HETANEWS.com - Di tengah ancaman COVID-19 yang belum usai dan kehadiran kasus hepatitis akut misterius yang belum diketahui sebab musababnya, muncul sebuah virus Hendra varian baru (HeV-g2).

Ia diketahui mampu menular ke manusia menjadi sebuah zoonosis. Hasil temuan sudah dipublikasikan di jurnal Emerging Infectious Disease.

Varian ini terdeteksi dari urine atau air seni kalong jenis kepala hitam dan kepala abu-abu. Virus pertama kali ditemukan di Australia, tepatnya di New South Wales hingga Quessland bagian tenggara.

“Studi kami mengungkapkan bahwa risiko virus Hendra pada kuda dan pengasuhnya (manusia)."

- Dr. Alison Peel, peneliti dari Pusat Kesehatan dan Keamanan Pangan, seperti dikutip dari laman Griffith University

Apa itu virus Hendra?

Virus Hendra termasuk dalam keluarga Paramyxoviridae. Virus ini diisolasi pertama kali pada 1994 di wilayah Hendra, pinggiran Brisbane, Australia.

Jenis virus ini ditularkan dari kalong atau kelelawar pemakan buah dari genus Pteropus, yang kemudian ditemukan telah menginfeksi kuda di wilayah tersebut.

Kuda poni di Shetland, Skotlandia. Foto: ADRIAN DENNIS / AFP

Varian baru virus Hendra diketahui dari pemeriksaan sampel kuda yang terinfeksi dan mati pada 2015. Infeksi varian baru ini pun dideteksi pada Oktober 2021 dari seekor kuda yang mati di New South Wales.

“Bukti langsung HeV-g2 ditemukan dalam sampel urine yang diambil dari kalong, satu dari kalong kepala abu-abu betina yang masih remaja, dan lainnya dari kalong kepala hitam jantan dewasa,” kata Peel.

Virus Hendra akan berkembang dengan baik pada tubuh inangnya, kalong, tanpa menimbulkan kondisi sakit. Sedangkan pada kuda yang kontak dengan dua jenis kalong itu, tingkat infeksi virus ini 65 kali lebih besar.

Varian HeV-g2 terdeteksi di semua musim, tetapi dominan pada bulan yang cenderung dingin, antara akhir Mei hingga akhir Agustus.

- Dr. Alison Peel, peneliti dari Pusat Kesehatan dan Keamanan Pangan -

Kasus dan gejala infeksi virus Hendra

Berdasarkan laporan Badan Kesehatan Dunia (WHO), infeksi virus Hendra pada manusia ditemukan ada tujuh orang. Bahkan, empat dari tujuh kasus tersebut dilaporkan meninggal.

Gejala pada manusia saat terinfeksi virus jenis ini serupa dengan gejala penyakit pernapasan berat. Beberapa laporan studi menyebutkan, infeksi virus Hendra dapat menimbulkan gangguan neurologis hingga encephalitis (radang otak).

Para ilmuwan menangkap pemindaian dari otak seorang pria lansia yang tiba-tiba meninggal dunia. Foto: Shutterstock

Meski telah ditemukan kasus pada manusia, virus ini tidak dapat ditransmisikan dari manusia ke manusia. Berdasarkan kasus yang telah ada, virus ini hanya ditularkan dari kuda yang telah terinfeksi kepada pemiliknya.

Sementara pada kuda yang terinfeksi virus ini menunjukkan gejala pembengkakan pada bagian muka, leher dan bibir, mengalami infeksi pernapasan seperti ingusan bahkan bisa disertai darah, radang otak, hingga kematian.

Peel menjelaskan, informasi temuan varian baru virus Hendra dapat menjadi dalam mengambil langkah guna mempertimbangkan risiko infeksi pada kuda maupun manusia. Hal mudah yang dapat dilakukan menurutnya adalah vaksinasi kuda untuk meminimalisasi tertular virus ini.

“Orang-orang di daerah itu (New South Wales dan Queesland tenggara), perlu menyadari sekarang ada potensi yang sama besar bagi kuda mereka,” lanjut Peel.

Sumber: kumparan.com