HETANEWS.com - Menjelang 10 bulan kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang, Jawa Barat terjadi, pihak keluarga berencanakan mengirim surat dan meminta perlindungan hukum Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. 

Hal ini beralasan karena sampai saat ini polisi belum memberikan progres signifikan terkait kasus pembunuhan yang menewaskan Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu. 

Surat ke Kapolri itu dimaksudkan agar kasus yang menggegerkan warga Jalancagak, Subang itu tidak dipetieskan. 

Rohman Hidayat, kuasa hukum suami dan ayah korban Yosef Hidayah, mengatakan, pihak keluarga hingga saat ini masih terus mempertanyakan perkembangan kasus tersebut. 

"Harusnya polisi menyampaikan kepada kami apa yang menjadi kendala. Jangan seolah mempetieskan kasus ini yang sudah hampir satu tahun tidak ada tindak lanjutnya," ujar Rohman Hidayat, saat dihubungi melalui sambungan telepon seperti dikutip dari Tribun Jabar (grup surya.co.id), Kamis (16/6/2022). 

"Saya sudah bicara ke Pak Yosep, kami mohon ke Kapolri supaya bertindak dalam kasus ini. Tolong jangan sampai kasus ini dipetieskan, tidak ada tindak lanjut kalau memang ada permasalahan tentu itu disampaikan dengan baik. Kami menunggu apapun progres dari pihak kepolisian," katanya. 

Selain berharap agar ada perkembangan dalam kasus yang merenggut nyawa istri dan anak dari kliennya, Rohman juga akna meminta perlindungan untuk Yosef.  

"Sesegera mungkin kami akan kirim surat ke Kapolri, kami akan memohon perlindungan hukum dan paling tidak, tidak terjadi fitnah berlangsung lama seolah Pak Yosep terkait perkara ini," ucapnya.

Sudah Didahului Kubu Danu

Sebelum kubu Yosef berencana menyurati Kapolri, kubu saksi Muhammad Ramdanu lebih dulu melakukannya. Bahkan Danu melalui kuasa hukumnya, Achmad Taufan Soedirjo juga mengirimkan surat ke Presiden Jokowi dan Kapolda Jabar. 

Achmad Taufan Soedirjo, mengatakan sirat itu dikirimkan setelah pihaknya melakukan analisis lengkap soal kasus pembunuhan Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu.

"Kami mengirimkan surat dengan tujuan dan harapan, semoga kasus ini segera bisa diungkap," kata Taufan dalam video yang diunggah di akun youtube Heri Susanto, Selasa (25/1/2022). 

Dalam surat ini, Taufan juga menyampaikan apresiasi dan dukungan kepada Presiden jokowi, Kapolri dan kapolda jabar yang telah saangat mengatensi perkara pembunuhan subang .

"Harapan kasus ini segera diungkap dengan waktu segera," katanya. 

Taufan juga berharap surat ini bisa menjadi semangat bagi kepolisian untuk bisa terus mengungkap kasus ini.

"Kami percaya kepolisian, bahwa kita mampu memberantas kejahatan ini dibantu dukungan dan doa masyarakat Indonesia," tukasnya. 

Sebelumnya, Taufan membantah jika surat pengaduan itu dilakukan karena pihak Danu sudah kebakaran jenggot karena Polda Jabar sudah merilis sketsa wajah pelaku pembunuh Tuti Suhartini dan Amalia Mustika Ratu. 

Menurut Taufan, kronologi dan analisa yang pihaknya buat sebagai laporan ke Presiden Jokowi, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Kapolda Jabar Irjen Suntana itu tak ada kaitannya dengan saksi-saksi.

"Analisa ini persepsi kami. TIdak ada pengaruhnya dengan saksi-saksi. Saksi-saksi sudah diperiksa dan didalami kepolisian. Itu hak dan otoritas kepolisian.  Kami sebagai praktisi hukum, punya analisa, investigasi dan kronologis yang kami buat," kata Taufan dikutip dari channel youtube Heri Susanto, Jumat (14/1/2022). 

Taufan lalu membocorkan sedikit isi laporan yang akan ditujukan ke presiden, kapolri dan kapolda.

Menurutnya, analisis yang akan dilaporkan ke presiden ini bukan terkait Danu, meskipun sebagai kuasa hukumnya dia berkeyakinan bahwa Danu bukan bagian dari pelaku pembunuhan ini. 

Dalam laporan yang ditujukan ke presiden ini akan memuat sejumlah analisa, dugaan dan analisa motif yang sudah dikaji bersama ahli. Dia berharap laporan ini bisa menjadi petunjuk polisi dalam mengungkap kasus ini. 

"Kalau enggak pun, tidak masalah. Intinya kami mendukung kepolisian dalam mengungkap perkara ini," katanya. 

Menurut Taufan, semua masyarakat bebas melaporkan apapun ke presiden, termasuk pihaknya.

"Bapak Jokowi itu Presiden Republik Indonesia, presiden kita semua, yang pilih juga rakyat.

(Laporan) ini hal biasa, sebagai bentuk dukungan kami ke inatitusi Polri dan pemerintah. agar kasus di subang segera terungkap dan tidak terjadi di lokasi lain," katanya. 

Taufan membantah jika laporan ini bentuk dekingan ke Danu. 

"Bukan berarti dengan laporan ini kami melidungi Danu. Hukum di Indonesia ini terbuka, transaparan. dll. TIdak ada beking-bekingan, kuat-kuatan, sok jagoan. Apalagi motto polri ini presisi," tegasnya. 

