JAKARTA, HETANEWS.com - Nisa Sri Wahyuni, anak dari seorang satpam berhasil menembus Inggris melanjutkan studi magister di Imperial College London, United Kingdom (UK) setelah gagal tujuh kali mendapatkan beasiswa.

Di kampus top 10 dunia itu, Nisa mengambil jurusan Epidemiologi melalui beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Latar belakang keluarganya yang amat sederhana tak membuat Nisa kecil hati.

Perempuan yang kini berusia 26 tahun terus berusaha keras untuk belajar dan menggapai asa meskipun kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan.

Berharap bisa hidup lebih baik, orang tua Nisa merantau sejak masih muda dari Jawa Timur ke Jakarta. Ayahnya, Sukatno berasal dari Pacitan dan ibunya, Sunarsih dari Nganjuk.

Keduanya ingin anak-anaknya bisa sekolah lebih baik dibanding mereka yang hanya lulusan Sekolah Dasar (SD). Di Jakarta, Sunarsih bekerja sebagai asisten rumah tangga.

Saat Nisa kecil hingga usia 13 tahun, Nisa dan keluarganya tinggal menumpang di rumah tempat ibunya bekerja. Sedangkan ayah Nisa kala itu bekerja sebagai petugas kebersihan di salah satu sekolah swasta. Setelah beberapa tahun,

Ayahnya kemudian menjadi satpam di sekolah tersebut dan juga sopir ojek online.Sejak duduk di bangku SD, Nisa merupakan anak yang rajin. Saban kali pulang sekolah, Nisa selalu mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan oleh gurunya.

Setiap kali sedang belajar, Nisa bisa berada berjam-jam di kamar yang dipenuhi dengan kertas dan buku-buku yang dia pelajari. Dia juga selalu masuk peringkat 10 besar di sekolah.

“Orang tua aku bukan tipe yang menuntut, tapi aku termotivasi melihat bagaimana orang tuaku bekerja keras,” ujarnya kepada Tempo.

Kegigihan membawa Nisa bisa melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Mulanya, dia sempat bimbang untuk melanjutkan sekolah. Ayahnya berpesan jika Nisa ingin kuliah, dia harus bisa mendapatkan beasiswa.

Penghasilan orang tuanya tak cukup jika Nisa harus sekolah tanpa sokongan dana. Apalagi, kala itu Nisa berkeinginan untuk masuk jurusan Kedokteran. Pada 2013, Nisa pun akhirnya berhasil masuk Universitas Indonesia jurusan Kesehatan Masyarakat.

Dia mengganti jurusan kuliahnya menjadi Kesehatan Masyarakat karena khawatir tak bisa menyelesaikan sekolah lantaran biaya sekolah Kedokteran yang mahal.

Di UI, Nisa masuk melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri berbekal nilai rapornya yang cemerlang. Dia juga mendapatkan beasiswa Bidikmisi, bantuan biaya pendidikan untuk mahasiswa berprestasi yang kurang mampu.

Belajar Otodidak Sedari Kecil

Begitu masuk menjadi mahasiwa UI, Nisa berkeinginan untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Untuk menyandang gelar mahasiswa berprestasi (mapres) tidaklah mudah.

Selain harus memiliki nilai akademik yang bagus, juga harus memiliki kemampuan lain seperti public speaking dan bahasa Inggris yang baik.

“Senior-seniorku yang menjadi mapres itu jago bahasa Inggris dan banyak yang melanjutkan sekolah di luar negeri. Sedangkan aku sejak sekolah enggak suka bahasa Inggris,” katanya.

Sejak duduk di bangku SD, Nisa kurang menyukai pelajaran bahasa Inggris. Ketika awal masuk UI, skor TOEFL, ujian kemampuan berbahasa Inggris Nisa hanya 350. Nilai itu terbilang rendah.

Dia juga sempat kesulitan ketika salah satu dosennya kerap memberikan artikel dalam bahasa Inggris. Namun, karena tekad Nisa yang kuat untuk menjadi mahasiswa berprestasi, Nisa kemudian mulai belajar bahasa Inggris dengan tekun.

Nisa belajar secara otodidak. Dia belajar sendiri dari berbagai media dan sumber yang bisa dia manfaatkan tanpa perlu merogoh kocek. Sejak sekolah dia tak pernah mengambil les karena biayanya yang mahal.

Maka itu Nisa mulai membiasakan diri untuk menonton film, membaca buku atau jurnal bahasa Inggris serta menerjemahkan musik yang dia dengarkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Selain itu, Nisa juga berusaha membiasakan dirinya mengikuti berbagai kegiatan dan konferensi internasional. Sejumlah lomba menulis dalam bahasa Inggris juga Nisa ikuti.

Sebetulnya Nisa sempat mengambil les, namun tak lama. Menurut dia, hal itu kurang begitu efektif. Dia merasa kemampuannya lebih terimprovisasi justru dengan berbagai kegiatan yang dia lakukan sendiri.

