan akan mengakibatkan perubahan dan modifikasi dalam isi, pendekatan, struktur dan strategi belajar,” ucap Dante dalam paparannya.

Menurutnya, masyarakat atau lingkungan yang baik (normal) ditandai dengan keragaman bukan keseragaman. Nah, Disabilitas salah satu hambatan paling serius dalam pendidikan.

Sementara itu, Rektor Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar yang diwakilkan oleh wakil Rektor IV Muktar Panjaitan mengatakan, perguruan tinggi harus punya tanggungjawab melayani mahasiswa tanpa diskriminasi.

"Perbedaan secara fisik tidak menjadi penghalang bagi perguruan tinggi untuk belajar bersama dan hidup berdampingan. Dilahirkan bukan pilihan. Manusia diciptakan Tuhan sama dan sederajat antara satu sama lain,” ujarnya.

Dalam masyarakat inklusif, prinsip kerjasama diutamakan daripada kompetitif. Dengan begitu, setiap orang maupun kelompok tertentu memiliki prestasi sesuai dengan kemampuan dan kondisinya masing-masing tanpa harus memunculkan sikap membanding-bandingkan satu dengan yang lain.

Hal senada juga disampaikan oleh Jonna Aman Damanik dan Rachmita Harahap juga bergantian menjelaskan keanekaragaman dalam masyarakat.

Menurut Jonna, paradigma (cara berpikir) menjadi hal penting merespons keberadaan disabilitas. Dalam kesempatan itu, Jonna juga memotivasi Jon Henri Saragih, selaku mahasiswa Nommensen yang merupakan penyandang disabilitas.

“Tolong jawab dengan jujur, apakah kampus Nommensen Siantar melayanimu dengan baik sebagaimana dengan mahasiswa lainnya? Apakah kamu merasa sendiri, dan pernah dibuli” tanya Jonna.

Hal itu pun direspon dengan baik oleh Jon Henri, dengan memuji keanekaragaman di UHN Siantar.

Kegiatan tersebut diakhiri dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Komisi Nasional Disabilitas dan Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar.