HETANEWS.com - Seorang tentara Rusia berusia 21 tahun mengaku bersalah atas pembunuhan seorang warga sipil tak bersenjata di Ukraina. Dia menyampaikan pernyataan itu dalam pengadilan kejahatan perang pada Rabu (18/5/2022).

Vadim Shishimarin mengaku telah menembak seorang pria berusia 62 tahun beberapa hari setelah invasi dimulai. Dia kini menghadapi kemungkinan hukuman penjara seumur hidup di Ukraina.

Pada awal Mei, pihak berwenang Ukraina mengumumkan penangkapannya tanpa memberikan keterangan. Ukraina kemudian merilis sebuah rekaman yang memperlihatkan Shishimarin mengaku berperang demi mendukung ibunya secara finansial.

Dengan tangan diborgol dan diapit oleh penjaga bersenjata lengkap, Shishimarin dibawa ke ruang sidang kecil di Kiev. Shishimarin, yang mengenakan hoodie berwarna abu-abu dan biru, duduk di dalam kotak kaca terdakwa.

Vadim Shishimarin (21), tentara Rusia yang diduga melanggar hukum dan norma perang, tiba untuk sidang pengadilan di Kyiv, Ukraina, Jumat (13/5/2022). Foto: Viacheslav Ratynskyi/REUTERS

Istri dari pria yang ia bunuh duduk hanya beberapa meter darinya. Wanita itu menyeka air mata dan duduk dengan tangan tergenggam saat jaksa membacakan kasusnya. Pengadilan menggambarkan situasi saat suami Kateryna, Oleksandr Shelipov, ditembak di kepala.

Tentara Rusia yang tampak muda itu terlihat gugup dan mengarahkan pandangannya ke lantai saat jaksa membacakan dakwaan terhadapnya dalam bahasa Ukraina. Seorang penerjemah lalu menyampaikan dakwaan itu untuknya dalam bahasa Rusia.

Jaksa mengatakan, Shishimarin sedang memimpin sebuah unit di divisi tank ketika konvoinya diserang. Dia dan empat tentara lainnya lantas mencuri sebuah mobil. Saat berkendara di dekat Chupakhivka, mereka bertemu dengan Shelipov yang tengah mengendarai sepeda.

Vadim Shishimarin (21), tentara Rusia yang diduga melanggar hukum dan norma perang terlihat di dalam ruang terdakwa saat sidang pengadilan di Kyiv, Ukraina, Kamis (18/5/2022). Foto: Vladyslav Musiienko/Reuters

Shishimarin diperintahkan untuk membunuh warga sipil itu. Dia lalu menembakkan senapan Kalashnikov dari jendela kendaraan. Pria itu tewas seketika, hanya beberapa puluh meter dari rumahnya

"Saya diperintahkan untuk menembak, saya menembaknya sekali. Dia jatuh dan kami melanjutkan perjalanan," kata Shishimarin, dikutip dari BBC, Kamis (19/5/2022).

"Apakah kamu menerima kesalahanmu?" tanya hakim.

"Ya," jawab Shishimarin.

"Sepenuhnya?" lanjut hakim.

"Ya," jawabnya dengan pelan.

Persidangan Shishimarin ditunda tak lama setelah ia mengaku bersalah. Sidang berikutnya dalam kasus ini akan berlangsung pada Kamis (19/5/2022) di ruang sidang yang lebih besar.

Jaksa Andriy Sinyuk mengatakan, dua saksi—termasuk salah satu tentara Rusia yang bersama Shishimarin pada saat kejadian—akan dibawa untuk bersaksi di pengadilan. Senjata tentara juga akan diperiksa sebagai bagian dari penyelidikan.

Istri Oleksandr mengatakan, dia sedang berusaha untuk menguatkan diri dalam mengahadapi hal ini. Ia pun merasa kasihan pada pemuda asal wilayah Siberia Irkutsk itu, tetapi mengaku tak dapat memaafkannya.

"Saya merasa sangat kasihan padanya (Shishimarin). Tapi untuk kejahatan seperti itu, saya tidak bisa memaafkannya," ujar Kateryna.

Seorang perwakilan dari korban Kateryna Shelikhova menghadiri sidang pengadilan atas Vadim Shishimarin (21), tentara Rusia yang diduga melanggar hukum dan norma perang saat sidang pengadilan di Kyiv, Ukraina, Kamis (18/5/2022). Foto: Vladyslav Musiienko/Reuters

Persidangan Sishimarin akan segera diikuti oleh kasus-kasus lainnya. Dua prajurit Rusia akan diadili pula mulai Kamis (19/5/2022). Mereka menghadapi tuduhan menembakkan roket ke infrastruktur sipil di wilayah timur laut Kharkiv.

Sejauh ini, Ukraina telah mengidentifikasi lebih dari 10.000 kemungkinan kejahatan perang yang dilakukan oleh Rusia. Ukraina berjanji akan mengadili semua tersangka dari ribuan kasus ini.

"Kami memiliki lebih dari 11.000 kasus kejahatan perang yang sedang berlangsung dan sudah 40 tersangka," cuit Kepala Jaksa Ukraina, Iryna Venediktova.

"Dengan persidangan pertama ini, kami mengirimkan sinyal yang jelas bahwa setiap pelaku, setiap orang yang memerintahkan atau membantu melakukan kejahatan di Ukraina tidak akan menghindari tanggung jawab," sambungnya.

Kremlin mengatakan, pihaknya tidak diberitahu tentang kasus tersebut. Kemampuan Moskow untuk memberikan bantuan di sana dikatakan sangat terbatas karena kurangnya misi diplomatik.

Hingga kini, Rusia membantah tudingan bahwa pasukannya menargetkan warga sipil di Ukraina. Namun, para penyelidik telah mengumpulkan bukti kemungkinan kejahatan perang untuk dibawa ke Pengadilan Kriminal Internasional (ICC) di Den Haag.

Pekan ini, ICC mengirim tim yang terdiri dari 42 penyelidik, ahli forensik, dan staf pendukung ke Ukraina. Sementara itu, Ukraina juga telah membentuk tim untuk menyimpan bukti yang memungkinkan penuntutan di masa mendatang.

Sumber: kumparan.com