HETANEWS.com - Indonesia merupakan negara dengan masyarakat yang multietnis dan multiagama. Beberapa tahun terakhir isu-isu intoleransi mulai kembali mencuat di Indonesia, terutama intoleransi antar agama.

Oleh karena itu, salah satu tim yang tergabung dalam Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (kelas 14) dari Universitas Sumatera Utara yang terdiri dari: William Diharjo, Gilbert Owen, Vela Vetiana, Putri Delima Sari,dan Indriani Pratiwi dengan dosen pengampu Onan Marakali S. Sos, MSi melakukan mini riset tentang “Perbedaan Perjuangan Pemuda Indonesia Dalam Mencegah Intoleransi Pada Zaman Sebelum Kemerdekaan Dengan Zaman Millenial.”

Dalam masyarakat dengan suku, budaya dan agama yang majemuk, tidak jarang ditemukan adanya intoleransi baik itu antar suku, maupun antar agama. Sebelum membahas lebih lanjut mungkin lebih baik kita pahami terlebih dahulu pengertian dari Toleransi dan Intoleransi.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Toleransi berasal dari kata toleran yang berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri, sedangkan arti dari kata intoleransi adalah ketiadaan tenggang rasa, dengan kata lain “Intoleransi” adalah lawan kata dari “Toleransi”.

Survey dilakukan kepada masyarakat dengan usia 18 tahun ke atas dengan menanyakan pendapat masing-masing responden mengenai keadaan intoleransi/toleransi di Indonesia dan kira-kira solusi apa yang harus dilakukan untuk mencegah intoleransi di Indonesia.

Hasil analisis data dari kami adalah tidak dipungkiri bahwa intoleransi di Indonesia masih tersisa dan mungkin masih berkembang, hal ini dapat menjadi tantangan bagi pemerintah dan rakyat Indonesia karena intoleransi yang berkembang dapat memicu perpecahan yang lebih besar dari dalam negeri sendiri.

Penyebaran hoax yang dapat memicu terjadinya adu domba antar suku, ras, dan agama juga cukup berpengaruh besar dalam menciptakan intoleransi di Indonesia.

Oleh karena itu selain masyarakat di Indonesia harus melek dalam media dan tidak mudah terpengaruh/terprovokasi , selain itu media online seperti berita-berita juga harus turut membantu dalam memberantas berita-berita hoax/tidak benar.

Edukasi tentang keberagaman suku, ras dan agama juga perlu ditingkatkan bukan hanya melalui edukasi (Pendidikan PKN) saja, melainkan juga harus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari dan ditanamkan kepada anak-anak sedini mungkin. Orang dewasa juga harus menjadi contoh individu yang toleran dikarenakan anak-anak akan meniru orang tuanya.

Masalah intoleransi di Indonesia yang masih berkembang menjadi tantangan bagi seluruh masyarakat di Indonesia. Pemerintah dan masyarakat perlu menjalin kerjasama dalam memberantas intoleransi di Indonesia.

Tantangan intoleransi juga menjadi tantangan bagi para insan pendidik di Indonesia agar nilai-nilai Pancasila benar-benar diamalkan oleh anak didik, serta bagaimana agar generasi-generasi penerus Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh adu domba dan berita bohong yang mudah tersebar di Indonesia.

William Diharjo, Mahasiswa S1 Akuntansi Universitas Sumatera Utara