SIANTAR, HETANEWS.com - Pengacara Erni Harefa dan rekan meminta agar terdakwa Tumiar br Sihombing (50) dilepaskan dari segala tuntutan hukum. Alasannya, perbuatan yang dilakukan terdakwa bukanlah merupakan tindak pidana melainkan perdata.

Nota pembelaan (pledoi) tersebut sudah dibacakan pengacara Alexander Harefa dan Ruth Sitanggang dalam sidang yang digelar, Senin (23/5/2022). 

"Kami minta klien kami dilepaskan dari tuntutan hukum, karena perkara tersebut Onslagh, bukan pidana melainkan perdata," kata Erni kepada hetanews.com Selasa (24/5) saat ditemui di Pengadilan Negeri Simalungun.

Sebelumnya, terdakwa Tumiar dituntut 3 tahun penjara potong tahanan sementara yang telah dijalani oleh jaksa Ester Lauren.

"Klien kami tersebut dipersalahkan melanggar pasal 378 KUH Pidana tentang penipuan," sebut Erni.

Perbuatan itu dilakukan terdakwa pada 21 September 2018 -12 Juni 2019 di Jalan Desa Indah Kelurahan Setia Negara Kecamatan Siantar Sitalasari.

Terdakwa yang masih bertetangga dengan saksi korban Kasmo CH Sihombing menawarkan sebuah rumah yang akan dijual seharga Rp.170 juta.

Saat itu Terdakwa mengatakan jika rumah tersebut adalah miliknya yang terpaksa dijual karena untuk biaya perobatan suaminya. Saksi korban tidak berminat dan menolaknya. 

Namun terdakwa terus memaksa hingga saksi Adrian B Hutagalung (istri korban) membujuk suaminya.

Karena merasa kasihan melihat suaminya yang sedang sakit. Lalu korban Kasmo Sihombing memberikan panjat Rp 50 juta dilengkapi dengan bukti kwitansi.

Saksi korban merasa curiga, ketika terdakwa dan suaminya tidak hadir di kantor notaris saat akan membuat surat akte jual beli.

Hingga akhirnya suami terdakwa bernama Luther Lumban Tobing meninggal dunia.

Lalu terdakwa meminta korban agar memberikan uang Rp.20 juta untuk membantu biaya pemakaman suaminya. Uang tersebut diberikan korban dengan saksi Binsar Lumban Tobing (Keluarga terdakwa).

Usai pemakaman dan habis masa berduka, korban bermaksud akan melunasi pembayaran. Tapi faktanya rumah tersebut tidak akan dijual.

Bahkan surat keterangan ahli waris yang ditunjukkan terdakwa adalah palsu.

Hal itu diketahui korban dari saksi Binsar Lumban Tobing, saksi Eva Dona Tobing, saksi Juli Hamas Lumban Tobing.

Akibatnya, korban mengalami kerugian hingga Rp 70 juta karena terdakwa tidak mengembalikan uang tersebut. 

Persidangan dipimpin hakim Irwansyah P Sitorus SH MH, Rahmat Hasibuan dan Renni P Ambarita menunda persidangan hingga Senin mendatang memberi kesempatan jaksa untuk menanggapi pledoi tersebut.