“Aku memaksa diriku untuk belajar dengan hal yang aku suka misalnya dengan nonton film dan mendengarkan musik dalam bahasa Inggris,” ujarnya.

Gigih Raih Mahasiswa Berprestasi

Ketika mengikuti konferensi internasional di luar negeri, Nisa sempat mengalami kesulitan. Dia mengatakan pernah keliru berbicara bahasa Inggris yang mengakibatkan makna berbeda.

Meski begitu, Nisa tak patah arang dan selalu mencoba mengasah dirinya untuk terus belajar. Hingga akhirnya, Nisa pun dinobatkan sebagai mahasiswa berprestasi UI pada 2016. Nisa mendapat IPK dengan predikat cumlaude.

Selama di kampus, dia juga aktif diberbagai kegiatan seperti membantu penelitian dan menjadi asisten dosen. Nisa juga sempat mengisi waktu luang dengan memberikan les privat untuk anak SD. Nisa berhasil lulus UI dalam waktu 3,5 tahun pada Februari 2017.

Sebelum lulus, dia sudah berkeinginan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri. Dia pun mulai meriset mengenai sekolah di luar negeri hingga beasiswa.

Keinginan untuk langsung melanjutkan sekolah sempat tertunda karena begitu lulus Nisa langsung mendapat kerja di salah satu rumah sakit sebagai staf peneliti selama satu tahun. Selama bekerja, Nisa mematangkan diri untuk mengejar beasiswa.

Dia mulai berlatih kemampuan bahasa Inggris berbekal buku ielts Cambridge. Sepanjang perjalanan dari rumah Nisa di Jakarta Selatan menuju Jakarta Pusat tempat dia bekerja, Nisa manfaatkan untuk belajar dan mengerjakan soal.

“Ketika di bus aku kerjakan yang bisa kerjakan seperti dengerin berita bahasa Inggris dan mengerjakan soal-soal,” ujarnya.

Selain memperdalam bahasa Inggris, Nisa juga meriset kampus mana yang terbaik untuknya meneruskan S2. Dia berkeinginan untuk mengambil jurusan Epidemiologi di Imperial College London.

Kampus itu dia pilih karena termasuk kampus top ten dunia dan juga jurusan Epidemiologi di sana terbilang baik.

Tujuh Kali Gagal Raih Beasiswa

Dia pun mencoba berbagai seleksi beasiswa untuk membiayai sekolahnya. Tujuh beasiswa yang dia coba, tak ada satu pun yang lolos.

Sejak 2017, Nisa sudah mengikuti seleksi beasiswa mulai dari yang pertama LPDP, Chevening, USAID, New Zealand scholarship, Mangkubusho, University of Tokyo scholarships dan Australia Awards Scholarships.

Meski gagal berkali-kali, Nisa tetap berusaha dan gigih mencoba untuk meraih mimpinya. Nisa kembali mendaftar beasiswa LPDP pada 2018 dan akhirnya dia dinyatakan lolos.

Namun, meski lolos beasiswa, Nisa masih harus memperbaiki skor ielts. Syarat skor bahasa Inggris untuk masuk di kampus idamannya harus 7. Berkali-kali tes ielts, skor Nisa hanya 6,5. Nilainya belum cukup untuk syarat masuk kampus.

Nisa pun sempat bingung dan khawatir tak diterima di kampus. Namun, dia kembali membaca aturan kampus dan menemukan satu pasal bahwa jika ada kekurangan dari syarat dimungkinkan adanya pengecualian apabila memiliki kontribusi di bidang terkait.

Nisa memanfaatkan peluang itu. Nisa memiliki kontribusi di bidang kesehatan yang membantu program kanker di Indonesia saat dia bekerja. Berbekal kontribusi itulah yang akhirnya membawa Nisa bisa masuk Imperial College London pada 2019.

Raih Mimpi Bekerja di Organisasi Kesehatan Internasional

Jatuh bangun perjuangan Nisa meraih mimpinya terbayar. Dia berhasil meraih dari satu mimpi ke mimpi lainnya. Selesai studi S2 di London pada 2020, Nisa melamar di salah satu lembaga kesehatan internasional dan dinyatakan diterima.

Nisa kembali ke Indonesia dan bekerja di organisasi tersebut dengan penempatan kerja di wilayah Banten, Jakarta Barat.

“Dulu aku memang memiliki cita-cita untuk masuk organisasi ini dan alhamdulillah tak lama setelah aku lulus dan mengikuti serangkaian seleksi, aku dinyatakan diterima,” ujarnya.

Nisa berpesan agar para pelajar jangan takut bermimpi dan berjuang meraih mimpi sekalipun berasal bukan dari keluarga yang tak memiliki privilege.

“Aku sebut ini connecting the dots, menggapai dari satu mimpi ke mimpi yang lain. Jadi jangan pernah menyerah untuk meraih mimpi,” ujarnya.

Sumber: tempo.co