HETANEWS.com - Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) mengungkapkan kemelut harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit belum menemui titik terang. Harganya masih anjlok, jauh di bawah harga yang ditentukan pemerintah.

Sekretaris Jenderal SPKS, Mansuetus Darto, menduga masih banyak praktik menyimpang oleh pihak pabrik kelapa sawit (PKS) dalam jual beli TBS ini. Dia menduga, penetapan harga TBS sawit saat ini tidak lagi merujuk pada harga internasional.

"Yang berlaku adalah harga nasional. Dugaan ini tidak lepas dari fakta sebelumnya bahwa pabrik kelapa sawit tidak mematuhi harga yang ditetapkan oleh Pemerintah," ujarnya melalui keterangan resmi, Jumat (13/5).

Dia pun mencontohkan penetapan harga TBS sawit Provinsi Riau untuk periode 11-18 Mei 2022, telah terjadi penurunan harga sebesar Rp 972,29 per kg menjadi Rp 2.947,58 per kg untuk sawit umur 10 - 20 tahun.

Padahal sebelumnya, Mansuetus menjelaskan, pada periode 27 April - 10 Mei 2022, harga TBS kelapa sawit umur 10-20 tahun di Riau ditetapkan Rp 3.919,87 per kg

"Gejolak harga TBS yang terjadi saat ini membuat petani panik dan mempengaruhi ekonomi keluarga petani. Praktik yang ditemui di lapangan, terjadi antrean yang panjang dan lama untuk pengiriman TBS dari petani swadaya," tuturnya.

Mansuetus mengatakan, penurunan harga TBS kelapa sawit di tingkat petani ini menjadi tanda tanya besar, seperti apa dasar atau rumus yang digunakan untuk menetapkan harga TBS sawit saat ini. Di sisi lain, harga CPO dan kernel tidak ada penurunan, bahkan melonjak tinggi.

"Karena jika dibandingkan dengan Malaysia, harga TBS di sana tidak turun, masih di harga sekitar Rp 5.000 per kg," ungkapnya.

Ironisnya lagi, Mansuetus menegaskan bahwa usai larangan ekspor CPO dan produk turunannya berlaku, banyak PKS tidak menerima TBS kelapa sawit produksi petani. Mereka lebih mengutamakan suplai TBS dari kebun inti dan kebun plasma mitra.

Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. Foto: ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan

Dia mencontohkan, kesulitan yang dihadapi petani sawit di Kabupaten Kuantan Singingi. Perusahaan Wilmar melalui anak perusahaannya PT Citra yang memiliki 3 PKS sampai saat ini masih tutup.

Sama halnya dengan kondisi di Sumatera dan Kalimantan Barat. Lanjut Mansuetus, kondisi ini berpengaruh terhadap penurunan harga TBS sawit secara drastis berkisar antara Rp 1.600-1.750 per kg.

"Ketergantungan petani sawit kepada korporasi kelapa sawit sangat akut, petani sawit belum mempunyai pabrik pengelolaan kelapa sawit, seperti industri pengolahan menjadi CPO hingga minyak goreng. Hulu hilir kelapa sawit hanya dikuasai segelintir orang kuat," tegasnya.

Dia pun meminta pemerintah segera mengambil tindakan hukum yang tegas kepada PKS atau perusahaan dari tingkat trader, grower hingga producer yang ikut andil dalam menentukan harga TBS kelapa sawit secara sepihak.

Selain itu, serikat petani juga meminta pemerintah segera memberikan kebijakan yang tepat untuk melindungi petani sawit dari harga input produksi yang tinggi, seperti harga pupuk, pestisida dan herbisida yang tiap hari naik secara drastis.

"Sampai saat ini belum ada penjelasan dari pemerintah mengenai naiknya harga pupuk, yang terjadi hampir setiap hari. Sebagai contoh di Riau, kenaikan harga pupuk di tingkat petani kelapa sawit bisa mencapai 150 persen," imbuhnya.

Sumber: kumparan.com