Menurutnya, kasus ini sudah terlalu lama, pihaknya terpanggil untuk apa yang diketahui dan dianalisis bersama ahli bisa digunakan sebagai petunjuk.

Apalagi, keluarga korban Tuti Suhartini juga menitipkan kepadanya agar perkara pembunuhan ini bisa segera terungkap.

Polisi Cuma Beri Harapan

Mimin Mintarsih, Yosef Hidayah dan Kombes Ibrahim Tompo mengungkapkan soal kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang. Ini kabar terbaru kasus subang! (youtube Liputan 6)

Sebelumnya, Kabid Humas Polda Jabar Kombes Ibrahim Tompo mengatakan, perkara ini memang belum menunjukkan titik terang. 

Terkait janji pengungkapan yang sebelumnya akan dilakukan di bulan ramadhan lalu, Ibrahim Tompo mengatakan pihaknya cuma bisa memberikan harapan.

"Memang kita cuma bisa memberikan harapan saja, tetapi itu bukan sebuah janji

"Terkait pengungkapan kasus, kita pengen cepat terungkap, namun dengan kendala yang ada kita belum bisa menyelesaikan dan tetap jadi utang bagi kita," katanya dikutip dari tayangan Buser yang diunggah di channel youtube Liputan 9, Jumat (27/5/2022).  

Dia berjanji jika kasus ini sudah terungkap pasti akan diinformasikan ke publik, 

"Penyidik sangat bekerja keras. Tidak berhenti update kejadian Sampai ada 216 alat bukti yang sudah terkumpul, ini termasuk banyak. Dan ada saksi 121 saksi yang di BAP maupun yang diinterogasi di lapangan Kita update terus, bilamana ada petunjuk kita telusuri," tegasnya. 

Mengenai hal ini, Kriminolog Universitas Indonesia Adrianus Maliala beranggapan justru lebih baik polisi belum merilis tersangka, daripada polisi menetapkan tersangka karena diburu dan dipaksa. 

"Itu bahaya juga," kata Adrianus dikutip dari tayangan Buser yang diunggah di channel youtube Liputan 9, Jumat (27/5/2022).  

Menurut Adrianus, kasus ini menarik karena korban dan kemungkinan pelaku bukan orang lain.

Bukan tanpa alasan Adrianus berpendapat demikian, karena menurutnya korban memiliki lingkungan pergaulan yang sebetulnya kecil, bukan pejabat, pengusaha besarserta bukan orang yang memiliki social hitam.

"Dengan kata lain, lingkungan pergaulannya terbatas. Dapat diduga pelaku pun orang-orang di sekitar korban saja," katanya.

Fakta lain yang memperkuat dugaan ini karena pelaku leluasa melakukan aksinya. 

"Pelaku menguasai betul situasi, kemungkinan pernah kesini. Kemungkinan dikenal korban juga sehingga dia sangat familier. Dia tahu di kanan kiri depan sangat sepi sehingga beranggapan tidak ada orang yang akan mendengar walaupun ada teriakan," ujar Adrianus. 

Menurut Adrianus, waktu enam jam yang dipakai pelaku memungkinkan dia bisa melakukan banyak hal dalam rangka menghilangkan jejak barang bukti. 

Dari keleluasaan itu sangat memungkinkan juga jika ada dugaan korban sempat dibawa dengan mobil lalu masuk lagi. 

Lalu kenapa kalau korban bukan orang lain, polisi kesulitan menemukan link antara korban dan pelaku?

Menurut Adrianus, kondisi ini justru yang membuat menarik kasus ini.  Karena biasanya kesulitan itu dialami ketika pelakunya random seperti orang yang kebetulan lewat atau musuh korban. 

"Tapi di sini korban hanya ibu rumah tangga baik-baik yang sederhana. Demikian juga anaknya juga tidak memiliki pergaulan yang luas sehingga bisa dipastikan pelaku bukan orang jauh-jauh sebetulnya," katanya.

Kalau sampai sekarang polisi belum menemukan tersangka, Adrianus menduga penyebabnya karena kualitas pemeriksaan dokter forensik dalam rangka memperkirakan penyebab kematian, kapan dan hal lain yang tidak baik sehingga korban harus diotopsi ulang. Bahkan, otopsi kedua ini menganulir pendapat dari otopsi pertama. 

"Itu saja bisa memperlambat lho, tadinya polisi berkesimpulan A, gara-gara kesimpulan matinya ternyata, terpaksa berubah," katanya. 

Selain itu, saat pertama polisi datang ke TKP juga penanganannya agak jorok.

"Yang datang siapa saja, semaunya, megang-megang, masuk, ngacak-ngacak sehingga tIdak jelas mana jejak pembunuh dan jejak polisi," katanya. 

Mungkinkan pelaku seorang profesional? 

Menurut Adrianus di kasus ini bisa saja tidak dilakukan oleh profesional.  Profesional dapat ditutupi dengan perencanaan yang matang, sekaligus punya waktu yang panjang dan waktu mengenal situasi sehingga dia bisa berbuat sepeti seorang profesional.

"Dia tidak pernah membunuh dan tidak punya riwayat itu, tapi karena merencanakan secara matang, apalagi mengenal lokasi, kenal korban, dan punya waktu yang cukup untuk melakukan sesuatu, sehingga itu bisa berbuat seperti laiknya profesional," tandasnya. 

Sumber: tribunnews.com